PASURUAN – Khutbah Jumat di Masjid At-Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, pada 9 Januari 2026, mengajak jamaah untuk merenungi betapa tak terhitungannya nikmat Allah SWT. Khutbah yang disampaikan oleh Farel Tian Husni seorang santri dari SPEAM (Sekolah Pesantren Entrepreneurship Al Maun Muhammadiyah) Pasuruan ini menguraikan hakikat syukur berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadis.
Khatib memulai dengan mengutip firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 34, yang intinya menyatakan manusia takkan mampu menghitung nikmat-Nya. Dia kemudian menguraikan sebuah hadis qudsi yang menyebutkan bahwa dari seratus bagian nikmat, Allah hanya menurunkan satu bagian ke dunia. Dari satu nikmat inilah, seluruh makhluk di alam semesta—manusia, hewan, dan tumbuhan—mendapatkan kasih sayang, seperti seekor induk yang menyayangi anaknya. “Secara persentase, tampaknya sangat sedikit. Hanya satu persen yang dinikmati makhluk di dunia, sementara 99 persennya disiapkan untuk hamba-Nya di akhirat. Namun, bila dirasakan nilai dari yang satu persen itu saja, sungguh luar biasa besarnya bagi ukuran duniawi,” jelas khatib.
Para ulama, lanjutnya, mengelompokkan nikmat Allah ke dalam tiga kategori besar. Pertama, Nikmat Hidup dan Kehidupan yang diberikan kepada seluruh makhluk tanpa terkecuali. Khatib memberikan contoh konkret: rotasi bumi yang menyebabkan pergantian siang dan malam. “Bayangkan seandainya bumi berhenti berputar. Satu belahan akan mengalami siang terus-menerus dengan suhu yang memanas ekstrem, sementara belahan lain membeku dalam malam abadi. Atas izin Allah, perputaran bumi ini menjaga kestabilan suhu, sehingga kehidupan bisa berlangsung,” ujarnya, seraya mengutip ayat-ayat tentang pergantian malam dan siang sebagai tanda kekuasaan Allah.
Kedua, Nikmat Kebebasan Memilih (Ikhtiar) yang memberikan manusia otonomi untuk memilih, mulai dari hal sederhana seperti memilih minuman, hingga yang paling fundamental: memilih jalan hidup dan agama. “Allah memberikan perintah dan larangan yang jelas, tetapi tidak memaksa. Kebebasan ini diiringi konsekuensi: pahala bagi yang taat dan siksa bagi yang ingkar,” tegasnya.
Ketiga, Nikmat Hidayah (Iman dan Islam) yang merupakan nikmat paling istimewa dan sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah. Khatib mengingatkan bahwa hidayah adalah anugerah murni dari-Nya. Untuk menguatkan pernyataan ini, dia mengisahkan bagaimana Nabi Muhammad SAW sendiri tidak mampu memberikan hidayah kepada paman yang sangat dicintai dan membelanya, Abu Thalib, yang meninggal dalam keadaan belum mengucapkan syahadat. Rasulullah pun ditegur oleh Allah melalui wahyu karena terlalu berharap atas ampunan untuk pamannya. “Kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi kita. Betapapun dekatnya seseorang dengan orang shaleh, hidayah tetaplah rahmat dari Allah. Ini seharusnya menyadarkan kita untuk tak pernah lelah memohon hidayah dan istiqamah bagi diri dan keluarga, sekaligus mengikis sifat merasa paling benar dan mampu menilai iman orang lain,” pesan khatib dalam penutup khutbahnya.







