Pasuruan, 27 Februari 2026 – Suasana khidmat menyelimuti Masjid At Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, saat khatib Ustadz Suharsono menyampaikan khutbah Jumat yang mengangkat tema tentang hakikat Ramadhan sebagai sarana pembentukan karakter sosial. Di hadapan ratusan jamaah, ia menegaskan bahwa ibadah puasa tidak hanya melatih ketahanan fisik dan spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang sangat dalam untuk memperkuat solidaritas antarumat.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Suharsono menjelaskan bahwa bulan suci yang akan datang ini mendidik seluruh lapisan usia untuk merasakan secara langsung bagaimana penderitaan yang dialami oleh saudara-saudara yang kurang beruntung. Rasa lapar dan dahaga yang dirasakan saat berpuasa, menurutnya, adalah sebuah metode pembelajaran langsung yang mampu membangkitkan empati. “Ketika kita merasakan perut keroncongan dan tenggorokan kering, di situlah Allah mengajarkan kita bagaimana rasanya menjadi mereka yang serba kekurangan. Harapannya, setelah Ramadhan, kepedulian sosial tidak lagi sekadar wacana, tetapi menjelma menjadi aksi nyata untuk membantu sesama,” ujar Ustadz Suharsono dengan suara lantang namun penuh kelembutan.
Lebih lanjut, khatib yang dikenal dengan dakwahnya yang menyentuh itu juga menyoroti bagaimana Ramadhan menjadi katalisator bagi terciptanya kebahagiaan bersama. Ia mengajak para jamaah untuk tidak melewatkan keutamaan bersedekah dan memberikan makanan berbuka, sekalipun hanya dengan sebiji kurma atau seteguk air. Kegiatan berbagi ini, jelasnya, tidak hanya melipatgandakan pahala, tetapi juga memiliki efek sosial yang luar biasa. “Sedekah dan memberi iftar menciptakan pemerataan kebahagiaan. Harta yang kita keluarkan menjadi lebih berkah, dan yang terpenting, ia memperkecil jurang pemisah antara yang mampu dan yang kurang mampu. Di bulan ini, kita semua diundang untuk duduk bersama, merasakan nikmatnya kebersamaan tanpa sekat,” tambahnya.
Ustadz Suharsono juga mengingatkan bahwa esensi puasa tidak hanya berhenti pada menahan diri dari makan dan minum. Ia adalah madrasah untuk melatih akhlak mulia dalam bermasyarakat. Menurutnya, puasa yang berkualitas adalah puasa yang mampu menjaga lisan dari perkataan sia-sia, ghibah, dan perilaku buruk lainnya. Ramadhan, dengan segala keistimewaannya, menjadi momen yang sangat tepat untuk membiasakan diri bersikap santun, jujur, serta menjaga hubungan harmonis dengan sesama. “Ini adalah fondasi untuk membangun masyarakat yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial,” tegasnya.
Di samping itu, khatib juga menyoroti bagaimana ritual-ritual khas Ramadhan, seperti shalat tarawih berjamaah, tadarus Al-Qur’an, hingga kegiatan penyaluran zakat fitrah, secara alami mempertemukan umat dari berbagai latar belakang. Interaksi intensif di masjid-masjid dan lingkungan sekitar inilah yang kemudian memperkuat tali silaturahmi atau ukhuwah Islamiyah. Kebersamaan yang terjalin selama sebulan penuh ini diharapkan mampu menciptakan suasana persatuan yang kokoh di tengah masyarakat, jauh dari perpecahan dan egoisme kelompok.
Mengakhiri khutbahnya, Ustadz Suharsono menyampaikan pesan mendalam bahwa tujuan akhir dari ibadah puasa adalah melahirkan pribadi yang tidak hanya kuat secara ritual (saleh secara individu), tetapi juga bermanfaat bagi lingkungannya (saleh secara sosial). “Ukuran keberhasilan puasa seseorang bukan hanya seberapa lama ia menahan lapar, tetapi seberapa banyak kebaikan yang ia tebar untuk orang-orang di sekitarnya setelah Ramadhan berlalu,” tegasnya menutup pesan.
Khutbah yang disampaikan dengan bahasa yang lugas dan penuh penghayatan itu pun ditutup dengan lantunan doa dan salam. Para jamaah yang hadir tampak khusyuk dan larut dalam pesan-pesan dakwah yang disampaikan. Suasana hening sesaat setelah khutbah selesai menjadi tanda bahwa pesan tentang pentingnya solidaritas sosial di bulan suci telah meresap ke dalam hati, menjadikan Jumat sore itu sebagai pengingat untuk menyambut Ramadhan dengan semangat kebersamaan dan kepedulian yang tulus.











