Perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi, digitalisasi, dan budaya media sosial telah melahirkan gaya hidup baru yang sering disebut sebagai kekinian. Fenomena ini memengaruhi cara berpikir, berinteraksi, hingga cara seseorang memaknai hidup. Dalam konteks ini, Islam kerap dipersepsikan sebagai ajaran yang bertentangan dengan modernitas. Padahal, Islam justru hadir sebagai pedoman hidup yang relevan di setiap zaman, termasuk di era kekinian.
Islam tidak menolak perubahan. Sejak awal, Islam mendorong umatnya untuk berpikir, belajar, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Hal ini ditegaskan dalam prinsip shalih li kulli zaman wa makan, bahwa ajaran Islam senantiasa sesuai dengan waktu dan tempat. Oleh karena itu, menjadi Muslim di era modern bukan berarti harus meninggalkan nilai-nilai agama, melainkan mampu mengintegrasikan kemajuan zaman dengan tuntunan syariat.
Gaya hidup kekinian identik dengan pemanfaatan teknologi digital, khususnya media sosial. Platform digital dapat menjadi sarana produktif jika digunakan secara bijak. Dalam Islam, setiap aktivitas, termasuk di dunia maya, tidak terlepas dari nilai pertanggungjawaban. Umat Islam diajarkan untuk menjaga lisan, sikap, dan etika, baik dalam pergaulan langsung maupun melalui ruang digital. Konten yang dibagikan seharusnya membawa manfaat, menghindarkan dari hoaks, ujaran kebencian, dan perilaku yang merugikan orang lain.
Selain itu, Islam juga mendorong umatnya untuk menjadi pribadi yang produktif dan bermanfaat. Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Nilai ini sangat relevan dengan semangat generasi kekinian yang kreatif dan inovatif. Berkarya di bidang pendidikan, ekonomi kreatif, teknologi, maupun dakwah digital merupakan bentuk kontribusi nyata umat Islam dalam membangun peradaban modern.
Namun, gaya hidup kekinian juga menghadirkan tantangan, seperti budaya konsumtif, pencarian popularitas semu, serta tekanan mental akibat perbandingan sosial di media digital. Islam menawarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Prinsip wasathiyah atau moderasi mengajarkan umat untuk hidup sederhana, tidak berlebihan, dan mampu mengendalikan diri. Kesadaran spiritual melalui ibadah, dzikir, dan refleksi diri menjadi penopang ketenangan batin di tengah dinamika kehidupan modern.
Islam juga menempatkan akhlak sebagai fondasi utama dalam menjalani kehidupan. Modernitas tanpa akhlak akan melahirkan krisis moral. Oleh karena itu, Muslim kekinian dituntut untuk tidak hanya cerdas secara intelektual dan digital, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. Kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kepedulian sosial tetap menjadi nilai inti yang harus dijaga.
Dengan demikian, Islam dan gaya hidup kekinian bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Islam justru memberikan arah agar umat mampu menjalani kehidupan modern secara bermakna. Dengan memadukan iman, ilmu, dan akhlak, umat Islam dapat menjadi bagian aktif dari perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai hamba Allah.











