Pasuruan, 7 Februari 2026 – Masjid Al Kautsar di Jalan Ir. Juanda, Tapaan, menjadi pusat perhatian jamaah dalam lanjutan kajian Sirah Nabawiyah yang disampaikan oleh Ustadz Nur Adi Septyanto, S.Ag. Kuliah subuh sesi kedua tersebut mengangkat tema “Pengorbanan dan Pondasi Peradaban 2” dan mengajak jamaah menyelami kembali akar kejayaan Islam pada masa Rasulullah SAW.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Nur Adi menekankan bahwa peradaban Islam tidak pernah lahir dari proses instan atau keajaiban semata. Kejayaan Madinah, menurutnya, dibangun melalui pengorbanan besar yang melibatkan harta, perasaan, hingga identitas sosial para sahabat di bawah bimbingan langsung Rasulullah SAW. Ia menyebut bahwa darah, air mata, dan integritas merupakan harga yang harus dibayar untuk membangun sebuah peradaban yang kokoh.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengorbanan pada fase awal Islam tidak terbatas pada aspek materi. Justru pengorbanan terbesar adalah melepaskan ego pribadi dan fanatisme kesukuan. Ia mencontohkan bagaimana kaum Anshar rela mengorbankan kenyamanan ekonomi mereka, sementara kaum Muhajirin harus menahan rindu terhadap tanah kelahiran demi mempertahankan iman dan prinsip perjuangan.
Kajian tersebut juga menyoroti bagaimana Rasulullah SAW membangun tatanan sosial Madinah melalui konsep Mu’akhah atau persaudaraan, yang berfungsi sebagai kontrak sosial pertama dalam Islam. Persaudaraan ini menjadi fondasi kuat yang menyatukan masyarakat lintas latar belakang. Ustadz Nur Adi menguraikan bahwa sistem tersebut berdiri di atas solidaritas ekonomi untuk mengurangi kesenjangan sosial, keadilan hukum yang berlaku setara bagi seluruh warga, serta ketahanan mental dalam menghadapi tekanan dan ancaman dari luar, khususnya dari kaum Quraisy.
Menutup kajian, Ustadz Nur Adi mengajak jamaah untuk tidak sekadar mengagumi sejarah emas Islam, tetapi menjadikannya sebagai cermin untuk kondisi umat saat ini. Ia menegaskan bahwa kebangkitan peradaban Islam di masa kini hanya dapat terwujud jika umat kembali menumbuhkan semangat pengorbanan dan mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Kuliah subuh tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya catatan masa lalu, melainkan sumber pelajaran strategis yang tetap relevan dalam menjawab tantangan peradaban umat Islam hari ini.













