• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik
  • Cerpen

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Kabar

Bedah Buku Karya Ustadz Nur Yasin: Apa Iya Selama Ini Kita Salah Paham Soal Takdir? 

Marjoko oleh Marjoko
3 bulan yang lalu
in Kabar
0
Bedah buku Ustadz Nur Yasin di Masjid Al Muttaqin sukses membuat jamaah membuka paradigma baru memahami takdir.

Bedah buku Ustadz Nur Yasin di Masjid Al Muttaqin sukses membuat jamaah membuka paradigma baru memahami takdir.

6
SHARES
15
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Pasuruan, 8 Maret 2026 – Masjid Al Muttaqin, Perum Gading Permain, Kota Pasuruan menjadi saksi kajian ilmiah yang menarik pada sore hari. Acara bedah buku berjudul “Antara Takdir dan Free Will” karya Drs. H.M. Nur Yasing, M.Pd.I, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pasuruan, berlangsung hangat dan interaktif. Acara yang dihadiri oleh puluhan jamaah ini tidak hanya membedah isi buku, tetapi juga menjadi forum diskusi mendalam tentang hakikat manusia, berpikir, dan takdir.

Sebelum memasuki inti pembahasan tentang takdir, Drs. H.M. Nur Yasing, M.Pd.I terlebih dahulu membangun pondasi pemahaman yang kokoh melalui empat pertanyaan kunci yang memantik diskusi.

Pertanyaan pertama yang dilempar kepada jamaah adalah tentang perbedaan mendasar antara manusia dan hewan. Dalam sesi ini, beliau menjelaskan konsep “otomatis” dan “otonomi”. Beliau menjelaskan bahwa hewan itu hanya punya sifat otomatis, naluri yang tidak bisa dikendalikan. Contohnya, kucing akan langsung menyambar ikan pindang karena nalurinya. Sedangkan manusia, di samping memiliki sistem otomatis seperti detak jantung atau pertumbuhan rambut, juga dianugerahi otonomi, yaitu kemampuan untuk memilih dan mengendalikan tindakan. Beliau menegaskan bahwa memendekkan rambut itu otonomi, ada pilihan. Begitu juga salat, puasa, dan menutup aurat. Semua tindakan otonomi inilah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, berbeda dengan hewan atau sistem otomatis dalam diri manusia.

Pada poin kedua, pemateri menyoroti kualitas kecerdasan. Menurut beliau, hewan memiliki kecerdasan tunggal yang spesifik, seperti burung yang pintar terbang atau berang-berang yang ahli membuat bendungan dengan konstruksi yang rumit. Namun, manusia dianugerahi kecerdasan majemuk yang jauh lebih kompleks dan memungkinkannya untuk berinovasi di berbagai bidang.

Related Post

Istri shalihah bukan sekadar pendamping, melainkan benteng yang menggagalkan tipu daya setan. (Ilustrasi: shutterstock.com)

Istri Shalihah, Benteng Rumah Tangga dari Tipu Daya Setan

1 Juni 2026
1 Juni bukan sekadar sejarah; Pancasila adalah kompas persatuan yang menjaga Indonesia tetap utuh. (Ilustrasi: AI)

Juni Bukan Sekadar Juni, Hari Lahir Pancasila yang Penuh Makna dan Misteri Sejarah

1 Juni 2026

Islam dan Dunia Material: Agama yang Tak Pernah Memisahkan Iman dari Peradaban

1 Juni 2026

Dr. Taufiqullah, M.Pd.I. Paparkan Pola Asuh Nabi Ibrahim AS dalam Pengajian Ahad Pagi Masjid Al-Ukhuwah

31 Mei 2026

Diskusi kemudian mengerucut pada pertanyaan tentang bagaimana Islam memandang kebebasan berpikir. Beliau dengan tegas menjawab bahwa berpikir adalah sebuah kewajiban, merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an seperti afala ta’qilun, maka apakah kamu tidak memikirkan? Namun, beliau memberikan perspektif menarik tentang porsi berpikir. Beliau menyampaikan bahwa ada orang-orang tertentu yang memang harus banyak berpikir, mereka yang disebut ulul albab yang senantiasa memikirkan ciptaan Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. Tapi untuk orang beriman, porsi utamanya adalah dzikir, porsi mikirnya sedikit. Beliau menganalogikan seperti nasihat seorang dokter kepada pasien manula untuk tidak banyak berpikir agar tekanan darah tidak naik. Beliau mengingatkan bahwa kita ini kalau disuruh mikir, malah jadi lupa sama Allah. Maka dominan kita adalah dzikir, dijiwai, diulang-ulang hingga menjadi kenyataan, seraya memberi contoh praktik “ucapan yang dijiwai” untuk mengubah persepsi, yang diikuti oleh para jamaah dengan antusias.

