Pasuruan, 20 Maret 2026 – Ribuan jamaah memadati Stadion Untung Suropati, Kota Pasuruan, sejak pagi hari untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. Shalat sunnah berjamaah yang digelar Jumat (20/3/2026) ini berlangsung khidmat dengan menghadirkan Dr. H.M. Nurul Humaidi, M.Ag., seorang khatib dan dai kondang dari Malang.
Dalam khutbahnya yang berlangsung sekitar 30 menit, Dr. H.M. Nurul Humaidi menyampaikan tema sentral tentang pergulatan antara takbir dan takabur dalam kehidupan seorang muslim. Ia mengawali khutbah dengan mengajak jamaah merenungkan makna takbir yang selama ini dikumandangkan, baik menjelang Idul Fitri maupun dalam setiap ibadah.
Takbir di Ibadah, Takabur di Kehidupan
“Allah mengajarkan kepada kita bahwa setelah menjalankan ibadah puasa, kita harus membesarkan Allah dan bersyukur kepada-Nya. Dalam ibadah shaum, takbir kita wujudkan untuk mengecilkan pengaruh hawa nafsu. Ketika salat malam, kita kecilkan urusan dunia. Ketika bertadarus, kita kecilkan seluruh pembicaraan manusia. Ketika berzakat, kita kecilkan kepentingan pribadi,” paparnya di hadapan ribuan jamaah.
Namun, khatib yang juga dikenal sebagai akademisi ini menyoroti ironi yang kerap terjadi. “Allah tahu kita sering bertakbir dalam ibadah-ibadah kita, tetapi melupakan takbir itu di luar ibadah. Kita besarkan Allah di tempat ibadah, tetapi di luar itu kita agungkan kekayaan, kekuasaan, dan kedudukan. Di atas sajadah kita bertakbir, tetapi ketika di kantor, di pasar, atau di tengah masyarakat, kita lupakan Allah. Kita ganti takbir itu dengan takabur,” tegasnya dengan suara lantang diselingi gemuruh takbir dari jamaah.
Kritik Sosial di Tengah Khutbah
Dalam khutbahnya, Dr. H.M. Nurul Humaidi tidak segan menyentuh berbagai persoalan kebangsaan yang sedang terjadi. Ia menyebutkan sejumlah peristiwa yang mewarnai akhir tahun 2025 dan awal 2026, seperti bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, kasus korupsi kuota haji yang melibatkan mantan menteri agama, maraknya operasi tangkap tangan (OTT) kepala daerah oleh KPK, hingga perang yang masih berkecamuk di Timur Tengah.
“Di tengah semua persoalan ini, marilah hari raya ini kita jadikan momentum untuk melakukan perenungan dan introspeksi muhasabah yang mendalam mengenai perjalanan keagamaan kita. Terlebih usai kita melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan,” ajaknya.
Ia mencontohkan bagaimana seseorang bisa membesarkan kekayaan hingga bersedia melakukan apa saja tanpa mempedulikan halal dan haram. “Ketika petunjuk Allah berbicara lewat bisikan hati nurani, jangan ambil kekayaan itu karena akan menyengsarakan orang banyak. Ternyata Anda memeras orang-orang yang lemah. Anda mengambil hak mereka yang mestinya Anda kasih. Kita lakukan cara apa pun tanpa mempedulikan apakah tindakan kita itu akan menghancurkan hidup orang lain,” kritiknya.
Bahaya Membesarkan Kekuasaan
Khatib yang berasal dari Malang ini juga menyoroti penyalahgunaan kekuasaan. Menurutnya, Islam tidak melarang umatnya untuk berkuasa, bahkan silakan raih kekuasaan setinggi mungkin. “Yang dilarang adalah mencemari kekuasaan dengan kepentingan pribadi, kepentingan keluarga, kepentingan kelompok dan golongan. Anda bertakbir dengan kekuasaan bila dengan kekuasaan itu Anda dahulukan kepentingan masyarakat secara keseluruhan sesuai petunjuk Allah,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa ketika orang sudah mengagungkan kekuasaan, jabatan tidak lagi dipandang sebagai amanah Allah, melainkan diterima sebagai alat untuk berbuat sewenang-wenang. “Kekuasaan yang mestinya digunakan untuk melindungi yang lemah, mengayomi yang tidak berdaya, membela yang teraniaya, malah digunakannya untuk melindungi yang kuat, mengayomi yang zalim, dan membela yang menganiaya.”
