Udara pagi yang sejuk menyambut jamaah di Masjid Darul Arqom, Jalan KH. Wachid Hasyim, Pasuruan, dalam balutan suasana yang tenang dan penuh kekhusyukan usai shalat Subuh. Tausiyah pun dibuka oleh Ust. Heru Winarno, M.BA dengan lantunan doa, “Taqabbalallahu minna wa minkum,” yang mengandung harapan agar seluruh amal ibadah mendapat ridha Allah SWT.
Misteri Akhir Hayat: Sebuah Peringatan
Dalam ceramahnya, Ust. Heru mengangkat sebuah hadits Rasulullah SAW yang menggetarkan jiwa mengenai takdir manusia. Beliau memaparkan bahwa ada kalanya seseorang tampak beramal layaknya ahli surga sepanjang hidupnya, namun di penghujung hayat, ia tergelincir ke neraka. Sebaliknya, ada yang sepanjang hidupnya bergelimang dosa layaknya ahli neraka, namun menutup usianya dengan amalan penghuni surga.
”Poin utamanya bukan tentang bagaimana kita memulai, tapi bagaimana kita mengakhiri. Amalan itu dilihat dari konsistensinya, dari keistiqomahannya hingga nafas terakhir,” tegas beliau.
Tujuh Pilar Merawat Istiqomah
Agar kita tidak menjadi golongan yang merugi di akhir hayat, Ust. Heru membagikan tujuh langkah praktis untuk menjaga api iman tetap menyala:
1.Taubatan Nasuha: Segera menghancurkan “gunung” dosa yang menyesakkan dada. Selama nyawa belum sampai di kerongkongan, pintu ampunan masih terbuka lebar bagi mereka yang bersungguh-sungguh.
2.Menjaga Shalat Berjamaah: Menjadikan shalat wajib di masjid sebagai harga mati. Beliau mengapresiasi jamaah yang hadir sebagai “Ahli Subuh”, karena istiqomah di waktu fajar adalah fondasi kekuatan iman.
3.Dzikir dan Tilawah: Hati yang gelisah adalah tanda kurangnya asupan spiritual. Dengan dzikir dan membaca Al-Qur’an, hati akan menemukan ketenangan yang hakiki.
4. Menjaga Hubungan Antarmanusia (Silaturahmi): Ust. Heru mengingatkan tentang bahaya menjadi “orang bangkrut” di akhirat. Yakni mereka yang membawa pahala shalat, puasa, dan haji yang melimpah, namun pahala itu habis dibagi-bagikan kepada orang yang pernah ia sakiti dan dzalimi semasa hidup.
5.Sedekah dan Dakwah: Menjadikan harta dan lisan sebagai sarana menebar manfaat bagi agama dan sesama.
6.Lingkungan yang Shalih: Beliau memberikan perumpamaan klasik; berteman dengan penjual parfum akan membuat kita ikut harum, sedangkan berteman dengan yang buruk akan membawa pengaruh negatif. Lingkungan menentukan warna iman kita.
7.Doa Husnul Khatimah: Terakhir, teruslah mengetuk pintu langit agar Allah menetapkan hati kita dalam ketaatan hingga maut menjemput.
”Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya (Al-Khawatim).”
Semoga langkah kaki kita menuju Masjid Darul Arqom pagi ini menjadi saksi bahwa kita sedang berikhtiar untuk pulang dalam keadaan terbaik, dalam keadaan husnul khatimah. Amin












