PASURUAN – Suasana syahdu menyelimuti Masjid Darul Arqom di Jalan KH. Wachid Hasyim, Sabtu (14/2). Di sela embun pagi usai salat Subuh berjamaah, Ustaz Anang Abdul Malik mengajak jamaah untuk sejenak menunduk dan merenungi satu organ kecil namun krusial di dalam kepala kita: Otak. Dalam kultumnya yang bertajuk “Nikmat Otak Kita Dibanding dengan Otak Hewan”, beliau menekankan bahwa perbedaan mendasar antara manusia dan makhluk lainnya bukan sekadar pada bentuk fisik, melainkan pada kapasitas pemanfaatan akal.
Ustaz Anang menjelaskan bahwa secara biologis, hewan memang memiliki otak. Namun, fungsi otak hewan sangat terbatas pada insting bertahan hidup—makan, tidur, dan berkembang biak. “Kucing tahu cara mencari makan, burung tahu cara membuat sarang. Tapi mereka tidak pernah bertanya ‘mengapa saya diciptakan?’ atau ‘bagaimana cara memperbaiki kualitas hidup esok hari?’ Di sinilah letak kemuliaan manusia,” urai beliau di hadapan jamaah.
Perbedaan mencolok yang disoroti adalah kemampuan manusia untuk berpikir abstrak, berinovasi, dan mengenal Sang Khalik. Allah membekali manusia dengan neocortex yang memungkinkan kita untuk menganalisis masa lalu untuk mengambil pelajaran, merencanakan masa depan dengan penuh visi, dan membedakan yang haq dan yang bathil. Tanpa optimalisasi fungsi ini, Ustaz Anang mengingatkan kutipan dari Al-Qur’an bahwa manusia bisa derajatnya turun hingga setingkat—atau bahkan lebih rendah—dari binatang ternak.
Menutup kultumnya, Ustaz Anang memberikan pesan mendalam tentang tanggung jawab. Jika hewan tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka lakukan, manusia justru sebaliknya. Setiap memori yang disimpan dan setiap keputusan yang diambil oleh otak kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. “Menyukuri nikmat otak bukan dengan memuji kecerdasannya, tapi dengan menggunakannya untuk menundukkan ego dan bersujud kepada-Nya,” pungkas beliau menutup kajian pagi itu. Kajian ini menjadi pengingat bagi warga Pasuruan di akhir pekan ini bahwa kecerdasan tanpa dibarengi iman hanya akan melahirkan kesombongan, sementara otak yang disyukuri akan melahirkan kearifan.












