Pasuruan, 3 April 2026 – Masjid Al Ukhuwah Kota Pasuruan tampak dipadati jamaah yang larut dalam suasana akrab pada acara Halal Bihalal Syawalan 1447 Hijriyah. Mengangkat esensi silaturahmi, kegiatan ini sukses menjadi wadah bagi masyarakat setempat untuk saling memaafkan sekaligus memperkuat jalinan persaudaraan Islam yang lebih solid dan harmonis.
Hadir dalam acara tersebut, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan, Dr. Abu Nasir, M.Ag., yang menyampaikan tausiah inspiratif di hadapan jamaah yang memenuhi masjid. Dalam ceramahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk memaknai hakikat takwa serta menjadikan momentum Lebaran sebagai pintu menuju kesadaran spiritual yang lebih mendalam.
Mengawali tausiahnya, Dr. Abu Nasir menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pengurus Takmir Masjid Al Ukhuwah yang dinilainya memiliki semangat luar biasa dalam mengembangkan masjid dan memberikan pelayanan terbaik bagi umat.
“Masjid ini dari hari ke hari menampakkan kemajuan yang cukup signifikan. Para pengurusnya tampak memiliki spirit luar biasa dalam mengembangkan masjid dan mensejahterakannya dengan terus memberikan pelayanan terbaik untuk umat dan jamaahnya,” ujar Dr. Abu Nasir.
Beliau secara khusus menyebut sosok Ketua Takmir Masjid Al Ukhuwah, Haji Sadjilan, yang dinilainya memiliki dedikasi tinggi.
“Mulai dari menyapu masjid, membersihkan tempat wudhu, membuat undangan, semua beliau lakukan. Ini luar biasa. Kita yang lebih muda patut merasa malu,” tambahnya.
Dalam tausiahnya, Dr. Abu Nasir mengisahkan pelajaran penting dari perang Badar melalui dialog dua sahabat Rasulullah SAW, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqas dan Abdullah bin Jahsy. Keduanya berdoa kepada Allah dengan cara yang berbeda menjelang pertempuran.
Sa’ad bin Abi Waqqas berdoa agar dipertemukan dengan musuh yang kuat, diberi kemenangan, serta memperoleh harta rampasan perang. Sementara Abdullah bin Jahsy justru berdoa agar ia mati syahid dengan tubuh yang dimutilasi musuh, sebagai bekal kebanggaan di hadapan Allah kelak di akhirat.
“Sa’ad bin Abi Waqqas kemudian berkata bahwa doa Abdullah bin Jahsy jauh lebih baik daripada doanya sendiri. Doa Abdullah adalah doa yang berorientasi pada akhirat, bukan sekadar kemenangan dunia,” jelas Dr. Abu Nasir.
Beliau pun mengajak jamaah merenungkan pertanyaan mendasar, amal apa yang akan menjadi kebanggaan di hadapan Allah kelak?
Lebih lanjut, Dr. Abu Nasir menjelaskan sejarah panjang tradisi halal bihalal di Indonesia. Tradisi ini, kata beliau, jauh sebelum dipopulerkan oleh KH. Wahab Chasbullah pada tahun 1948, sebenarnya sudah ada sejak abad ke-18 di lingkungan keraton.
Dalam manuskrip Babad Cirebon CS 114/PNRI yang ditulis dengan huruf Arab Pegon, sudah disebutkan istilah “halal bahalal” sebagai tradisi silaturahmi masyarakat Cirebon. Bahkan majalah Suara Muhammadiyah edisi tahun 1924 dan 1926 sudah menggunakan istilah “chalal bil chalal” dan “alal bahalal” sebagai sarana silaturahmi.
“Halal bihalal adalah tradisi yang sangat baik untuk merekatkan kebersamaan dan harmoni. Intinya adalah pentingnya menjaga ukhuwah Islamiah, sikap hidup bersama, toleransi, dan saling kasih mengasihi,” tuturnya.
Dalam tausiahnya, Dr. Abu Nasir juga memaparkan tiga syarat pokok menjadi pribadi bertakwa menurut Ibnu Abbas. Pertama, tidak syirik, yakni membersihkan akidah dari segala bentuk kemusyrikan. Kedua, membersihkan Islam dari segala campuran yang merusak, yaitu dengan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW secara murni. Ketiga, ihsan, yaitu beribadah seolah-olah melihat Allah.
Beliau mengingatkan bahwa takwa bukan sekadar menjalankan perintah dan menjauhi larangan, melainkan juga mencakup keotentikan seorang mukmin dalam menjalani kehidupan.
“Mudah-mudahan kita semua mendapatkan sebaik-baik dan sebesar-besar pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadikan setiap amal kita sebagai bekal kebanggaan di hadapan-Nya kelak,” pungkas Dr. Abu Nasir.
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan doa bersama sebagai wujud rasa syukur atas kelancaran acara. Doa tersebut sekaligus menjadi permohonan tulus kepada Allah SWT agar seluruh jamaah yang hadir kembali diberi kesempatan untuk menjumpai bulan Ramadan 1448 H dalam keadaan iman yang semakin kuat.











Pasmu Pasuruan baik, mencerahkan umat dlm menyampaikan pesan pesan yg disampaikan oleh para Dai atau Kiyai di kota Pasuruan semoga kedepan lebih baik lagi. Aamiin YRA