Pasuruan, 7 Maret 2016 – Dalam kultum ba’da Tarawih dan witir di Masjid At-Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, Ustadz Dadang menekankan bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar, melainkan momentum merayakan turunnya Al-Qur’an (Syahrul Ramadhan alladhi unzila fihil Qur’an). Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan tanpa alasan, melainkan sebagai petunjuk (huda) dan pembeda (furqan) antara yang hak dan yang batil.
Ustadz Dadang memaparkan fase turunnya Al-Qur’an yang tidak serta-merta hadir dalam bentuk tulisan (mushaf) seperti yang kita lihat hari ini. Wahyu tersebut turun dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia, kemudian disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan konteks dan kebutuhan zaman.
“Al-Qur’an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad, lalu disampaikan melalui hafalan kepada para sahabat. Bukan sekadar teks, tapi transformasi pendengaran yang meresap ke jiwa,” ujar beliau.
Ia juga mengingatkan sejarah kodifikasi Al-Qur’an yang dipicu oleh kekhawatiran para sahabat saat banyak penghafal Al-Qur’an gugur dalam peperangan. Berkat inisiatif itulah, hari ini umat Islam di era digital dapat menikmati kemudahan mengakses Al-Qur’an hanya melalui genggaman ponsel.
Salah satu poin paling menarik dalam ceramah tersebut adalah konsep “Membumikan Al-Qur’an untuk melangitkan manusia.” Ustadz Dadang mengingatkan bahwa manusia sering kali terjebak dalam delusi dunia.
“Banyak orang lupa karena interaksi dengan dunianya. Padahal, dunia bukan tempat kita tinggal, tapi tempat kita meninggal,” tegasnya. Beliau mengajak jemaah menyadari bahwa manusia adalah makhluk abadi (kholidina fiha) yang keberadaannya di bumi hanyalah persinggahan sementara menuju perjalanan yang lebih jauh.
Mengutip ayat suci, beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an datang sebagai mauidzah (pelajaran) dan syifa (penawar) bagi penyakit-penyakit hati. Beliau mendorong jemaah untuk menjadikan standar Al-Qur’an sebagai kompas moral, bukan sekadar mengikuti opini atau konsensus manusia semata.
“Jangan hanya merasa benar menurut pandangan kebanyakan manusia. Jika Al-Qur’an bilang benar, maka itu benar bagi kita. Jika Al-Qur’an bilang salah, maka itu salah bagi kita,” tutupnya.
Melalui kultum ini, Masjid At-Taqwa Jagalan kembali menjadi oase spiritual yang mengingatkan warga Pasuruan bahwa di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, Al-Qur’an tetaplah satu-satunya pegangan yang mampu membawa manusia “kembali ke langit” dengan selamat.











