Bertempat di Masjid At-Taqwa, Jagalan, Ustadz Anang Abdul Malik menyampaikan tausiyah mendalam dalam pengajian rutin Kamis malam (15/1/2026). Dalam ceramahnya, beliau menyoroti pentingnya menjaga jalur spiritual melalui shalat sebagai kunci kebahagiaan hakiki, sekaligus membedah makna di balik peristiwa Isra Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad SAW.
Tahun Dukacita dan Hiburan Allah ke Sidratul Muntaha
Mengawali ceramahnya, Ustadz Anang mengingatkan jamaah mengenai periode sulit dalam dakwah Rasulullah yang dikenal sebagai Amul Huzni atau Tahun Dukacita. Pada masa itu, Rasulullah kehilangan dua sosok pelindung utama: sang paman, Abu Thalib, yang membentengi beliau dari gangguan kaum Quraisy, dan istri tercinta, Sayyidah Khadijah, yang mendukung penuh perjuangan beliau baik secara moral maupun material.
“Di tengah kesedihan yang mendalam itu, Allah SWT menghibur hamba-Nya bukan dengan perjalanan wisata ke tempat-tempat indah di bumi, melainkan dengan perjalanan menembus langit menuju Sidratul Muntaha,” ujar Ustadz Anang.
Logika Iman dalam Peristiwa Isra Mi’raj
Menanggapi keraguan akal manusia terhadap perjalanan kilat Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga ke langit ketujuh, Ustadz Anang memberikan analogi yang menarik. Beliau menggunakan perumpamaan “seekor semut” yang terbawa dalam wadah milik seseorang yang melakukan perjalanan dari Pasuruan ke Jakarta.
“Semut itu tidak memiliki kemampuan untuk sampai ke Jakarta dalam waktu singkat secara mandiri. Namun, karena ia ‘dibawa’ oleh subjek yang memiliki fasilitas dan kecepatan, maka perjalanan itu menjadi mungkin. Begitu pula dengan Nabi Muhammad SAW. Kata Asra dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa beliau ‘diperjalankan’ oleh Allah. Fokusnya bukan pada kemampuan Nabi, melainkan pada kemahakuasaan Allah sebagai subjek pelakunya,” jelas beliau.
Shalat: Mekanisme Kebahagiaan Biologis
Salah satu poin paling menarik dalam pengajian ini adalah kaitan antara ibadah shalat dengan kesehatan fisik dan mental. Ustadz Anang mengutip temuan ahli genetika, Dr. Kazuo Murakami, mengenai efek pikiran positif dan kebahagiaan terhadap aktivasi gen.
Beliau menjelaskan bahwa shalat yang dilakukan dengan khusyuk dan penuh zikir akan menghadirkan ketenangan jiwa. Secara biologis, kondisi tenang dan bahagia ini memicu tubuh untuk memproduksi Beta-Endorfin, yaitu sejenis morfin alami yang dihasilkan otak.
“Dzikir dan shalat itu menenangkan. Saat jiwa tenang, tubuh mengeluarkan Beta-Endorfin yang berfungsi menyenangkan perasaan dan pikiran, bahkan mampu memperlebar pembuluh darah sehingga kita terhindar dari hipertensi,” tambahnya.
Penutup: Kesempatan Bertobat
Menutup tausiyahnya, Ustadz Anang berpesan bahwa setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Namun, selama hayat dikandung badan, Allah senantiasa membuka pintu ampunan. Shalat bukan sekadar kewajiban formal, melainkan kebutuhan manusia untuk tetap terhubung dengan Sang Pencipta demi meraih keselamatan di dunia maupun di akhirat.













