Pasuruan, 25 Februari 2026 – Hangatnya silaturahmi terasa di Masjid Al Kautsar Ketika para jamaah berkumpul untuk menghidupkan malam kesembilan Ramadhan 1447 H. Setelah tuntas melaksanakan salat berjamaah Isya’, perhatian jamaah tertuju pada mimbar, tempat Ustadz Arifin Ahmad membagikan mutiara hikmah melalui kultumnya. Meski singkat, pesan yang disampaikan tampak membekas dalam pada raut wajah para jamaah yang hadir.
Memulai tausiyahnya dengan lantunan pujian syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Ustadz Arifin mengingatkan para jamaah tentang nikmat terbesar yang masih diberikan, yaitu keimanan dan kesempatan untuk menjalankan ibadah di bulan suci. “Alhamdulillah, pada hari ini kita telah memasuki malam ke Sembilan Ramadhan. Mudah-mudahan segala usaha keras kita untuk taat dan patuh kepada Allah dicatat sebagai amal kebaikan dan diganjar dengan pahala yang berlipat ganda. Amin,” ucapnya membuka ceramah.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Arifin kembali melanjutkan kajiannya mengenai sifat-sifat orang bertakwa (muttaqin) yang terdapat dalam Surat Ali Imran. Pada pekan-pekan sebelumnya, ia telah mengupas tentang pentingnya gemar bersedekah dan berinfak. Pada malam ini, fokus kajiannya tertuju pada dua sifat mulia berikutnya, yaitu kemampuan menahan amarah dan memberi maaf kepada sesama.
“Allah berfirman dalam Surat Ali Imran,
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ .
“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
Ustadz Arifin Mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi diri, Ustadz Arifin melontarkan pertanyaan mendasar, “Mengapa kita seringkali mudah tersinggung dan marah?” Menurutnya, akar dari permasalahan tersebut adalah ego dan perasaan berlebihan tentang diri sendiri. “Tersinggung itu muncul karena perasaan kita lebih baik dari orang lain, perasaan tidak dihargai, tidak dihormati, atau tidak diperhatikan. Padahal, hal sekecil apa pun di rumah tangga, bisa jadi penyebab kita kehilangan kendali atas amarah,” tuturnya.
Ustadz Arifin menekankan bahwa bulan Ramadhan adalah madrasah atau sekolah terbaik untuk melatih pengendalian diri. Ia menganjurkan para jamaah untuk membiasakan diri menghapus rasa marah dari hati dan pikiran, terutama terhadap keluarga, anak, dan istri. “Ego itu harus kita kalahkan dengan firman Allah dan teladan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Jangan biarkan setan menguasai kita dengan kemarahan. Diam sejenak, tarik napas, lalu senyum dan berikan maaf,” pesannya.
Lebih lanjut, ia mengaitkan latihan pengendalian diri ini dengan janji Allah bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. “Dengan Al-Qur’an, Allah berikan petunjuk bagi mereka yang mengikuti perintah-Nya untuk melangkah ke jalan keselamatan. Kelak, kita akan terbiasa tidak mudah sedih, tidak mudah marah, dan ringan memberi maaf,” imbuhnya.
Mengakhiri kultumnya, Ustadz Arifin memberikan motivasi psikologis kepada jamaah. Ia menyebutkan teori bahwa jika seseorang melatih suatu kebaikan selama 21 hari, maka hal itu akan menjadi kebiasaan dan melekat menjadi akhlak. “Kita sudah masuk hari kedelapan. Masih ada sekitar dua puluh hari lagi. Mari kita jadikan sisa Ramadhan ini sebagai momentum untuk terus berlatih hingga kita keluar sebagai pribadi yang berakhlakul karimah, pribadi yang benar-benar bertakwa,” pungkasnya.












