Dalam ceramah singkat ba’da Tarawih dan witir di Masjid At Taqwa Jagalan, Ustadz Umar Efendi mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta, mulai dari rotasi bumi hingga peredaran bulan, berjalan di atas hukum yang pasti atau La Tabdila li Khalqillah (tidak ada perubahan pada ciptaan Allah). Beliau menjelaskan bahwa ketetapan waktu ibadah, termasuk Ramadan, didasarkan pada perhitungan matematis dan sains yang presisi.
“Kebenaran itu datangnya dari Allah. Dia telah mengatur peredaran surya dan rotasi semuanya dengan pasti. Al-Qur’an diturunkan sebagai ‘penerjemah’ bagi manusia untuk memahami waktu dan fenomena alam ini,” ujar Ustadz Umar di hadapan jemaah.
Ustadz Umar memberikan catatan sejarah mengenai alasan mengapa Rasulullah SAW dahulu memerintahkan umatnya untuk melihat hilal (rukyatul hilal). Menurutnya, hal itu disebabkan kondisi umat saat itu yang belum menguasai ilmu hitung (ummi).
Namun, seiring waktu, umat Islam mencapai puncak peradaban sains pada abad ke-9 di bawah Khalifah Harun Al-Rasyid, di mana rumus-rumus astronomi seperti sinus dan kosinus dikembangkan untuk memantau benda langit. Sayangnya, kejayaan intelektual ini runtuh akibat invasi Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang membuang ribuan kitab sains ke Sungai Eufrat.
“Akibat peristiwa itu, sanad ilmu sains dan teknologi umat Islam terputus. Islam yang masuk ke Nusantara kemudian lebih banyak didominasi corak tarekat dan sufisme yang terkadang bercampur dengan unsur mistis lokal,” tambahnya.
Dalam bagian lain kultumnya, Ustadz Umar mengingatkan jemaah agar berhati-hati terhadap infiltrasi budaya mistis dalam beragama. Beliau meluruskan praktik ziarah kubur; bahwa tujuannya adalah mendoakan ahli kubur dan mengingat kematian, bukan mengharap petunjuk atau “keramat” dari orang yang telah meninggal.
Beliau juga menekankan tiga amalan yang tidak terputus yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh. Sedekah jariyah adalah memberi dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan atau doa balik dari yang diberi. Ilmu yang bermanfaat adalah mengajarkan kebaikan, terutama Al-Qur’an. Sedangkan anak sholeh adalah anak yang tidak sekadar pintar secara intelektual, tetapi senantiasa mendoakan orang tuanya.
Menutup ceramahnya, Ustadz Umar mengisahkan ketegasan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam memerangi golongan yang enggan membayar zakat. Beliau juga mengangkat sosok Zulkarnain yang sering diidentikkan dengan Alexander the Great dalam literatur Barat sebagai pemimpin adil yang kekuasaannya membentang dari Barat hingga Timur karena menegakkan sholat dan zakat.
“Al-Qur’an adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya (La Raiba Fihi). Kebenarannya mutlak, bahkan hingga partikel terkecil sekalipun. Maka, jangan ada keraguan sedikit pun dalam menjalankan syariat-Nya,” pungkas beliau.













