Ada pola yang berulang dalam sejarah manusia, ketika ancaman masih jauh, ia jadi bahan candaan. Ketika ancaman itu tiba dan menyentuh ekonomi kita, barulah kita menyadari bahwa realitas tidak pernah punya selera humor.
Kita pernah mengalaminya di awal pandemi. Saat kabar tentang virus dari Wuhan mulai ramai, lini masa dipenuhi optimisme khas nusantara: “Orang sini makan bakso mercon saja kuat, masa kalah sama virus?”. Di balik gurauan itu terselip keyakinan implisit bahwa Indonesia memiliki semacam kekebalan metafisik, entah karena cuaca tropis yang katanya bersahabat, doa doa yang dianggap tembus langit, atau sekadar rasa percaya diri kolektif yang terlalu tebal untuk ditembus partikel mikroskopis. Kita membangun narasi bahwa virus itu mungkin ganas di luar sana, tapi akan jinak begitu menghirup udara khatulistiwa.
Beberapa minggu kemudian, virus itu benar-benar tiba. Dan mendadak dunia yang tadinya penuh meme berubah jadi grafik kasus harian, rumah sakit penuh, ekonomi tersengal, pegawai dirumahkan, dan kata “social distancing” jadi istilah sehari-hari. Candaan hilang, diganti kecemasan. Realitas membuktikan satu hal sederhana, rasa kebal tidak sama dengan kebal sungguhan.
Pola yang sama kini terasa saat isu perang global menghangat. Ketegangan di Timur Tengah, konflik bersenjata di berbagai kawasan, serta rivalitas kekuatan besar membuat istilah “Perang Dunia III” kembali berseliweran. Respons warganet? Kurang lebih sama, “Jangan perang dulu, THR belum cair.” “Kalau perang, kita siap dengan senjata MBG.” “Dunia perang, besok tetap masuk kerja, kejar deadline.”
Humor memang mekanisme bertahan. Dalam psikologi, ia disebut sebagai coping mechanism, cara pikiran meredam kecemasan dengan membungkusnya dalam tawa. Itu tidak salah. Tapi ada perbedaan tipis antara humor sebagai katup tekanan dan humor sebagai bentuk penyangkalan.
Masalahnya bukan pada meme. Masalahnya pada ilusi bahwa ancaman global akan selalu berhenti di pagar imigrasi. Seolah-olah geopolitik punya aturan sopan santun, jangan ganggu Indonesia, karena warganya lagi santai.
Kalau pandemi mengajarkan sesuatu, itu adalah betapa terhubungnya dunia. Virus yang muncul ribuan kilometer jauhnya bisa melumpuhkan ekonomi lokal. Maka perang, yang dampaknya jauh lebih kompleks, mustahil tidak memiliki efek domino. Gangguan pasokan energi, lonjakan harga pangan, volatilitas pasar, krisis keuangan, bahkan potensi konflik regional. Kita mungkin tidak jadi medan tempur, tetapi tetap bisa menjadi korban tak langsung.
Di sisi lain, ada dimensi religius yang ikut mewarnai percakapan publik. Sebagian orang melihat eskalasi konflik sebagai bagian dari narasi akhir zaman. Hadis tentang 70.000 Yahudi dari Isfahan yang mengikuti Dajjal kerap kembali diangkat setiap kali ketegangan melibatkan Iran dan Israel. Isfahan, kota tua di Iran, memang memiliki komunitas Yahudi kuno yang jejaknya sudah ada sejak berabad-abad silam. Lalu ketika muncul berita tentang mobilisasi puluhan ribu pasukan oleh Benjamin Netanyahu dalam konteks rivalitas dengan Iran, sebagian orang tergoda menarik garis lurus, angka ketemu angka, lokasi ketemu lokasi, maka dianggaplah nubuatan sedang berjalan persis seperti teks.