Takabur dan Obatnya
Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali, Dr. H.M. Nurul Humaidi menjelaskan bahwa puncak dari membesarkan kekayaan dan kekuasaan adalah membesarkan diri sendiri atau takabur. “Takabur yang paling jelek menurut Al-Ghazali adalah takabur kepada Allah. Kita bertakabur kepada Allah bila demi kekayaan dan kekuasaan kita bersedia melanggar hukum dan aturan Allah. Kita bertakabur bila kita menganggap paham dan aturan yang kita buat lebih baik daripada ayat-ayat dan syariat Allah.”
Ia menegaskan bahwa penyakit takabur hanya bisa disembuhkan dengan takbir, yaitu dengan senantiasa membesarkan Allah di mana pun berada. “Kita isi hari-hari kita dengan rukuk dan sujud kepada Allah. Kita hadirkan Al-Quran setiap hari. Kita bersihkan kekayaan kita dengan zakat. Kita perhatikan penderitaan saudara-saudara kita yang bernasib lebih malang,” pesannya.
Syukur dalam Amal Perbuatan
Memasuki bagian akhir khutbah, khatib mengajak jamaah untuk mewujudkan syukur dalam bentuk amal perbuatan. Ia mengutip firman Allah, “Wa amma bi ni’mati rabbika fahaddits” (Dan nikmat Tuhanmu, kabarkanlah). “Arti mengabarkan nikmat ialah menyebarkan nikmat yang kita peroleh kepada orang lain. Anda menjadi orang kaya yang paling bersyukur bila kekayaan Anda dapat dinikmati oleh orang banyak. Anda serahkan sebagian rezeki untuk menolong pasien tidak mampu, memberikan beasiswa, meringankan penderitaan orang miskin.”
Ia membedakan antara orang takabur dan orang yang bersyukur. “Yang takabur ialah orang yang selalu memanfaatkan orang lain untuk dirinya. Yang bersyukur ialah orang yang selalu berusaha bermanfaat bagi orang lain.”
Doa yang Mengharukan
Khutbah ditutup dengan doa yang panjang dan mengharukan. Dengan suara bergetar, Dr. H.M. Nurul Humaidi memanjatkan permohonan ampunan bagi seluruh umat Islam. “Ya Rabbana, kesalahan telah menutup kami dengan pakaian kehinaan. Perpisahan dari-Mu telah membungkus kami dengan jubah kerendahan. Besarnya dosa kami telah mematikan hati kami. Tak sanggup kami panjatkan doa karena seringnya kami melalaikan perintah-Mu, karena cepatnya kami melakukan larangan-Mu, karena kurangnya kami mensyukuri nikmat-Mu.”
“Namun kami beranikan juga untuk bermohon kepada-Mu, ya Rabb. Karena kami tahu Engkau amat pemurah kepada mereka yang menghadap-Mu dan menemui-Mu dengan penuh harapan. Inilah kami, ya Rabbana, bersimpuh kembali di pintu keagungan-Mu, bergetar berserah diri kepada-Mu,” lanjutnya disambut gemuruh “aamiin” dari ribuan jamaah.
Usai khutbah dan doa, suasana haru menyelimuti Stadion Untung Suropati. Jamaah mulai bersalam-salaman, melepas rindu di hari yang fitri, membawa pulang pesan mendalam untuk tidak sekadar bertakbir di lisan, tetapi juga mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.











