Pasuruan, 19 Februari 2026 – Jamaah memadati Masjid Darul Arqom di kawasan Jalan KH. Wachid Hasyim dalam suasana hening penuh kekhusyukan. Di hadapan para jamaah, Ustadz Heru Winarno, M.Ba., menyampaikan tausiah reflektif tentang orientasi seorang Muslim dalam menyambut bulan suci Ramadhan: apa yang sebenarnya dicari dari ibadah puasa.
Dalam pengantar ceramahnya, Ust. Heru menegaskan bahwa puasa bukan sekadar perubahan jadwal makan. Jika seseorang hanya berfokus pada rasa lapar dan haus, maka esensi puasa tidak akan tercapai. Ia mengingatkan bahwa banyak orang menjalankan puasa, tetapi hanya memperoleh dahaga karena kehilangan makna spiritual yang seharusnya menjadi tujuan utama selama tiga puluh hari Ramadhan.
Menurutnya, Ramadhan adalah momentum pendidikan batin. Ia menyebutkan tiga target utama yang seharusnya menjadi orientasi setiap Muslim. Pertama, transformasi karakter menuju takwa sebagaimana mandat Al-Baqarah ayat 183. Puasa adalah madrasah kejujuran dan pengendalian diri, tempat seseorang belajar menata hati dan perilaku. Bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan amarah, kebohongan, dan hawa nafsu yang merusak.
Kedua, Ramadhan sebagai pembersihan portofolio spiritual. Ust. Heru mengibaratkan puasa sebagai audit ruhani tahunan. Selama setahun manusia menumpuk kesalahan kecil maupun besar, dan Ramadhan menjadi kesempatan memutihkan dosa melalui taubat, istighfar, dan amal saleh. Dengan niat yang benar, seorang hamba dapat keluar dari Ramadhan dengan hati yang lebih bersih dan ringan.
Ketiga, Ramadhan melatih kepekaan sosial. Rasa lapar bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi sarana memahami penderitaan kaum dhuafa. Dengan merasakan kesulitan orang lain, seseorang terdorong untuk lebih dermawan, peduli, dan peka terhadap kebutuhan sesama. Inilah latihan empati yang nyata, bukan sekadar wacana.
Dalam kesempatan itu, Ust. Heru juga membedakan antara puasa orang awam dan puasa khawas. Puasa awam hanya menahan makan dan minum, sementara puasa khawas menahan seluruh anggota tubuh dari hal sia-sia. Lisan dijaga dari gosip, pendengaran dari keburukan, dan pikiran dari prasangka. Puasa seperti inilah yang melahirkan kualitas diri yang lebih tinggi.
Beliau mengingatkan jamaah agar tidak membiarkan Ramadhan berlalu sebagai rutinitas tahunan tanpa perubahan. Setiap Muslim diminta menetapkan target pribadi: memperbaiki ibadah, meningkatkan sedekah, memperbaiki hubungan keluarga, dan memperbanyak istighfar.
Kuliah subuh ditutup dengan doa bersama, memohon kekuatan untuk menyambut Ramadhan dengan kesungguhan hati. Para jamaah tampak khusyuk, berharap dapat menemukan “mutiara” di balik lapar, yakni ketakwaan, kebersihan jiwa, dan kepedulian sosial—sebagaimana pesan yang disampaikan dalam tausiah subuh tersebut.











