Pasuruan – Jamaah Masjid At-Taqwa Jagalan, Kota Pasuruan, kembali menyelenggarakan pengajian rutin Kamis malam yang bertepatan dengan malam Jumat (8/1/2026). Pengajian kali ini menekankan pada pembentukan karakter islami melalui tradisi yang baik, kekuatan doa, hingga kriteria kepemimpinan dalam perspektif Islam.
Dalam ceramahnya, Ustadz Umar efendi menekankan bahwa setiap amal kebaikan yang dilakukan di tempat mulia seperti masjid akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda dari Allah SWT. Ia mengajak jamaah untuk senantiasa istiqomah dalam menjalankan ibadah, terutama salat berjamaah dan tradisi tahlil rutin.
Meneladani Kesahajaan Fatimah Az-Zahra
Salah satu poin utama dalam pengajian tersebut adalah kisah putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra. Ustadz Umar menceritakan bagaimana Fatimah yang hidup bersahaja harus bekerja keras mengurus rumah tangga hingga tangannya kasar. Saat Fatimah meminta seorang pembantu kepada Rasulullah, beliau justru memberikan “hadiah” yang lebih baik dari seorang pelayan, yaitu amalan zikir sebelum tidur.
“Rasulullah mengajarkan Fatimah untuk membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali, serta Ayat Kursi sebelum tidur. Amalan ini menjadi kekuatan batin yang luar biasa bagi seorang mukmin untuk menjalani aktivitas sehari-hari tanpa merasa letih yang berlebihan,” ujar sang pemateri.
Tatanan Sosial dan Kriteria Pemimpin
Selain aspek spiritual individu, pengajian ini juga menyoroti pentingnya peran umat Islam dalam membangun peradaban dan tatanan sosial. Mengutip doa dalam Surah Al-Baqarah dan Al-Furqan, jamaah diingatkan untuk memohon keturunan yang menjadi Qurrota A’yun (penyejuk hati) dan pemimpin bagi orang-orang bertaqwa.
Secara khusus, ustadz Umar memberikan kritik membangun terhadap realitas politik saat ini. Beliau menyayangkan jika pemilihan pemimpin hanya didasarkan pada materi dan mobilisasi massa (politik uang), bukan pada kualitas iman dan ketakwaan.
“Kita harus menyiapkan mentalitas dalam memilih pemimpin. Jangan sampai terjebak pada pemimpin yang manipulatif atau hanya mengejar kekuasaan semata tanpa tanggung jawab kepada Allah,” tegasnya di hadapan para jamaah.
Menghidupkan Risalah dan Budaya Salam
Di akhir sesi, jamaah diajak untuk memahami sejarah perjuangan Islam dari masa Turki Usmani hingga pentingnya menjaga risalah dakwah di era modern. Pemateri juga mengingatkan pentingnya membudayakan ucapan salam (Assalamu’alaikum) sebagai doa keselamatan antar sesama Muslim, menggantikan kebiasaan menyapa dengan sapaan sekuler yang tidak mengandung nilai ibadah.
Pengajian diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan umat dan bangsa, serta harapan agar nilai-nilai yang disampaikan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di Kota Pasuruan.













