Pasuruan 8 Februari 2025 – Suasana khidmat menyelimuti Majelis Taklim Masjid Al-Ukhuwah, Kota Pasuruan. Puluhan jamaah hadir menyimak dengan penuh antusias kajian tafsir Al-Qur’an yang disampaikan oleh Ustadz Yusuf Hasymi. Surah pilihan pada pertemuan kali ini adalah Surah Al-Zalzalah, surah pendek yang sarat dengan gambaran dahsyat tentang hari kiamat.
Dalam pengantarnya, Ustadz Yusuf menyampaikan bahwa surah ini, yang terdiri dari delapan ayat, turun setelah Surah An-Nisa. Beliau juga menyinggung perbedaan ulama mengenai klasifikasinya, apakah Makkiyah atau Madaniyah, namun menegaskan bahwa hal itu bukanlah fokus utama kajian. Yang lebih penting adalah memahami pesan universal yang dikandungnya.
“Surah Al-Zalzalah ini menjadi peringatan bagi kita yang hidup di abad ke-14 Hijriah ini untuk senantiasa mengimani datangnya hari akhir. Keimanan ini seharusnya telah mendarah daging, tidak seperti orang-orang kafir dahulu yang mempertanyakan hari kebangkitan sebagai bentuk pengingkaran,” tutur Ustadz Yusuf memulai penjelasan.
Bahasa Al-Qur’an yang Menggetarkan
Ustadz Yusuf kemudian mendalami kata kunci surah ini, yaitu “Zalzalah”. Beliau mengurai keajaiban bahasa Al-Qur’an, menjelaskan asal kata (etimologi) dan bentuk kata kerja (fi’il) yang digunakan. Kata “Zilzaalah” berasal dari akar kata yang bermakna “goyang”, “goncang”, atau “terpelanting”. Penggunaan bentuk kata kerja tertentu (fi’il madhi) dalam ayat pertama, “Idzaa zulzilatil ardhu…” mengisyaratkan kepastian mutlak bahwa peristiwa mengerikan itu akan terjadi.
“Bumi digambarkan sebagai makhluk perempuan yang mengandung. Di hari itu, ia akan ‘melahirkan’ dengan goncangan yang sangat dahsyat, mengeluarkan semua beban berat yang dikandungnya selama ini: mineral, logam, hingga jasad-jasad manusia,” terangnya dengan penuh penekanan.
Beliau mengajak jamaah merenungkan betapa seringnya gempa bumi terjadi di berbagai belahan dunia. Guncangan yang kita rasakan itu, meski kuat, hanyalah fraksi kecil dari kekuatan “Zalzalah” sebenarnya yang akan mengguncang seluruh planet hingga ke fondasinya.
Refleksi Amal: Sekecil Debu pun Akan Dilihat
Inti kajian kemudian mengerucut pada pesan esensial surah: pertanggungjawaban setiap amal. Ustadz Yusuf menekankan bahwa di hari itu, bumi akan menjadi saksi yang berbicara. Tidak ada satu pun perbuatan, sekecil apapun, yang terluput.
“Ayat ke-7 dan ke-8 adalah pelipur sekaligus penyejuk bagi orang beriman. ‘Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (debu), niscaya dia akan melihat balasannya.’ Ini adalah jaminan dari Allah. Amal kebaikan kita, walau terasa remeh seperti partikel debu yang beterbangan di cahaya jendela, akan dihitung dan diberi balasan,” ujarnya.
Sebaliknya, kezaliman sekecil apapun juga akan mendapat ganjarannya. Prinsip ini, menurut Ustadz Yusuf, seharusnya membentuk kesadaran kolektif (an-nas) sekaligus kesadaran individu (al-insan) untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhi keburukan.
Iman kepada Hari Akhir: Pengingat yang Terus Diulang
Ustadz Yusuf juga menyoroti frekuensi penyebutan hari akhir dalam Al-Qur’an. “Perintah salat lima waktu detail dijelaskan, perintah Jum’at disebutkan sekali dalam satu surah. Tetapi peringatan tentang hari akhir disebutkan berulang-ulang di berbagai surah. Ini seperti seorang guru yang terus mengulangi pelajaran penting agar muridnya benar-benar paham dan tidak lalai,” analoginya.
Kajian yang berlangsung sekitar satu jam ini ditutup dengan kesimpulan bahwa Surah Al-Zalzalah bukan sekadar deskripsi menakutkan, melainkan “pengingat intensif” (mau’izhah) untuk memantik keimanan dan ketakwaan. Keimanan kepada hari pembalasan inilah yang akan menjadi penyeimbang dalam menghadapi gaya hidup materialistis dan filosofi sekuler yang meragukan keberadaan alam akhirat.
“Mari kita jadikan pemahaman atas surah ini sebagai bekal untuk lebih introspeksi diri, menata niat, dan memperbanyak amal shaleh. Karena setiap kita, sebagai insan, akan berdiri sendiri mempertanggungjawabkan ‘buku catatan’ amal kita di hadapan Allah,” pungkas Ustadz Yusuf mengingatkan, sebelum majelis ditutup dengan doa bersama.
Jamaah pun pulang dengan membawa bahan perenungan yang dalam, mengingat betapa dekatnya hubungan antara keimanan kepada hari akhir dengan praktik kebaikan dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari di dunia