Hadis yang sering dikutip itu berbunyi: “Dajjal akan diikuti oleh 70.000 orang Yahudi dari Ashfahan (Isfahan), mereka memakai thayalisah.” Narasi ini terdengar spesifik, angka jelas, kota disebut, bahkan ciri pakaian digambarkan. Di sinilah daya pikatnya. Ia memberi kesan konkret, seakan-akan peta geopolitik modern sudah tertulis rapi 14 abad lalu.
Namun pertanyaannya menjadi lebih serius: bagaimana kalau hadis itu benar-benar terjadi?
Ada dua respons yang biasanya muncul. Pertama, respons fatalistik: jika semua sudah ditakdirkan, maka apa pun yang terjadi adalah bagian dari skenario besar yang tak bisa diubah. Sikap ini cenderung melahirkan pasivitas—cukup menunggu, cukup mengamati, cukup membenarkan setiap peristiwa sebagai “tanda.” Kedua, respons reflektif: jika itu benar, maka justru dibutuhkan kesiapan moral dan spiritual yang lebih matang, bukan sekadar sensasi numerik dan euforia cocoklogi.
Kedua, konflik geopolitik hari ini lahir dari variabel politik, ekonomi, ideologi, dan kepentingan strategis yang sangat konkret. Ia tidak bergerak hanya karena satu nubuatan. Menyandarkan seluruh dinamika pada satu teks justru bisa membuat kita kehilangan kemampuan membaca realitas secara rasional.
Namun di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang menemukan makna dan rasa keteraturan dalam keyakinan eskatologis. Ketika dunia terasa kacau, narasi akhir zaman memberi kerangka bahwa semua ini sudah “dalam skenario.” Itu memberi ketenangan. Persoalannya, apakah ketenangan itu membuat kita lebih siap, atau justru lebih pasif?
Yang seharusnya jadi fokus bukanlah memperdebatkan apakah Perang Dunia III benar-benar di depan mata, melainkan bertanya, seandainya krisis besar terjadi, apa yang bisa kita lakukan dalam 24 jam pertama tanpa listrik? Tanpa internet? Tanpa akses ATM?
Pandemi sudah memberi simulasi kecil. Banyak keluarga panik karena tidak punya dana darurat. Banyak usaha tumbang karena tidak punya cadangan kas. Banyak orang kewalahan karena ketergantungan penuh pada sistem yang tiba-tiba melambat.
Kesiapsiagaan bukan berarti paranoid. Ia berarti realistis. Menyimpan persediaan makanan dasar untuk beberapa hari, memiliki dana darurat, memahami prosedur evakuasi, tahu cara berkomunikasi tanpa bergantung pada satu platform digital, itu bukan sikap kiamatologis, itu manajemen risiko.
Ada kecenderungan kita menganggap pembicaraan soal kesiapan sebagai sikap lebay. Padahal negara-negara maju secara rutin melakukan simulasi bencana, latihan militer sipil, hingga panduan survival untuk warga. Mereka tidak berharap perang terjadi, tetapi mereka juga tidak bertaruh masa depan pada harapan semata.
Humor tetap boleh. Meme tetap ada tempatnya. Tapi sebaiknya ia berdampingan dengan kesadaran. Jika dunia benar-benar memasuki fase turbulensi, kita tidak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti awal pandemi, menertawakan ancaman sampai ia mengetuk pintu sendiri.
Barangkali pelajaran terpenting bukanlah soal apakah hadis tertentu sedang terwujud, atau apakah headline hari ini cocok dengan angka dalam teks 14 abad lalu. Pelajaran terpenting adalah tentang kerendahan hati intelektual, dunia bisa berubah cepat, dan kita sering kali terlalu percaya diri dalam menilai risiko.
Kalau benar kita hidup di zaman yang genting, respons terbaik bukanlah panik, bukan pula denial. Tapi kombinasi antara iman yang reflektif, nalar yang kritis, dan persiapan yang konkret.
Karena sejarah menunjukkan, yang paling rentan bukanlah mereka yang tidak tahu apa-apa. Melainkan mereka yang merasa sudah tahu segalanya, lalu memilih tertawa ketika tanda-tanda peringatan mulai bermunculan.













