• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik
  • Cerpen

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Lukisan Raden Saleh Bukan Sekadar Seni, Tapi Senjata Politik Melawan Belanda!

Marjoko oleh Marjoko
9 bulan yang lalu
in Opini
0
2 Syawal: silaturahmi yang menjebak, perundingan yang menangkap / Lukisan Raden Saleh

2 Syawal: silaturahmi yang menjebak, perundingan yang menangkap / Lukisan Raden Saleh

11
SHARES
25
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya Raden Saleh bukan sekadar gambar sejarah, melainkan sebuah pernyataan politik yang cerdas dan berani. Sebagai seorang pelukis terkemuka di Nusantara pada era kolonial, Raden Saleh berhasil menciptakan karya yang tidak hanya memukau secara visual tetapi juga penuh dengan pesan tersembunyi yang menggugah. Melalui analisis formal, naratif, dan konteks sejarah, kita dapat melihat bagaimana lukisan ini menjadi bentuk perlawanan halus terhadap penjajahan Belanda.

Secara formal, lukisan ini memamerkan keahlian teknis Raden Saleh yang luar biasa. Dengan menggunakan cat minyak di atas kanvas berukuran 112 x 178 cm, ia menghadirkan detail yang memukau, dari seragam prajurit hingga ekspresi wajah setiap karakter. Komposisi lukisan dirancang sedemikian rupa sehingga Pangeran Diponegoro menjadi titik fokus utama. Cahaya yang menyorot dari kiri mengarah langsung pada sang pangeran, seolah menyimbolkan harapan dan keteguhan dalam kegelapan. Ini adalah strategi visual yang cerdas untuk menegaskan bahwa Diponegoro adalah tokoh sentral, bukan sekadar tawanan.

Naratif yang dibangun Raden Saleh dalam lukisan ini juga patut diperhatikan. Berbeda dengan lukisan Nicolaas Pieneman, yang menggambarkan Diponegoro sebagai tawanan yang pasrah, Raden Saleh menghadirkan sang pangeran dengan sikap menantang. Dagunya terangkat, tangannya terkepal, dan matanya penuh dengan tekad. Ini adalah representasi yang jauh lebih heroik dan bermartabat. Bahkan, gestur Jenderal De Kock dalam lukisan Raden Saleh terlihat lebih seperti mempersilakan daripada memerintah, seolah mengakui bahwa Diponegoro adalah lawan yang sepadan.

Simbol-simbol dalam lukisan ini juga sarat makna. Lampu yang sejajar dengan Diponegoro menyiratkan kebijaksanaan dan kecerdasan, sementara kepala besar para petinggi Belanda bisa ditafsirkan sebagai simbol kesombongan dan arogansi. Yang paling menarik adalah kehadiran tiga self-portrait Raden Saleh sebagai pengikut Diponegoro. Ini bukan hanya tanda bahwa ia terlibat secara emosional dalam peristiwa tersebut, tetapi juga cara halus untuk menyatakan solidaritasnya dengan perjuangan rakyat Jawa.

Related Post

2 Syawal: silaturahmi yang menjebak, perundingan yang menangkap / Lukisan Raden Saleh

2 Syawal, Ajang Silaturahmi yang Menjebak Pangeran Diponegoro

23 Maret 2026

Namun, yang paling provokatif adalah konteks sejarah di balik pembuatan lukisan ini. Raden Saleh, sebagai seorang yang dekat dengan Belanda, menghadiahkan karya ini kepada Raja Belanda. Pada pandangan pertama, ini mungkin terlihat seperti pengakuan atas kekuasaan kolonial. Namun, jika dilihat lebih dalam, lukisan ini justru menjadi alat untuk mengkritik Belanda secara halus. Raden Saleh menggunakan bahasa seni yang elegan untuk menyampaikan pesan bahwa penangkapan Diponegoro bukanlah kemenangan mulia, melainkan sebuah pengkhianatan.

