Pasuruan, 3 Maret 2026 – Masjid Darul Arqom menjadi saksi kebersamaan jemaah yang antusias menyambut fenomena alam yaitu gerhana bulan total sekaligus menunaikan ibadah. Sejak Selasa petang, jamaah telah berkumpul untuk berbuka puasa bersama sebelum melanjutkan dengan sholat Maghrib berjamaah. Puncak kegiatan malam tersebut adalah pelaksanaan Sholat Khusuf (sholat gerhana bulan total) yang diikuti dengan khidmat bagi seluruh jamaah. Persiapan matang dari pengumuman sepekan sebelumnya membuahkan kehadiran jemaah yang luar biasa dalam mempererat tali silaturahmi.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Anang mengawali dengan mengingatkan keutamaan bulan Ramadhan sebagai ruang penyucian diri. Beliau menegaskan bahwa setiap manusia memiliki potensi melakukan kesalahan, dan Ramadhan menjadi kesempatan untuk memperbarui komitmen keimanan serta memohon ampunan atas dosa-dosa masa lalu.
Lebih jauh, Uztadz Anang menguraikan bahwa fenomena gerhana tidak dapat dilepaskan dari ketetapan hukum Allah yang bersifat tetap dan tidak berubah. Mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an, di antaranya dalam Surah Yasin dan Yunus, beliau menjelaskan bahwa matahari dan bulan beredar sesuai garis edarnya masing-masing. Ketetapan tersebut bersifat pasti dan terukur, sehingga manusia dapat menghitung waktu, bulan, dan tahun secara akurat. Dari pengamatan terhadap keteraturan itulah lahir disiplin ilmu astronomi atau ilmu falak.
Menurutnya, kemampuan manusia modern memprediksi gerhana jauh hari sebelumnya menunjukkan betapa eksaknya peredaran benda langit. Beliau mencontohkan bahwa gerhana yang terjadi malam itu telah dapat diperkirakan sejak lama. Hal tersebut, kata dia, seharusnya memperkuat keyakinan bahwa alam semesta berjalan sesuai sunnatullah.
Ustadz Anang juga menyinggung peristiwa gerhana matahari total yang melintasi Pulau Jawa pada 11 Juni 1983. Saat itu, banyak peneliti mancanegara datang ke Indonesia untuk mengamati fenomena tersebut. Namun di sisi lain, masih ada sebagian masyarakat yang diliputi ketakutan dan mempercayai mitos, seperti anggapan bahwa gerhana terjadi karena matahari “dimakan naga”. Ia menilai kondisi tersebut sebagai cerminan rendahnya literasi dan kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama maupun ilmu pengetahuan.
Mengacu pada teladan Nabi Muhammad SAW, beliau menegaskan bahwa gerhana bukan pertanda kematian atau kelahiran seseorang, melainkan tanda kebesaran Allah. Dalam sejarah, ketika terjadi gerhana bertepatan dengan wafatnya putra Nabi, Ibrahim, Rasulullah meluruskan anggapan masyarakat dan menekankan bahwa gerhana adalah fenomena alam yang berada dalam ketentuan Allah.
Menutup khutbahnya, Ustadz Anang mengajak jamaah untuk merespons gerhana sesuai tuntunan Nabi, yakni dengan memperbanyak dzikir dan doa, melaksanakan sholat gerhana, serta memperbanyak sedekah sesuai kemampuan masing-masing, baik berupa harta, tenaga, maupun pikiran. Ustadz Anang berharap umat Islam mampu memadukan keimanan dan ilmu pengetahuan, serta terus menjaga nilai-nilai kebenaran ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.











