Pasuruan 20 Desember 2025 – Ustadz Yasin memberikan kajian mendalam tentang hakikat takdir dalam Islam pada pengajian Ahad pagi di Masjid Darul Arqom, Kota Pasuruan. Mengawali dengan dialog interaktif, beliau langsung menggugah pikiran jamaah dengan pertanyaan mendasar: “Apa hikmah dan manfaatnya kita belajar dan beriman kepada takdir?”
Dalam penjelasannya, Ustadz Yasin menekankan bahwa hikmah utama adalah meraih ketenangan hakiki yang melahirkan produktivitas. “Hidup kita yang mungkin kacau akan menjadi tenang. Tenang yang asli, bukan yang palsu,” ujarnya. Ketenangan ini bukan berarti pasif, melainkan dinamis dan penuh karya. “Hidup kita akan tenang, aktif, dan menghasilkan banyak karya. Itulah hikmahnya,” tegas Sekretaris Kebun Daerah Mawadiah Kota Pasuruan tersebut.
Dengan analogi yang mudah dicerna, Ustadz Yasin menjabarkan hubungan erat antara usaha manusia dan ketetapan Ilahi. Beliau mengibaratkannya seperti engkrak atau timba sumur tradisional Jawa. “Prestasi kita naik, naik, naik, maka ‘ego’ kita harus turun. Kalau tidak, ya ceklek (macet),” jelasnya. Analogi ini menggambarkan bahwa setiap kenaikan prestasi harus diimbangi dengan kerendahan hati agar tidak jatuh seperti Fir’aun yang sombong.
Ustadz Yasin juga meluruskan pemahaman yang keliru tentang takdir. Beliau menegaskan bahwa mempelajari takdir adalah kewajiban dalam rukun iman, namun yang dilarang adalah mencoba menebak atau menentukan takdir spesifik seseorang. “Itu tidak boleh, karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi secara pasti,” tegasnya. Beliau mengingatkan bahwa ramalan hanya mengandung sedikit kebenaran di tengah ribuan kebohongan.
Lebih lanjut, Ustadz Yasin menjelaskan bahwa ikhtiar manusia tidak terpisah dari takdir. “Ikhtiar itu bagian dari takdir,” ungkapnya. Semua gerak dan usaha manusia, meski dilakukan dengan kehendak bebas, tetap berada dalam koridor ilmu dan kehendak Allah Yang Maha Mengetahui.
Pada penghujung ceramah, beliau mengajak jamaah merenungkan hakikat diri. “Apakah manusia wayang atau dalang? Ditentukan atau menentukan?” tanyanya retoris. Jawabannya, manusia memiliki posisi unik: seperti wayang yang digerakkan, namun diberi kebebasan terbatas berupa akal dan hati untuk memilih. “Manusia adalah makhluk terbaik, makhluk paling berkualitas. Oleh karena itulah kita diberi kebebasan ini,” pungkasnya.
Pengajian yang dihadiri berbagai lapisan masyarakat Pasuruan ini ditutup dengan sesi tanya jawab dan doa bersama, mengharap ketenangan dan ketawadhuan dalam menjalani hidup di bawah naungan takdir Ilahi.
Intisari Konsep Takdir:
Takdir (qadar) adalah ketentuan Allah yang meliputi seluruh makhluk, berdasar ilmu, kehendak, dan kekuasaan-Nya. Iman kepada takdir mencakup empat pilar: meyakini ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, penulisan di Lauhul Mahfuzh, kehendak Allah yang berlaku, serta penciptaan oleh Allah atas segala sesuatu termasuk perbuatan manusia. Takdir terbagi menjadi Mubram (pasti terjadi) dan Mu'allaq (dapat berubah dengan doa dan ikhtiar). Islam menolak sikap pasif; manusia tetap diperintahkan berusaha maksimal, baru kemudian bertawakal kepada ketetapan Allah. Keseimbangan inilah yang melahirkan ketenangan sejati dan produktivitas dalam hidup.













