Pasuruan 14 Maret 2026 – Tak sekadar ritual ibadah, malam ke-25 Ramadan di Masjid Al Hidayah menjadi ajang “literasi iman dan politik”. Di hadapan jemaah i’tikaf yang memadati ruang sujud, Ustaz Baihaqi AB membedah peta geopolitik dunia lewat perspektif Al-Qur’an. Pesannya kuat: di balik duka dunia, ada harapan besar Lailatul Qadar yang harus diperjuangkan dengan optimisme tinggi.
Mengawali kajian, Ustaz Baihaqi mendedikasikan malam itu untuk almarhum Ustaz Saifullah Saiful Hadi (Ustaz Hadi), sahabat dekatnya yang baru saja berpulang. Beliau menceritakan bahwa Ustaz Hadi biasa menjemputnya untuk mengisi kajian dan selalu berpesan, “Mudah-mudahan kita bertemu lagi Ramadan depan.” Namun Ramadan ini mereka tak lagi dipertemukan.
Dari kepergian sahabatnya, Ustaz Baihaqi menarik pelajaran penting tentang kejujuran komitmen. Mengutip Surah Al-Ahzab ayat 23, ia menjelaskan bahwa di antara orang beriman ada rijal (pribadi-pribadi) yang menepati janjinya kepada Allah hingga akhir hayat.
“Iman itu saudara kembarnya adalah kejujuran. Kita membutuhkan orang-orang yang komitmen, tidak berubah pendirian seperti yang kita lihat dalam dinamika politik akhir-akhir ini,” ujarnya menyindir fenomena politisi yang mudah berubah haluan.
Keluarga sebagai Basis Regenerasi Dakwah
Poin pertama yang ditekankan adalah pentingnya melahirkan kader dakwah melalui keluarga. Mengutip kisah keluarga Imran dalam Surah Ali Imran ayat 33-35, Ustaz Baihaqi menjelaskan bahwa istri Imran telah menadzarkan anak dalam kandungannya untuk menjadi muharram (pengurus masjid) sejak masih hamil.
“Visi keluarga harus dibangun sejak awal kehamilan. Jangan sampai kita menjadikan masjid sebagai tempat ‘pensiun’ setelah tidak produktif. Justru masjid adalah pusat agenda umat yang harus dikelola oleh generasi terbaik,” tegasnya.
Ustaz Baihaqi juga mengingatkan para orang tua agar tidak kehilangan harapan jika ada anak yang bermasalah, sebagaimana Nabi Adam dan Nabi Nuh yang tetap mulia meski memiliki anak durhaka.
Kesadaran Geopolitik dalam Al-Qur’an
Memasuki poin kedua, Ustaz Baihaqi mengupas tema yang relevan dengan situasi global saat ini: kesadaran geopolitik dalam Islam. Ia mengingatkan bahwa Rasulullah mengirim sahabat hijrah ke Habasyah (Ethiopia) yang saat itu merupakan kerajaan Kristen di bawah Raja Najasy yang adil.
Ia juga mengutip Surah Ar-Rum ayat 2-4, di mana Allah menyuruh kaum muslimin bergembira atas kemenangan Romawi atas Persia, meski Romawi beragama Nasrani dan Persia Majusi. “Ini mengajarkan bahwa kadang faktor kemaslahatan lebih didahulukan daripada faktor kesamaan akidah dalam situasi tertentu. Kita tidak boleh terjebak dalam hitam-putih melihat konflik global,” paparnya merujuk pada dinamika konflik Timur Tengah saat ini.
Optimisme Al-Qur’an: Kebenaran Sedang dalam Perjalanan
Pada poin ketiga, Ustaz Baihaqi membangun optimisme jamaah dengan mengupas diksi Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Isra ayat 81, Allah menggunakan kata jaa’a (telah datang) untuk Al-Haq, dan zahaqa (pasti lenyap) untuk kebatilan.
“Artinya, kebenaran itu sedang dalam perjalanan (on the way) menuju kita. Jangan pernah putus asa meski kondisi umat sedang terpuruk. Allah juga menyebut kemenangan itu dekat (qarib) dalam Surah Ash-Shaff ayat 13,” ujarnya disambut antusias jamaah.
Merawat Optimisme ala Generasi Salaf
Poin terakhir yang disampaikan adalah bagaimana para sahabat merawat optimisme selama berabad-abad. Ustaz Baihaqi mengutip hadits Rasulullah tentang janji pembebasan Konstantinopel yang baru terbukti 800 tahun kemudian di tangan Muhammad Al-Fatih.
“Sahabat Abu Ayyub Al-Ansari ikut berperang dalam misi pembebasan Konstantinopel di usia hampir 100 tahun, meski misi itu belum berhasil saat itu. Ia terus menjaga cita-cita itu hingga akhir hayat. Bahkan ada pemuda di Baghdad yang tidak mau menikah sebelum mendapatkan istri yang kelak melahirkan pembebas Baitul Maqdis,” kisahnya.
Cucu Ali bin Abi Thalib, Zainal Abidin, menceritakan bahwa para sahabat selalu mengajarkan sejarah peperangan Rasulullah kepada anak-anak mereka agar cita-cita kemenangan tidak pernah padam.
Kajian yang berlangsung hingga menjelang sahur ini ditutup dengan doa bersama memohon kekuatan istiqamah dan kemuliaan Lailatul Qadar. Jamaah yang hadir tampak larut dalam pesan-pesan penyejuk hati yang disampaikan Ustaz Baihaqi, menjadikan malam ke-25 Ramadan sebagai momentum penguatan iman menjelang akhir bulan suci.
Masjid Al Hidayah terus membuka pintunya bagi jamaah yang ingin melaksanakan i’tikaf di sepuluh malam terakhir, dengan rangkaian kajian, tadarus, dan qiyamul lail hingga menjelang Idul Fitri.












