Pasuruan, 26 Januari 2026 – Ustadz Suharsono dalam ceramah singkatnya ba’da tarawih dan witir di Masjid At Taqwa Jagalan, menekankan bahwa waktu merupakan aset paling berharga yang dimiliki manusia, melampaui harta benda apa pun. Beliau mengingatkan bahwa saking pentingnya waktu, Allah SWT berkali-kali bersumpah menggunakan dimensi waktu di dalam Al-Qur’an, seperti Wal-Ashr (Demi Waktu) dan Wal-Layl (Demi Malam).
Dalam penjabarannya, beliau menjelaskan bahwa setiap manusia melewati lima fase waktu yang harus disikapi dengan bijak. Pertama, masa lalu yang telah berlalu, yakni waktu yang tidak mungkin terulang, di mana jamaah diajak mengevaluasi amal agar diterima Allah dan bertaubat atas kesalahan. Beliau mengutip hadis Nabi bahwa Ramadan adalah momentum pengampunan bagi siapa saja yang berpuasa dengan penuh keimanan. Kedua, hari ini atau masa kini, yang merupakan kesempatan nyata untuk memaksimalkan setiap detik di bulan Ramadan karena pahala amal kebaikan dilipatgandakan.
Ketiga adalah hari esok, sebuah misteri yang hanya diketahui Allah, sehingga penting bagi lisan untuk selalu mengucapkan “InsyaAllah” sebagai bentuk tawakal. Keempat, hari kematian sebagai penentu akhir perjalanan manusia; beliau berpesan agar jamaah konsisten dalam kebaikan (istiqomah) demi meraih akhir yang baik atau Husnul Khotimah, karena kualitas manusia ditentukan di akhir hayatnya. Terakhir adalah hari pertanggungjawaban, fase di mana manusia dihadapkan pada hasil prestasi dunianya, apakah berujung pada surga atau neraka.
Menutup kultumnya, Ustadz Suharsono mengutip ayat Al-Qur’an mengenai perbedaan antara penghuni surga dan neraka. Beliau menegaskan bahwa orang-orang yang beruntung adalah mereka yang mampu menjaga kualitas imannya hingga maut menjemput. Beliau pun mengajak jamaah untuk memaksimalkan Ramadan guna mencari ridha Allah SWT dan terus berjuang dalam kebaikan agar termasuk golongan orang-orang yang menang.











