Di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban modern, kita nyaris tanpa sadar menggesek kartu atau mengetuk layar untuk membayar berbagai langganan bulanan. Musik mengalir tanpa henti, serial tak pernah habis, ruang penyimpanan digital terus bertambah, kopi hadir dalam standar baru, dan air minum datang dalam kemasan yang dianggap lebih “aman”. Semua terasa wajar, bahkan masuk akal. Namun jarang sekali kita berhenti dan bertanya, apakah semua ini benar-benar kebutuhan? Atau jangan-jangan, kita sedang hidup di dalam sistem ekonomi yang secara halus mengajarkan kita untuk selalu merasa kurang?
Jika pola konsumsi hari ini dibandingkan dengan dua dekade silam, perbedaannya mencolok. Dahulu, pengeluaran bersifat insidental dan memiliki titik akhir. Kita membeli barang dan memilikinya. Kita menonton film sesekali, mendengarkan musik dari kaset atau CD, merebus air, dan selesai. Hari ini, konsumsi berubah menjadi siklus tanpa ujung. Kita tidak lagi membeli, melainkan menyewa akses. Berhenti membayar berarti kehilangan segalanya, hiburan, data, bahkan rasa “normal” sebagai manusia modern.
Pergeseran dari kepemilikan ke akses sering dianggap sebagai evolusi alami teknologi. Padahal, ini adalah strategi bisnis yang sangat efektif. Biaya kecil yang dibayar rutin terasa ringan secara psikologis, tetapi dalam jangka panjang menciptakan ketergantungan. Kita kehilangan kendali karena layanan tersebut tidak pernah benar-benar menjadi milik kita. Akses digantikan oleh izin, dan izin itu bisa dicabut kapan saja.
Kapitalisme klasik menjual produk untuk memecahkan masalah nyata. Kapitalisme digital seringkali melangkah lebih jauh, ia menciptakan kecemasan, lalu menjual solusinya. Cloud storage adalah contoh jelas. Selama ribuan tahun, manusia hidup tanpa memikirkan “backup data pribadi”. Namun hari ini, ketakutan kehilangan foto, dokumen, dan memori digital dipelihara sedemikian rupa hingga menyewa ruang di server pihak ketiga terasa seperti kebutuhan primer. Hal serupa terjadi pada air minum kemasan. Risiko air tercemar memang nyata, tetapi narasi pasar seringkali mengerdilkan solusi mandiri yang lebih sederhana, seperti merebus atau menyaring sendiri. Pasar tidak hanya menjual kemurnian, tetapi juga rasa takut akan ketidakmurnian.
Di sinilah asumsi-asumsi tersembunyi mulai bekerja. Kita menerima tanpa sadar bahwa kemajuan identik dengan kenyamanan berbayar, bahwa waktu harus selalu ditukar dengan uang, dan bahwa mengikuti standar konsumsi terbaru adalah syarat menjadi manusia modern yang relevan. Pilihan perlahan berubah menjadi kewajiban sosial. Tidak memiliki layanan hiburan tertentu bukan lagi soal preferensi, melainkan dianggap tertinggal dari percakapan budaya. Tidak mengikuti standar gaya hidup tertentu dipersepsikan sebagai ketidakpraktisan, bahkan kegagalan mengelola hidup.
Fenomena ini terasa sangat kuat pada generasi muda. Sistem pembayaran yang semakin mudah, dompet digital, cicilan instan, dan berbagai bentuk kredit mikro, menghilangkan jeda refleksi antara keinginan dan keputusan membeli. Pada saat yang sama, kebutuhan baru terus diciptakan, langganan hiburan, standar kopi harian, gaya hidup “healing”, hingga definisi baru tentang produktivitas dan kesehatan mental. Semua dibungkus dalam narasi perbaikan diri, padahal seringkali hanya memindahkan kecemasan ke dalam keranjang belanja.
Penting untuk bersikap adil, tidak semua konsumsi modern adalah manipulasi. Dunia memang berubah. Waktu semakin terbatas, pekerjaan semakin menuntut konektivitas, dan banyak layanan digital justru lebih efisien dan murah dibanding alternatif lama. Namun batas antara adaptasi yang rasional dan kepasrahan pada rekayasa pasar menjadi kabur ketika konsumsi berubah menjadi otomatis. Ketika kita berhenti bertanya “mengapa saya membutuhkan ini?” dan hanya bertanya “apakah saya mampu membelinya?”, di situlah masalah bermula.
Masalah keuangan, pada akhirnya, bukan semata soal angka. Ia adalah cerminan hubungan kita dengan diri sendiri, dengan kecemasan, dan dengan makna hidup. Uang hanya alat; manusialah yang menentukan arah. Tanpa kesadaran, berapa pun penghasilan tidak akan pernah cukup, karena standar hidup terus digeser. Tidak peduli usia dua puluhan, tiga puluhan, atau bahkan menjelang pensiun, jika semua kebutuhan yang diciptakan pasar diikuti, hasilnya tetap sama, rasa kurang yang permanen.
Kesimpulannya, kita hidup di wilayah abu-abu antara kebutuhan otentik dan konstruksi pasar. Kapitalisme digital tidak memaksa kita membeli, tetapi ia membuat tidak membeli terasa ganjil. Masalahnya bukan pada produk atau layanan tertentu, melainkan pada hilangnya kesadaran akan pilihan. Ketika kita berhenti mempertanyakan, kita bergeser dari konsumen yang berdaulat menjadi pengguna yang bergantung.
Maka pertanyaan paling penting hari ini bukanlah “apakah ini perlu?”, melainkan, jika semua langganan ini hilang besok, bagian mana dari identitas saya yang ikut hilang? Apakah saya membayar untuk nilai yang sungguh memperkaya hidup, atau sekadar untuk meredam kecemasan agar tetap terasa relevan? Literasi finansial tertinggi di era ini bukan sekadar kemampuan mengatur anggaran, melainkan kemampuan membedakan kebutuhan yang lahir dari dalam diri dan kebutuhan yang ditanamkan dari luar. Tanpa kemampuan itu, kita akan terus berlari di atas roda tikus finansial, membayar, bulan demi bulan, untuk sebuah kenormalan yang terus bergerak menjauh.













