Pasuruan, 12 Desember 2025 – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan memberikan “kuliah politik” kelas berat kepada para mahasiswa dalam pembukaan Darul Arqam Dasar (DAD) ke-8 PC IMM Pasuruan Raya. Ketua PDM, Ustaz Dr. H. Abu Nasir, M.Ag., tidak berbicara tentang normatif organisasi, melainkan membongkar rumus Kekuasaan dan Integritas.
Di hadapan peserta dan tamu undangan di Hall SMK Mutu, Abu Nasir menegaskan bahwa kader Muhammadiyah tidak boleh menjadi sosok pelengkap penderita. Ia memperkenalkan teori “Trilogi Pemberdayaan”: Eksistensi, Aktualisasi, dan Alokasi.
Rumus ‘Eksis Dulu, Baru Dapat Jatah’
Dengan gaya retorika yang tajam, Abu Nasir membongkar realitas pragmatis dalam berorganisasi. Menurutnya, kader yang tidak punya integritas tidak akan pernah mendapatkan “panggung” atau anggaran.
“Kalau Anda ingin berdaya, ingin punya integritas, maka satu: Eksistensi (keberadaan). Dua: Aktualisasi. Tiga: Alokasi. Anda menjadi orang yang berintegritas, selalu dicari, dan diminta untuk ada,” tegasnya.
Ia menjelaskan logikanya sederhana: Jika kader mampu menunjukkan Eksistensi (hadir dan nyata) dan melakukan Aktualisasi (memberi kontribusi pemikiran/karya), maka otomatis ia akan mendapatkan Alokasi (tempat, jabatan, hingga anggaran).
“Kalau sudah aktualisasi diri, maka pastilah kita akan dapat alokasi. Kesempatan bicara, kesempatan melakukan ini, termasuk kesempatan mendapatkan anggaran,” imbuhnya.
Filosofi Fikih Organisasi: Jangan Jadi Kader ‘Makruh’
Pernyataan paling menohok muncul ketika Abu Nasir menggunakan terminologi fikih untuk menilai kualitas kader. Ia mewanti-wanti agar kader IMM tidak menjadi sosok yang kehadirannya bernilai Mubah (ada atau tidak ada, sama saja) atau bahkan Makruh (kehadirannya justru merusak suasana).
“Jangan jadi orang yang kehadirannya itu ‘mubah’. Orang yang kehadiran mubah itu podo karo (sama dengan) wong teko gak teko, gak ngaruh, blas,” sindirnya.
Ia menuntut kader IMM Pasuruan Raya untuk naik kelas menjadi sosok yang Sunnah (dibutuhkan) atau bahkan Wajib (harus ada, jika tidak ada maka sistem macet).
Kader Organik: Tuan Rumah di Amal Usaha Sendiri
Abu Nasir juga menekankan pentingnya “Kader Organik”—mereka yang lahir dan ditempa asli dari rahim perkaderan Muhammadiyah (IPM, IMM, Pemuda)—untuk memimpin Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Ia tidak ingin AUM dipimpin oleh orang luar yang tidak paham ideologi.
“Hampir semua AUM kita terutama pendidikan, itu dipimpin langsung oleh kader-kader kita yang berangkat dari perkaderan organik. Bukan orang-orang lain,” ujarnya bangga, menunjuk Kepala SMK Mutu sebagai contoh nyata.
Tantangan Jaket Merah: Siapa Berani S3?
Menutup orasi intelektualnya, Abu Nasir menantang para peserta DAD untuk tidak puas hanya dengan gelar sarjana. Ia memamerkan rekam jejak akademisnya sebagai pembuktian bahwa aktivis juga harus unggul secara otak.
“Saya punya jaket merah (almamater) ini tiga. S1, S2, S3… Saya tantang kalian siapa yang bisa meneruskan sampai S3?” tantangnya yang disambut tepuk tangan peserta.
Baginya, jaket merah almamater bukan sekadar kain, melainkan simbol perlawanan terhadap kebodohan dan bukti bahwa kader Muhammadiyah mampu menjadi pemimpin par excellence di masa depan.














Tantangan yg mencerahkan, semangat IMM smg jd penerus di persyarikatan.