Pasuruan, 12 Maret 2026 – Masjid Masjid Al Muttaqin menjadi pusat kegiatan ibadah pada malam-malam terakhir Ramadan melalui rangkaian kegiatan i’tikaf yang diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan. Dalam salah satu sesi kajian di malam ganjil tepatnya malam 23 Ramadhan, Ustadz Heru Winarno menyampaikan tausiyah bertema “Mengukur Keikhlasan”, yang mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah terhadap niat dan kualitas amal ibadah yang mereka lakukan.
Kajian tersebut dihadiri oleh para jamaah i’tikaf, tokoh masyarakat, serta beberapa alim ulama setempat. Dalam pembukaan ceramahnya, Ustadz Heru menyampaikan rasa syukur karena jamaah dapat berkumpul untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beliau berharap kegiatan i’tikaf ini menjadi sarana meningkatkan kesadaran spiritual sekaligus memperkuat jalan menuju ketakwaan.
Menurutnya, tema keikhlasan dipilih karena keikhlasan merupakan inti dari setiap amal ibadah. Namun beliau menegaskan bahwa keikhlasan bukanlah sesuatu yang mudah diukur secara pasti. “Ikhlas itu tidak seperti satu ditambah satu sama dengan dua. Tidak ada rumus pasti untuk mengukurnya,” ujar beliau di hadapan jamaah. Meski demikian, seseorang dapat mengenali tanda-tanda apakah amalnya mengarah kepada keikhlasan atau justru tercampuri oleh kepentingan lain.
Dalam penjelasannya, Ustadz Heru menguraikan makna ikhlas berdasarkan beberapa ayat Al-Qur’an. Beliau menyebutkan bahwa secara bahasa, kata ikhlas memiliki makna murni atau bersih dari campuran. Hal ini merujuk pada konsep “din yang khalish” atau agama yang murni hanya untuk Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
Selain itu, beliau menjelaskan bahwa kata ikhlas juga berkaitan dengan makna menyendiri atau memisahkan diri dari motif lain selain mencari ridha Allah. Dalam konteks ini, seseorang dituntut untuk memurnikan niatnya sehingga amal yang dilakukan tidak bertujuan mencari pujian atau pengakuan manusia.
Makna lain dari ikhlas adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah SWT tanpa mencampurnya dengan riya atau kepentingan duniawi. Ustadz Heru menegaskan bahwa manusia sering kali memulai amal dengan niat baik, namun di tengah perjalanan niat tersebut dapat bergeser karena berbagai faktor seperti pujian, popularitas, atau kepentingan pribadi.
Beliau juga mengutip hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Oleh karena itu, menjaga niat sejak awal hingga akhir amal menjadi kunci penting agar ibadah diterima oleh Allah SWT.
Dalam kajian tersebut, Ustadz Heru juga menguraikan pandangan para ulama mengenai ikhlas. Salah satunya adalah penjelasan bahwa ikhlas berarti memurnikan hati dari segala noda yang dapat merusak niat ibadah. Selain itu, ikhlas juga berarti kesesuaian antara amal lahiriah dan niat batiniah seseorang.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa keikhlasan memiliki peran penting dalam kehidupan seorang muslim. Ikhlas menjadi senjata spiritual dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan, termasuk dalam melawan hawa nafsu dan godaan setan. Tanpa keikhlasan, seseorang dapat dengan mudah terjebak dalam riya atau kesombongan yang justru merusak amalnya.
Dalam bagian lain ceramahnya, Ustadz Heru mengingatkan bahwa ikhlas juga merupakan syarat diterimanya ibadah. Amal yang tampak baik di hadapan manusia belum tentu diterima oleh Allah jika tidak dilandasi niat yang benar.
Untuk membantu jamaah melakukan evaluasi diri, beliau menyebutkan beberapa indikator yang dapat menjadi tanda keikhlasan. Di antaranya adalah tidak mencari popularitas, tidak haus pujian, tetap semangat beramal meskipun tidak mendapat perhatian manusia, serta berusaha menyembunyikan amal baik yang dilakukan.
Beliau juga mendorong jamaah untuk memperbanyak amal secara tersembunyi, seperti sedekah diam-diam atau doa di waktu malam. Menurut beliau, amal yang tidak diketahui orang lain sering kali lebih dekat dengan keikhlasan.
Menutup kajiannya, Ustadz Heru mengingatkan bahwa keikhlasan merupakan proses yang harus terus dilatih sepanjang hidup. Manusia tidak pernah benar-benar bebas dari godaan untuk memamerkan amal, sehingga diperlukan muhasabah dan doa agar Allah menjaga hati tetap bersih.
Melalui kajian ini, jamaah i’tikaf di Masjid Al Muttaqin diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga niat dalam setiap amal ibadah. Dengan keikhlasan, setiap aktivitas—baik ibadah ritual maupun kegiatan sehari-hari—dapat bernilai ibadah di sisi Allah SWT.











