- Bertindak sebagai Imam dan Khatib di Masjid Al Hidayah Wironini, Ustadz Moslem Errifai memaparkan khutbah mendalam bertajuk “Bukti Makrifat Cinta” yang mengupas tuntas hakikat kesuksesan hidup seorang mukmin.
Momentum tanggal 15 Rabiul Awal 1448 Hijriah ini dijadikan refleksi penting bagi umat untuk meluruskan orientasi hidup di tengah gelombang materialisme global. Ustadz Moslem Errifai menegaskan bahwa cinta hamba kepada Sang Pencipta (makrifat cinta) tidak cukup hanya diikrarkan secara emosional, melainkan harus dibuktikan melalui integritas moral dan orientasi amal yang lurus.
Dekonstruksi Definisi Sukses: Antara Dunia dan Kepompong Akhirat
Dalam pemaparannya di atas mimbar, Ustadz Moslem Errifai menyoroti kekeliruan pandangan sebagian masyarakat yang mengukur kesuksesan semata dari akumulasi harta kekayaan, jabatan tinggi, atau popularitas duniawi. Padahal, Islam memandang kesuksesan secara holistik dengan menempatkan kehidupan akhirat sebagai muara utama.
Landasan teologis ini bersandar langsung pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Qasas ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77)Berdasarkan ayat tersebut, terdapat empat pilar arsitektur kesuksesan muslim yang disampaikan:
- Orientasi Akhirat: Menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan kekal dan menjadikan seluruh karunia dunia sebagai sarana mendulang pahala.
- Proporsionalitas Duniawi: Menikmati kenikmatan dunia yang halal tanpa sikap berlebihan (israf) dan kesombongan, serta memposisikan dunia sebagai ladang amal.
- Semangat Berbuat Baik (Ihsan): Menebar kebajikan kepada sesama makhluk sebagai wujud kecintaan kepada Allah SWT.
- Sterilisasi dari Kerusakan (Al-Fasad): Menjaga tatanan sosial, lingkungan, dan moral dari segala bentuk kezaliman serta kemudaratan.
Manifestasi Makrifat Cinta dan Etika Sosial Tanpa Mudarat
Lebih lanjut, Ustadz Moslem Errifai mengaitkan tema cinta kepada Allah dengan tanggung jawab sosial kemasyarakatan. Kecintaan yang tuntas menuntut setiap mukmin untuk menjadi agen kedamaian, bukan penebar kerusakan.
Peringatan ini diperkuat dengan merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW riwayat Ibnu Majah mengenai prinsip hukum interaksi sosial: “La dharara wa la dhirar” — tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain, baik secara sengaja maupun tidak disengaja. Segala bentuk kezaliman, penindasan, hingga pengabaian nilai-nilai kemanusiaan merupakan antitesis dari makrifat cinta itu sendiri.
Penutup: Meniti Jalan Muttaqin
Rangkaian ibadah Jumat yang diwarnai lantunan ayat suci dan doa khusyuk ditutup dengan harapan agar seluruh jamaah senantiasa berada dalam naungan petunjuk Allah SWT. Kesuksesan sejati adalah ketika seorang hamba mampu menutup usianya dengan husnul khatimah, selamat dari azab api neraka, dan sukses meraih ridha-Nya di dunia maupun akhirat.
Editor: Marjoko