Pada pertanyaan keempat, beliau mendefinisikan berpikir sebagai proses memahami dan mengambil kesimpulan. Beliau meminjam teori Tapiuddin An-Nakrani yang menyebutkan empat syarat berpikir: adanya objek, panca indra yang menangkapnya, otak yang mengolah, dan yang terpenting adalah data awal di dalam otak. Untuk mengilustrasikan pentingnya data awal, beliau melempar pertanyaan teka-teki “burnas kogen” yang tidak bisa dijawab jamaah karena tidak memiliki data awal tentang istilah tersebut. Beliau menjelaskan bahwa Nabi Adam pun diberi Allah nama-nama sebagai data awal, sehingga ketika menghadapi alam semesta, beliau bisa memahami dan menghubungkannya. Adapun metode berpikir yang mudah dan mantap, beliau menyarankan untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dari satu sudut pandang. Beliau menjelaskan bahwa cara berpikir itu seperti rangkaian biner dalam komputer, dari satu dan nol yang sederhana bisa menghasilkan sistem yang kompleks. Kita harus melihat sesuatu dari minimal dua sudut pandang, seperti hakim yang mendengarkan dua sisi sebelum memutuskan. Jangan mengambil langkah ketika marah, karena saat itu kita hanya melihat satu sisi.

Menjelang akhir sesi, beliau mengajak jamaah untuk merenungkan konsep diri dalam ranah sosial. Siapa “Saya” itu ternyata bisa meluas tergantung lawan bicaranya. Ketika berhadapan dengan warga negara asing, maka tokoh-tokoh bangsa seperti Presiden Prabowo Subianto adalah representasi dari “Saya”. Konsep ini, menurut beliau, penting untuk membangun rasa kebersamaan dan solidaritas.

Acara yang hanya sempat membahas empat dari 229 pertanyaan dalam buku ini pun ditutup dengan sholat berjamaah dan buka puasa bersama. Jamaah terlihat puas mendapatkan perspektif baru tentang takdir, yang ternyata harus dipahami dengan terlebih dahulu menata cara berpikir yang benar sebagai seorang manusia.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Share2Tweet2Share
Marjoko

Marjoko

Seorang pecinta tulisan, pengulik desain grafis, and Good Daddy and Hubby in every universe.

Related Posts

Istri shalihah bukan sekadar pendamping, melainkan benteng yang menggagalkan tipu daya setan. (Ilustrasi: shutterstock.com)
Cerpen

Istri Shalihah, Benteng Rumah Tangga dari Tipu Daya Setan

oleh Suharsono
1 Juni 2026
1 Juni bukan sekadar sejarah; Pancasila adalah kompas persatuan yang menjaga Indonesia tetap utuh. (Ilustrasi: AI)
Opini

Juni Bukan Sekadar Juni, Hari Lahir Pancasila yang Penuh Makna dan Misteri Sejarah

oleh Nashrul Muminin
1 Juni 2026
Islam membuktikan bahwa iman, sains, dan teknologi dapat tumbuh bersama membangun peradaban manusia. (ilustrasi: shutterstock.com)
Opini

Islam dan Dunia Material: Agama yang Tak Pernah Memisahkan Iman dari Peradaban

oleh Dary Yumna Joesi
1 Juni 2026
Next Post
Festival Ramadan 1447 H di Masjid Al Ukhuwah menghadirkan harmoni tradisi dan budaya digital generasi muda.

Dari Tahfidz hingga Mobile Legends, Cara Unik Masjid Al Ukhuwah Menarik Remaja ke Rumah Ibadah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ilustrasi Hutan Wakaf Muhammadiyah/Generate by AI

Muhammadiyah akan Bangun Hutan di Lahan Wakaf, Lengkap dengan Vegetasi dan Laboratorium Ekologi

14 Mei 2026
Prestasi membanggakan SD Al Kautsar dalam Ujian TKA 2025–2026, wujud generasi islami, berkarakter, dan berprestasi. (Ilustrasi: pasmu.id)

Siswa SD Al Kautsar Tunjukkan Hasil Terbaik di Ujian TKA

29 Mei 2026
Pekerja rehab Masjid Darul Arqom kaget temukan sarang tawon di lubang kubah kecil, lalu lapor takmir hingga BPBD diterjunkan/Foto Agus pasmu.id

Proyek Rehab Masjid Darul Arqom Terganggu, Pekerja Temukan Sarang Tawon Raksasa di Lubang Kubah Kecil

17 Mei 2026
Iduladha yang disertai pelaksanaan khutbah oleh para khatib di berbagai titik wilayah Kota Pasuruan/Ilustrasi AI

Catat 6 Lokasi Sholat Idul Adha di Kota Pasuruan dan Imbauan Penting Ini!

18 Mei 2026
Istri shalihah bukan sekadar pendamping, melainkan benteng yang menggagalkan tipu daya setan. (Ilustrasi: shutterstock.com)

Istri Shalihah, Benteng Rumah Tangga dari Tipu Daya Setan

1 Juni 2026
1 Juni bukan sekadar sejarah; Pancasila adalah kompas persatuan yang menjaga Indonesia tetap utuh. (Ilustrasi: AI)

Juni Bukan Sekadar Juni, Hari Lahir Pancasila yang Penuh Makna dan Misteri Sejarah

1 Juni 2026
Islam membuktikan bahwa iman, sains, dan teknologi dapat tumbuh bersama membangun peradaban manusia. (ilustrasi: shutterstock.com)

Islam dan Dunia Material: Agama yang Tak Pernah Memisahkan Iman dari Peradaban

1 Juni 2026
Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa generasi hebat lahir dari doa dan ikhtiar berkelanjutan nyata. (foto: Marjoko/pasmu.id)

Dr. Taufiqullah, M.Pd.I. Paparkan Pola Asuh Nabi Ibrahim AS dalam Pengajian Ahad Pagi Masjid Al-Ukhuwah

31 Mei 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan