Pasuruan, 25 Februari 2026 – Suasana fajar yang sejuk di Pasuruan di hari puasa Ramadhan ke 8, tak sedikit pun memadamkan semangat para jemaah untuk memadati Masjid Darul Arqom di Jalan KH. Wachid Hasyim. Di tengah keheningan ibadah Subuh, Ustadz Anang Abdul Malik menyampaikan untaian nasihat yang menyentuh sanubari tentang jati diri manusia. Beliau mengajak jemaah menyadari bahwa setiap hembusan napas dan jejak langkah dalam hidup merupakan perjalanan panjang yang senantiasa mempertemukan kita dengan dua sisi realitas yang saling bertolak belakang namun tak terpisahkan.
Dalam tausiyahnya yang sarat makna, beliau mengajak kita untuk menyadari bahwa dalam kehidupan, kita selalu berpapasan dengan dua hal, yakni kebaikan dan keburukan. Dunia ini diciptakan berpasang-pasangan, siang dan malam, terang dan gelap, suka dan duka. Kita tidak bisa mengharapkan dunia yang hanya berisi putih tanpa hitam, atau kemudahan tanpa ujian. Setiap kali kita melangkahkan kaki keluar dari rumah, kita sebenarnya sedang berjalan di atas garis tipis antara peluang melakukan ketaatan atau terjebak dalam kemaksiatan. Kesadaran inilah yang harusnya membuat kita tidak pernah lengah, karena persimpangan itu ada di setiap sudut kehidupan, menanti kita untuk memilih arah.
Lebih jauh, Ustadz Anang menjelaskan bahwa berpapasan dengan kebaikan dan keburukan bukanlah sebuah kebetulan atau nasib buta, melainkan skenario ujian yang sengaja dirancang oleh Sang Pencipta. Ibtila’ ini adalah cara Allah memisahkan mana hamba yang paling baik amalnya. Lantas, bagaimana sikap kita saat berada di persimpangan itu? Pertama, diperlukan kepekaan nurani. Seringkali keburukan datang dengan kemasan yang indah, membujuk rayu, sementara kebaikan tampak berat, mendaki, dan penuh duri. Di sinilah fungsi iman sebagai navigasi utama, agar kita tidak salah pilih saat berpapasan dengan keduanya. Imanlah yang menerangi hati, membedakan mana yang hak dan mana yang batil, meskipun batil itu diselimuti seribu kilau pesona.
Kedua, respons terhadap keburukan. Saat berpapasan dengan keburukan, pilihannya bukan untuk ikut arus, bukan pula sekadar diam. Seorang mukmin dituntut untuk menjadi pembatas, atau setidaknya menjadi pengingat. Mencegah dengan tangan jika mampu, dengan lisan jika tidak, dan dengan hati sebagai selemah-lemahnya iman, namun itu pun masih lebih baik daripada membiarkan keburukan merajalela tanpa perlawanan. Ketiga, yang tak kalah penting adalah konsistensi dalam menjemput kebaikan. Kebaikan yang datang di persimpangan itu harus segera dijemput, karena fastabiqul khairat adalah perintah untuk berlomba-lomba. Kesempatan berbuat baik tidak selalu datang dua kali di persimpangan yang sama. Mungkin hari ini kita bertemu dengan orang yang membutuhkan bantuan, mungkin esok tidak lagi. Mungkin hari ini ada kesempatan untuk shalat berjamaah di masjid, mungkin esok kita dihalangi oleh uzur. Maka, ketika kebaikan menghampiri, sambutlah dengan tangan terbuka, karena ia adalah tamu yang membawa berkah.
Ustadz Anang mengingatkan bahwa pada akhirnya, bukan apa yang kita temui di persimpangan jalan yang menentukan nilai kita di hadapan Allah, melainkan bagaimana kita merespons pertemuan tersebut. Apakah kita tergoda oleh keburukan yang berkilau, atau justru memeluk kebaikan yang pahit di awal namun manis di akhir? Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan menentukan siapa kita sebenarnya. Kebaikan yang kita temui harus disyukuri dan ditingkatkan, sementara keburukan yang hampir menjerat harus dijadikan pelajaran berharga untuk kembali ke jalan yang lurus. Di persimpangan fajar itulah, dengan hati yang bening setelah sujud, kita belajar untuk menjadi pemenang, bukan di awal pertemuan, tetapi di garis finis kehidupan.












