Pasuruan, 26 Februari 2026 – Suasana hujan rintik-rintik menyelimuti Masjid Darul Arqom di Jalan KH. Wachid Hasyim, Pasuruan. Di tengah dinginnya udara pagi, para jamaah menyimak untaian ilmu dalam Kuliah Subuh yang disampaikan oleh Ust. H. Heru Winarno, M.BA. Kali ini, beliau mengangkat tema yang sangat relevan bagi umat Muslim, yaitu “Sahur itu Berkah.”
Dalam tausiyahnya, Ust. Heru menekankan bahwa aktivitas sahur seringkali disalahpahami hanya sebagai kegiatan makan dan minum untuk menjaga stamina fisik selama berpuasa. Padahal, secara spiritual, sahur memiliki dimensi yang jauh lebih dalam. “Sahur bukanlah soal seberapa banyak porsi makanan yang kita santap, melainkan tentang ketaatan menjemput sunnah yang di dalamnya Allah titipkan keberkahan,” ujar Ust. Heru di hadapan jamaah yang tampak khusyuk mendengarkan.
Beliau mengutip hadits Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa dalam makan sahur terdapat barakah. Keberkahan ini, menurutnya, mencakup dua sisi yang saling melengkapi. Pertama, berkah secara syar’i, yakni dengan melaksanakan sahur berarti seorang Muslim telah mengikuti jejak Nabi dan membedakan puasa umat Islam dengan ahli kitab. Kedua, berkah secara fisik, karena sahur memberikan energi yang cukup agar ibadah di siang hari, baik bekerja maupun berdzikir, tetap berjalan optimal.
Lebih lanjut, Ust. Heru mengingatkan bahwa waktu sahur yang bertepatan dengan sepertiga malam terakhir adalah waktu di mana pintu langit terbuka lebar. Beliau menyayangkan jika momen berharga ini hanya dihabiskan di depan meja makan tanpa diiringi dengan istighfar dan doa. “Waktu sahur adalah waktu terbaik untuk memohon ampunan. Al-Qur’an memuji orang-orang yang beristighfar di waktu sahur (bil-ashari hum yastaghfirun). Jadi, sembari menyuap makanan, basahi juga lisan dengan dzikir,” tambahnya dengan nada penuh ajakan yang menggetarkan hati para jamaah.
Dalam kesempatan itu, Ust. Heru juga menjelaskan bahwa sahur merupakan benteng pembeda antara puasa umat Islam dengan puasanya ahli kitab. Dengan sahur, identitas keislaman seorang hamba semakin kuat dan terlihat jelas. Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW selalu menganjurkan umatnya untuk bersahur, meskipun hanya dengan seteguk air. Hal ini menunjukkan bahwa esensi sahur bukanlah pada kemewahan hidangan, melainkan pada niat dan kepatuhan untuk menghidupkan sunnah.
Para jamaah yang hadir tampak antusias menyimak setiap penjelasan yang disampaikan, sesekali menganggukkan kepala sebagai tanda memahami. Suasana haru dan khidmat terasa ketika Ust. Heru mengajak jamaah merenungkan betapa besar kasih sayang Allah yang menitipkan keberkahan di tengah aktivitas sederhana seperti makan sahur.
Menutup Kuliah Subuh tersebut, Ust. Heru mengajak jamaah untuk tidak lagi melewatkan sahur, meskipun hanya dengan seteguk air. Ia menegaskan bahwa hal kecil ini merupakan bentuk kepatuhan yang berdampak besar bagi kualitas spiritual seorang hamba. Dengan istiqamah melaksanakan sahur, seorang Muslim tidak hanya mendapatkan kekuatan fisik untuk berpuasa, tetapi juga meraih limpahan pahala dan keberkahan yang Allah janjikan.
Pesan penutupnya menggema di sudut-sudut masjid, menyadarkan bahwa meraih ridha Allah bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang sering kali dianggap remeh. Kegiatan rutin di Masjid Darul Arqom ini diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ust. Heru Winarno, memohon keberkahan dan kekuatan iman bagi seluruh jamaah.
Usai doa, para jamaah berangsur meninggalkan masjid dengan hati yang tenang dan semangat baru, siap memulai rutinitas di hari Kamis yang cerah dengan bekal pemahaman bahwa sahur adalah berkah yang tak ternilai.












