Gagasan bahwa krisis ekonomi bersifat siklikal bukanlah penemuan modern. Jauh sebelum teori ekonomi lahir, sebelum istilah “resesi” dan “inflasi” dikenal, sebuah protokol manajemen krisis sudah dipraktikkan oleh Nabi Yusuf. Kisah ini kemudian oleh sebagian orang disebut sebagai The Prophet Yusuf Protocol, sebuah kerangka berpikir anti miskin yang konon melampaui zaman. Pertanyaannya, apakah protokol ini benar-benar relevan bagi kita hari ini, atau sekadar romantisme sejarah?
Inti cerita bermula dari mimpi Raja Mesir yakni tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus. Tak ada penasihat kerajaan yang mampu menakwilkannya, kecuali Nabi Yusuf. Tafsirnya sederhana namun menggetarkan, tujuh tahun kemakmuran akan diikuti tujuh tahun krisis besar. Namun kejeniusan Nabi Yusuf tidak berhenti pada diagnosis. Ia menawarkan solusi kebijakan publik yang radikal untuk ukuran zamannya.
Ada empat langkah kunci. Pertama, maksimalisasi produksi selama masa subur. Kedua, penghematan ekstrem, bahkan ketika negara lain berpesta. Ketiga, teknik penyimpanan jangka panjang, gandum disimpan bersama tangkainya agar tahan lama, sebuah bentuk wealth preservation. Keempat, menyiapkan cadangan untuk masa krisis. Hasilnya, Mesir menjadi satu-satunya wilayah yang relatif selamat saat kelaparan melanda kawasan luas.
Narasi ini mengandung beberapa asumsi penting. Pertama, krisis dapat diprediksi secara kasar (bukan tepat waktunya, tetapi polanya). Kedua, manusia cenderung irasional saat makmur, manusia akan boros, optimistis berlebihan, dan lupa masa depan. Ketiga, kekuatan terbesar dalam krisis bukanlah kecerdasan spekulatif, melainkan likuiditas dan kesabaran.
Asumsi-asumsi ini ternyata sejalan dengan ekonomi modern. Konsep business cycle atau siklus ekonomi, yang sering disebut berkisar 7–12 tahun, menunjukkan pola berulang: euforia, ekspansi, gelembung, lalu krisis. Tahun 2000 (dot-com crash), 2008 (subprime mortgage), hingga 2020 (COVID-19) menjadi bukti bahwa “sapi kurus” selalu datang setelah “sapi gemuk”.
Tentu ada kritik. Ekonomi modern jauh lebih kompleks dibanding Mesir kuno. Ada bank sentral, kebijakan fiskal, instrumen derivatif, dan globalisasi. Tidak semua krisis bisa dihadapi hanya dengan menimbun cadangan. Selain itu, terlalu fokus pada penghematan bisa menghambat pertumbuhan dan inovasi.
Namun di sinilah menariknya, The Prophet Yusuf Protocol bukan resep teknis, melainkan kerangka mental. Ia tidak menolak investasi atau pertumbuhan, tetapi menolak euforia tanpa perhitungan. Prinsip ini justru terlihat jelas dalam praktik investor modern seperti Warren Buffett. Saat pasar berpesta, Buffett menumpuk kas. Saat pasar runtuh, ia membeli aset berkualitas dengan harga diskon. Polanya identik yakni akumulasi saat lapang, agresif saat krisis.
Jika esensinya dipahami dengan benar, protokol Nabi Yusuf sangat relevan, bahkan untuk individu bergaji UMR. Bukan soal besar kecilnya nominal, melainkan disiplin siklikal. Massive accumulation di usia produktif, menahan gaya hidup ketika pendapatan naik, menyimpan nilai pada instrumen yang melawan inflasi (emas, SBN, reksa dana), lalu menyiapkan dry powder untuk masuk saat krisis. Ini bukan spekulasi, melainkan strategi bertahan hidup finansial.
Yang sering dilupakan, protokol ini juga mengandung dimensi moral yakni rendah hati saat makmur dan berani saat krisis. Banyak orang gagal bukan karena kurang cerdas, tetapi karena tidak tahan menahan diri di masa senang dan tidak cukup berani di masa sulit.
Maka jawabannya jelas, The Prophet Yusuf Protocol bukan mitos kuno. Ia adalah pengingat abadi bahwa dalam ekonomi, seperti dalam hidup, yang bertahan bukan yang paling cepat berpesta, tetapi yang paling siap menghadapi musim paceklik.