Lukisan ini juga mengingatkan kita bahwa nasionalisme tidak selalu harus diungkapkan dengan teriakan atau kekerasan. Raden Saleh, sebagai seorang seniman, memilih untuk melawan dengan kuas dan kanvas. Ia membuktikan bahwa seni bisa menjadi senjata yang ampuh untuk mengubah narasi dan mempengaruhi persepsi. Dalam konteks ini, “Penangkapan Pangeran Diponegoro” bukan hanya lukisan, melainkan sebuah manifesto perlawanan.

Dalam dunia yang penuh dengan konten instan dan viral, karya Raden Saleh mengajarkan kita untuk lebih menghargai kedalaman dan makna. Ia mengajak kita untuk tidak hanya melihat seni sebagai hiburan, tetapi sebagai cerminan sejarah, identitas, dan perlawanan. Lukisan ini adalah bukti bahwa bahkan dalam keadaan terjajah, suara kebenaran dan keadilan tidak pernah bisa sepenuhnya dibungkam.

Jadi, lain kali kita melihat sebuah karya seni, mari kita tidak hanya berfokus pada keindahan visualnya, tetapi juga pada pesan dan konteks di baliknya. Seperti yang Raden Saleh tunjukkan, seni bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi juga tentang apa yang tersirat.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: Pangen Diponegororaden saleh
Share4Tweet3Share1
Marjoko

Marjoko

Seorang pecinta tulisan, pengulik desain grafis, and Good Daddy and Hubby in every universe.

Related Posts

2 Syawal: silaturahmi yang menjebak, perundingan yang menangkap / Lukisan Raden Saleh
Sejarah

2 Syawal, Ajang Silaturahmi yang Menjebak Pangeran Diponegoro

oleh Marjoko
23 Maret 2026
Next Post

SD Al Kautsar Pasuruan Kembali Cetak Prestasi Gemilang, 87 Siswa Lolos Babak Semi Final KSNR 7 dan mengikuti lomba ke Tingkat Jawa Timur

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ilustrasi Hutan Wakaf Muhammadiyah/Generate by AI

Muhammadiyah akan Bangun Hutan di Lahan Wakaf, Lengkap dengan Vegetasi dan Laboratorium Ekologi

14 Mei 2026
Prestasi membanggakan SD Al Kautsar dalam Ujian TKA 2025–2026, wujud generasi islami, berkarakter, dan berprestasi. (Ilustrasi: pasmu.id)

Siswa SD Al Kautsar Tunjukkan Hasil Terbaik di Ujian TKA

29 Mei 2026
Pekerja rehab Masjid Darul Arqom kaget temukan sarang tawon di lubang kubah kecil, lalu lapor takmir hingga BPBD diterjunkan/Foto Agus pasmu.id

Proyek Rehab Masjid Darul Arqom Terganggu, Pekerja Temukan Sarang Tawon Raksasa di Lubang Kubah Kecil

17 Mei 2026
Iduladha yang disertai pelaksanaan khutbah oleh para khatib di berbagai titik wilayah Kota Pasuruan/Ilustrasi AI

Catat 6 Lokasi Sholat Idul Adha di Kota Pasuruan dan Imbauan Penting Ini!

18 Mei 2026
Istri shalihah bukan sekadar pendamping, melainkan benteng yang menggagalkan tipu daya setan. (Ilustrasi: shutterstock.com)

Istri Shalihah, Benteng Rumah Tangga dari Tipu Daya Setan

1 Juni 2026
1 Juni bukan sekadar sejarah; Pancasila adalah kompas persatuan yang menjaga Indonesia tetap utuh. (Ilustrasi: AI)

Juni Bukan Sekadar Juni, Hari Lahir Pancasila yang Penuh Makna dan Misteri Sejarah

1 Juni 2026
Islam membuktikan bahwa iman, sains, dan teknologi dapat tumbuh bersama membangun peradaban manusia. (ilustrasi: shutterstock.com)

Islam dan Dunia Material: Agama yang Tak Pernah Memisahkan Iman dari Peradaban

1 Juni 2026
Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa generasi hebat lahir dari doa dan ikhtiar berkelanjutan nyata. (foto: Marjoko/pasmu.id)

Dr. Taufiqullah, M.Pd.I. Paparkan Pola Asuh Nabi Ibrahim AS dalam Pengajian Ahad Pagi Masjid Al-Ukhuwah

31 Mei 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan