Malam ke-27 Ramadan di Masjid Al Ukhuwah menyuguhkan atmosfer yang begitu tenang, di mana kekhusyukan dan perenungan mendalam menyatu dalam harmoni. Di tengah rangkaian agenda iktikaf yang sarat keberkahan, Ustadz Ahmad Mudzakir, Lc. hadir membawakan untaian ilmu yang menggugah jiwa.
Beliau menekankan urgensi bagi umat Islam untuk mencetak generasi qurrata a’yun—sosok yang tidak hanya menjadi penyejuk mata dan hati bagi kedua orang tuanya, tetapi juga berdiri kokoh sebagai pilar perjuangan dalam meninggikan agama Allah di muka bumi.
Ustadz Ahmad mengajak jamaah untuk merenungkan bahwa membangun generasi unggul bukan sekadar wacana pendidikan, melainkan proyek peradaban yang harus dimulai dari rumah, dengan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman utama.
Pada awal kajian, Ustadz Mudzakir mengisahkan sebuah peristiwa yang terjadi pada masa khalifah kedua Islam, Umar bin Khattab radhiyallahu anhu. Suatu hari, Umar meminta para sahabat menyampaikan cita-cita mereka. Sebagian sahabat berangan-angan memiliki rumah yang dipenuhi emas dan permata agar dapat diinfakkan di jalan Allah.
Namun, Umar memiliki visi yang jauh lebih besar. Ia tidak menginginkan harta melimpah, melainkan berharap agar di tengah umat lahir para rijal—generasi tangguh yang mampu menjadi penolong bagi tegaknya agama Allah.
Umar kemudian menggambarkan sosok generasi yang ia idamkan. Di antaranya adalah Abu Ubaidah bin Jarrah yang dikenal sebagai sosok terpercaya dan piawai menyusun strategi, Sa’ad bin Abi Waqqas yang memiliki kemampuan strategi perang sekaligus doa yang mustajab karena menjaga kehalalan makanan, serta Hudzaifah bin al-Yaman yang dikenal sebagai pemegang “rahasia umat” yang memahami kondisi sosial masyarakat.
Kisah ini menjadi pengantar bagi pembahasan utama kajian: bagaimana proses membentuk generasi berkualitas yang mampu menjadi pilar umat.
Ustadz Mudzakir menegaskan bahwa kunci utama dalam membangun generasi unggul adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Ia mengutip firman Allah dalam Surat Thaha yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan untuk menyengsarakan manusia, melainkan sebagai sumber kebahagiaan dan peringatan bagi mereka yang bertakwa.
Menurutnya, prinsip ini harus menjadi standar operasional dalam mendidik anak. Pendidikan dalam keluarga tidak cukup hanya mengandalkan metode modern atau teori psikologi semata, tetapi harus berakar pada nilai-nilai wahyu.
Puncak kajian berfokus pada tafsir Surat Al-Kahfi ayat 60–82 yang menceritakan perjalanan Nabi Musa AS dalam menuntut ilmu kepada Nabi Khidir AS. Dari kisah tersebut, terdapat sejumlah prinsip penting dalam pendidikan.
Pertama, pentingnya komitmen dan etika seorang murid dalam menuntut ilmu. Seorang pencari ilmu harus memiliki kesabaran, tidak tergesa-gesa mempertanyakan sesuatu yang belum ia pahami, serta menjaga komitmen terhadap kesepakatan belajar. Dalam proses itu, guru juga memiliki hak untuk menegur atau memberikan “sanksi” ketika komitmen dilanggar.
Kedua, adanya korelasi kuat antara kesalehan orang tua dan masa depan anak. Hal ini terlihat dalam kisah dinding milik dua anak yatim yang hampir roboh. Nabi Khidir memperbaiki dinding tersebut atas perintah Allah karena ayah kedua anak tersebut adalah orang yang saleh.
Menurut Ustadz Mudzakir, kisah ini mengandung pesan mendalam: kesalehan orang tua dapat menjadi sebab turunnya perlindungan Allah bagi anak-anak mereka, bahkan ketika orang tua tersebut telah tiada.
Selain itu, kajian juga menyoroti pentingnya peran aktif kedua orang tua dalam mendidik anak.
Dari kisah Nabi Yusuf AS, jamaah diajak memahami pentingnya dialog iman antara ayah dan anak. Nabi Yusuf memilih menceritakan mimpinya kepada ayahnya, Nabi Ya’qub AS, bukan kepada orang lain. Hal ini menunjukkan adanya kedekatan emosional dan spiritual yang kuat antara keduanya.
Fenomena ini, menurut Ustadz Mudzakir, semakin jarang terjadi di masa kini. Banyak ayah yang secara fisik hadir di rumah, tetapi secara emosional dan spiritual tidak benar-benar hadir bagi anak-anaknya.
Sementara itu, peran ibu dicontohkan melalui kisah keluarga Imran yang terdapat dalam Surat Ali Imran. Istri Imran yang salehah bernazar, berdoa, dan menyerahkan putrinya, Maryam, sepenuhnya di bawah perlindungan Allah. Maryam kemudian tumbuh menjadi wanita pilihan yang dimuliakan Allah.
Doa seorang ibu, ditambah dengan pengawalan ketat terhadap lingkungan dan konsumsi halal, menjadi faktor penting dalam pembentukan karakter anak.
Sebagai penutup, Ustadz Mudzakir menegaskan bahwa melahirkan generasi qurrata a’yun bukanlah proses instan. Ia merupakan proyek besar yang dimulai dari rumah tangga.
Sinergi antara ayah yang saleh dan memimpin keluarga dengan baik, ibu yang salehah yang terus berdoa dan menjaga anak-anaknya, serta penerapan metode pendidikan yang bersumber dari Al-Qur’an menjadi kunci lahirnya generasi yang kuat secara iman dan akhlak.
Kajian malam itu diakhiri dengan pesan reflektif: kesalehan orang tua adalah investasi terbesar bagi masa depan anak-anak. Ketika orang tua memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah, pertolongan-Nya akan hadir—bukan hanya untuk mereka, tetapi juga bagi generasi yang akan datang.












