Bulan Ramadhan selalu hadir dengan berkah yang melimpah, namun tak jarang juga diiringi dengan “kekhawatiran” ringan di kalangan Masyarakat, pengeluaran membengkak. Seorang teman pernah berkeluh kesah kepada saya, “Selama Ramadhan, pengeluaranku selalu lebih besar dari bulan-bulan biasa.”
Fenomena ini menarik untuk direnungkan. Mengapa di bulan yang mengajarkan kita menahan diri dari makan dan minum, justru kita menjadi lebih “royal” dalam mengeluarkan uang?
Setelah berdiskusi panjang, kami sampai pada sebuah kesimpulan yang menenangkan. Selama pengeluaran yang membengkak itu digunakan untuk kebaikan, bersedekah lebih banyak, mentraktir teman berbuka, berdonasi untuk masjid dan yayasan, hingga mengirimkan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada keluarga dan sanak saudara, maka itu adalah “aman”. Lebih dari sekadar aman, itu adalah sunnah yang mulia.
Kita mungkin khawatir menjadi boros, padahal Allah telah memperingatkan dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan” (QS. Al-Isra: 27). Namun, ada jurang pemisah yang tebal antara boros karena setan dan dermawan karena mengikuti jejak Rasulullah SAW.
Kedermawanan di bulan Ramadhan adalah teladan yang tak terbantahkan dari Nabi kita. Sahabat mulia, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, menggambarkan akhlak mulia ini dengan sangat indah. Beliau berkata:
“Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau paling dermawan pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini bukan sekadar informasi sejarah, melainkan sebuah instruksi spiritual. Di bulan yang penuh rahmat ini, Rasulullah SAW bahkan digambarkan lebih cepat dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berhembus. Artinya, ada peningkatan kualitas dan kuantitas dalam kedermawanan beliau. Inilah “pembengkakan pengeluaran” yang paling ideal. Beliau mengajarkan kita bahwa Ramadhan adalah momentum untuk meluaskan hati dan tangan, bukan untuk menahan keduanya.
Namun, di sinilah letak kewaspadaan yang perlu kita asah. Yang harus kita evaluasi dengan jujur adalah jika pengeluaran ugal-ugalan itu ternyata hanya untuk memuaskan ego. Saat kita makan berlebihan di meja berbuka, jajan takjil hingga mubazir, atau membeli pakaian baru bukan karena kebutuhan, melainkan sekadar mengikuti tren dan gengsi. Perilaku ini justru menunjukkan ketidakmampuan kita dalam menahan diri, sebuah ironi di tengah latihan pengendalian hawa nafsu selama berpuasa.
Semakin dewasa secara spiritual, kita akan menyadari sebuah kebenaran mendalam: Ramadhan pada hakikatnya adalah tentang berbagi, bukan sekadar menerima. Ia bukan tentang seberapa banyak makanan yang masuk ke perut kita saat berbuka, tetapi seberapa banyak manfaat yang keluar dari tangan kita untuk orang lain.
Maka, ketika dompet terasa lebih tipis di akhir Ramadhan, janganlah bersedih. Justru di situlah letak keberkahannya. Harta yang kita keluarkan untuk bersedekah, untuk menyenangkan saudara, dan untuk membantu sesama, adalah investasi jangka panjang. Hasilnya tidak akan kita lihat dalam bentuk saldo bank yang bertambah, tetapi akan kita petik dengan ranum kelak di akhirat.
Jadi, biarlah pengeluaran kita membengkak di bulan yang mulia ini, asalkan “kebengkakan” itu adalah karena kita sedang berlatih untuk menjadi pribadi yang dermawan, sebagaimana Rasulullah SAW. Karena rezeki yang keluar di jalan Allah tidak akan pernah berkurang; ia akan menjelma menjadi pahala yang kekal dan keberkahan yang terasa hingga ke liang lahat. Selamat bermurah hati!











