• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Jogja sebagai Ruang Sastra Digital: Kolaborasi Antarnegara dalam Arsip Terbuka

Nashrul Muminin oleh Nashrul Muminin
3 minggu yang lalu
in Opini
0
Image: Istimewa

Image: Istimewa

1
SHARES
3
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Yogyakarta tidak pernah berhenti memukau sebagai kota yang hidup dalam dua zaman sekaligus. Di satu sisi, ia tetap setia pada gelar “Kota Budaya” dengan segala tradisi sastra yang melekat erat, dari tembang macapat hingga diskusi-diskusi sastra di sudut-sudut Taman Budaya.

Di sisi lain, Jogja justru menjadi salah satu pelopor dalam gerakan sastra digital di Indonesia, membuktikan bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan. Salah satu perkembangan paling menarik dalam beberapa tahun terakhir adalah munculnya proyek-proyek kolaborasi digital antara arsip sastra Yogyakarta dengan berbagai institusi luar negeri, yang mengubah cara kita memandang khazanah sastra tidak hanya sebagai warisan lokal, tetapi sebagai bagian dari percakapan global.

Bayangkan sebuah naskah puisi tangan dari penyair Jogja tahun 1970-an yang didigitalisasi, diberi metadata lengkap, dan kemudian terhubung dengan arsip puisi kontemporer di Berlin atau Tokyo melalui platform linked data. Inilah yang mulai terjadi belakangan ini. Beberapa lembaga seperti Rumah Budaya Tembi dan Komunitas Salihara telah menjalin kerja sama dengan institusi seperti British Library atau Leiden University Library untuk membangun arsip sastra digital yang saling terhubung.

Kolaborasi semacam ini bukan sekadar memindahkan dokumen dari bentuk fisik ke digital, tetapi menciptakan ekosistem baru di mana sastra Jogja bisa “berbicara” dengan sastra dari belahan dunia lain.

Related Post

Image: Julia Goddard/Armstrong Institute of Biblical Archaeology

Siapa Nama Fir’aun Zaman Nabi Musa? Ini 2 Kandidatnya

3 Agustus 2025
Image made by AI Generate

Menggugat Kesepian di Era Politik Hukum: Peran Kritis Muhammadiyah

3 Agustus 2025

Bukan Sekadar Nama di KTA: Saatnya Kader Muhammadiyah Bicara, Bukan hanya Membaca

3 Agustus 2025

Kematian dari Perspektif Medis dan Syariah

3 Agustus 2025

Namun, pertanyaannya adalah: apa sebenarnya yang bisa diperoleh dari kolaborasi semacam ini? Pertama, tentu saja soal akses. Seorang peneliti sastra Jawa di Meksiko sekarang bisa mengakses manuskrip digital dari Yogyakarta tanpa harus terbang ke Indonesia. Kedua, dan ini yang lebih menarik, kolaborasi semacam ini memungkinkan pembacaan baru terhadap sastra kita sendiri.

Ketika puisi-puisi W.S. Rendra atau Linus Suryadi AG dianalisis berdampingan dengan puisi dari Amerika Latin atau Afrika dalam sebuah platform digital, kita bisa melihat pola-pola yang sebelumnya tak terlihat—entah itu tema yang serupa, gaya metafora yang mirip, atau respons terhadap modernisasi yang paralel.

Tantangannya tidak kecil. Salah satu masalah utama adalah standarisasi metadata. Bagaimana memastikan bahwa sebuah puisi yang ditulis dalam bahasa Jawa bisa terhubung dengan baik dengan puisi berbahasa Spanyol atau Prancis dalam sebuah sistem arsip global? Di sinilah peran para ahli digital humanities dan filologi digital menjadi krusial. Selain itu, ada juga persoalan hak cipta dan etika pengarsipan. Tidak semua karya bisa begitu saja didigitalisasi dan dibagikan ke ranah global tanpa mempertimbangkan hak moral dan ekonomi para penulis atau ahli warisnya.

Lalu, bagaimana dengan peran komunitas sastra lokal dalam proyek-proyek semacam ini? Di sinilah letak keunikan Yogyakarta. Berbeda dengan proyek digitalisasi yang sering kali didominasi oleh lembaga-lembaga besar, di Jogja justru komunitas-komunitas kecil seperti Klub Sastra Sewon atau Komunitas Tikar Pandan yang aktif terlibat dalam pengarsipan digital. Mereka tidak hanya menyumbangkan naskah, tetapi juga pengetahuan kontekstual yang membuat metadata tidak sekadar data teknis, tetapi juga mengandung “jiwa” dari karya tersebut.

Pada akhirnya, kolaborasi digital antarnegara dalam pengarsipan sastra ini bukanlah sekadar proyek teknis, melainkan sebuah upaya untuk menempatkan sastra Jogja—dan sastra Indonesia pada umumnya—dalam peta percakapan sastra dunia. Ini adalah cara baru untuk merayakan keragaman sastra kita sekaligus menjawab tantangan zaman: bagaimana merawat ingatan kolektif tanpa terjebak dalam nostalgia, dan bagaimana menjadi lokal tanpa menjadi terisolasi
.
Yang menarik, proses ini justru mengembalikan sastra pada hakikatnya yang paling purba: sebagai medium yang menghubungkan orang-orang melintasi batas ruang dan waktu. Bedanya, jika dulu seorang pujangga Jawa menulis dalam lembaran lontar yang mungkin hanya dibaca oleh segelintir orang, kini karya-karya itu bisa sampai ke pelosok dunia dalam hitungan detik. Di tengah arus globalisasi yang sering kali menggerus identitas lokal, justru teknologi digital memberi kita cara untuk merawat lokalitas sekaligus membukanya pada dunia.

Mungkin inilah paradoks yang indah dari sastra digital di Jogja: semakin kita mendigitalisasi, semakin kita menyadari nilai yang tak tergantikan dari secarik kertas usang berisi puisi tulisan tangan, atau obrolan sastra di warung kopi yang tak terekam dalam metadata apa pun. Kolaborasi digital bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah awal—bahwa ada banyak lagi lapisan sastra yang menunggu untuk ditemukan, dihubungkan, dan dibicarakan, baik secara digital maupun di teras rumah-rumah sastra Jogja yang tetap hidup seperti biasa.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: Digitalliterasimuhammadiyahsastra
ShareTweetShare
Nashrul Muminin

Nashrul Muminin

Related Posts

Image: Julia Goddard/Armstrong Institute of Biblical Archaeology
Sejarah

Siapa Nama Fir’aun Zaman Nabi Musa? Ini 2 Kandidatnya

oleh Yogi Arfan
3 Agustus 2025
Image made by AI Generate
Opini

Menggugat Kesepian di Era Politik Hukum: Peran Kritis Muhammadiyah

oleh Nashrul Muminin
3 Agustus 2025
Image made by AI Generate
Opini

Bukan Sekadar Nama di KTA: Saatnya Kader Muhammadiyah Bicara, Bukan hanya Membaca

oleh Nashrul Muminin
3 Agustus 2025
Next Post

Bukan Hiburan, Tapi Kezaliman! Sound Horeg Dikecam Ulama dan Dihantui Dosa Besar!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Siap Tempur! 31 Atlet Tapak Suci Kota Pasuruan Buru Medali di Kejuaraan Bergengsi Nasional!

28 Juli 2025

Bukan Kaleng-Kaleng! Atlet Tapak Suci Kota Pasuruan Borong Berbagai Medali, Ini Daftarnya!

30 Juli 2025

Transformasi Hebat! PCM Gadingrejo Ubah Semak Jadi Ladang Bisnis di Pesantren SPEAM Putri

27 Juli 2025 - Updated On 28 Juli 2025

Kajian Ahad Pagi Berkah Ganda: Dapat Ilmu dan Oleh-oleh Sayur Segar

27 Juli 2025 - Updated On 29 Juli 2025

Jolly Roger One Piece, Budaya Pop yang Satire Pemerintah

4 Agustus 2025
Image: Julia Goddard/Armstrong Institute of Biblical Archaeology

Siapa Nama Fir’aun Zaman Nabi Musa? Ini 2 Kandidatnya

3 Agustus 2025
Image made by AI Generate

Menggugat Kesepian di Era Politik Hukum: Peran Kritis Muhammadiyah

3 Agustus 2025
Image made by AI Generate

Bukan Sekadar Nama di KTA: Saatnya Kader Muhammadiyah Bicara, Bukan hanya Membaca

3 Agustus 2025

© 2025 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2025 PasMu - Media Pencerahan