Pasuruan, – Dalam pengajian rutin di Masjid At-Taqwa Jagalan, Kota Pasuruan, Kamis (18/12/2025), Ustadz Umar Efendi menyampaikan tausiyah yang mengajak jamaah untuk merenungkan hakikat musibah. Ceramahnya berfokus pada refleksi atas berbagai bencana yang melanda negeri, menghubungkannya dengan konsep dosa kolektif, tanggung jawab sosial, dan kepemimpinan yang amanah.
Hubungan Kerusakan Alam dan Ulah Manusia
Ustadz Umar mengawali dengan menegaskan bahwa bencana alam merupakan peringatan dari Allah yang tidak terlepas dari perbuatan manusia. Beliau mengutip Surah Ar-Rum ayat 41 yang menyebut kerusakan di darat dan laut disebabkan ulah tangan manusia.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan dosa manusia,” ujarnya, mengutip ayat tersebut.
Ia memberikan contoh konkret pembabatan hutan untuk perkebunan sawit di Papua yang diduga memicu banjir bandang hingga menghilangkan tiga kabupaten. Menurutnya, musibah adalah cara Allah menguji dan mengingatkan hamba-Nya untuk kembali ke jalan yang benar.
Kritik terhadap Respons Bencana dan Kepemimpinan
Dalam ceramahnya, Ustadz Umar menyoroti kurangnya empati dan respons dari sebagian pihak saat bencana melanda. Ia memuji inisiatif organisasi kemasyarakatan Islam—yang secara mandiri menggalang dana sebesar Rp 70 miliar untuk membantu korban bencana di Sumatra.
“Itu rahmat, rasa kasih sayang, ada empati. Bukan menikmati saja… tapi ketika ada musibah, pernah empati, bahkan menghilang,” tegasnya.
Di sisi lain, ia mengkritik sikap sebagian relawan dan pemimpin yang dianggap lebih fokus pada mempertahankan kekuasaan daripada membantu masyarakat yang tertimpa musibah.
Jabatan sebagai Amanah dan Ujian
Ustadz Umar menekankan bahwa jabatan dan kekuasaan adalah amanah yang berat, bukan sekadar prestasi duniawi. Ia mengangkat teladan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Abdul Aziz yang justru bersedih dan gemetar ketika menerima amanah kepemimpinan.
“Ketika dapat jabatan, kedudukan, pangkat, itu musibah… Mereka ucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” jelasnya, menegaskan bahwa sikap itu mencerminkan kesadaran akan tanggung jawab besar di hadapan Allah.
Seruan Tauhid dan Teladan Para Nabi
Inti dakwah para nabi, dari Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad SAW, adalah seruan untuk menyembah Allah semata (tauhid). Ustadz Umar mengingatkan bahwa kemusyrikan merupakan dosa besar yang dapat mendatangkan murka Allah.
“Jangan kamu mempersekutukan Allah… sesungguhnya syirik itu kezaliman yang sangat besar,” pesannya, mengutip sebuah hikmah.
Solusi yang ditawarkan adalah memperbaiki diri dan mendekatkan diri hanya kepada Allah, serta memohon petunjuk-Nya sebagaimana terkandung dalam makna Surah Al-Fatihah.
Sikap Muslim Menghadapi Ujian
Ustadz Umar mengajak jamaah untuk menyikapi segala ujian—mulai dari musibah hingga mendapat jabatan—dengan kesabaran dan pengembalian kepada Allah. Kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” ditekankan bukan hanya untuk kematian, tetapi sebagai pengakuan bahwa segala sesuatu berasal dari dan akan kembali kepada Allah.
“Mereka itulah yang mendapat doa dari Tuhan, rahmat, dan kasih sayang,” ujarnya, mengutip firman Allah tentang orang-orang yang sabar.
Ceramah ditutup dengan ajakan untuk introspeksi diri dan memperbaiki ketakwaan. Ustadz Umar menegaskan bahwa musibah yang silih berganti adalah peringatan agar manusia meninggalkan kemusyrikan dan kerusakan, serta mengedepankan empati, tolong-menolong, dan kepemimpinan yang amanah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.














