Pasuruan, 10 Maret 2026 – Antusiasme jamaah Masjid Al Kautsar untuk meraih malam Lailatul Qadar begitu terasa. Pada malam ke-21 Ramadan yang penuh berkah, para jamaah yang beri’tikaf menyimak dengan saksama tausiyah Ustadz Abdul Basith, M.A. yang mengupas tuntas amalan-amalan utama penghujung Ramadan.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Abdul Basith menyentil dinamika penetapan awal Ramadan yang kerap berbeda. Beliau mencontohkan potensi perbedaan berdasarkan ketinggian hilal, misalnya dua derajat di Surabaya dan tiga derajat di Aceh. “Kita semua, termasuk Pak Presiden dan Pak Menteri Agama, inginnya sama. Tapi jika berbeda, itu sudah biasa dalam sistem pemerintah kita. Yang penting kita saling menghormati,” ujarnya menekankan pentingnya toleransi, seraya tersenyum mengingatkan para jamaah untuk tidak fanatik terhadap perbedaan metode penetapan awal bulan, baik itu rukyat maupun hisab.
Mengambil momentum malam i’tikaf, Ustadz Abdul Basith menjelaskan fleksibilitas ibadah ini dalam empat mazhab. “Imam Hanafi bilang minimal sehari, Imam Malik sepuluh hari karena Rasulullah i’tikaf sepuluh hari, sementara Imam Syafi’i membolehkan meski hanya sesaat. Jadi kita harus saling menghormati, jangan fanatik mazhab,” jelasnya, seraya mengaitkan dengan perbedaan tata cara sholat yang juga merupakan hasil ijtihad para ulama.
Inti kajian berpusat pada empat golongan manusia yang akan mendapatkan naungan surga, yang intisarinya diambil dari hadits riwayat Imam Ahmad. Keempat golongan tersebut adalah:
- Ahlul Quran: Mereka yang membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an. Ustadz Abdul Basith menekankan pentingnya membaca Al-Qur’an beserta terjemahannya agar meresapi maknanya. Beliau juga memberikan motivasi dengan contoh anak-anak yang hafal 30 juz dan mendapatkan beasiswa hingga menjadi pilot.
- Pemberi Makan Orang Lapar: Bukan sekadar memberi makan fakir miskin, tetapi prioritas kepada mereka yang benar-benar dalam keadaan kelaparan. Beliau mengutip kisah inspiratif tentang seorang suami istri yang rela memberikan jatah makanan anaknya kepada tamu yang kelaparan karena keimanan yang kuat.
- Penjaga Lisan: Golongan yang mampu menjaga lidahnya dari menceritakan setiap yang didengar dan dilihat, terutama aib orang lain. Beliau bahkan memberi contoh tentang “bohong yang diperbolehkan” untuk mendamaikan dua pihak yang berselisih, seperti suami istri.
- Orang yang Berpuasa: Puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah istimewa yang pahalanya langsung diurus oleh Allah SWT. Ibadah ini disebutnya sebagai “pembakar” dosa-dosa.
Ustadz Abdul Basith juga memaparkan tiga amalan yang timbangannya akan sangat berat di akhirat, bahkan tanpa melalui proses hisab yang lama:
- Pertama, Sabar: Beliau mengutip Surat Az-Zumar ayat 10 yang menyatakan bahwa pahala orang sabar dihitung tanpa batas.
- Kedua, Memaafkan: Berdasarkan Surat Asy-Syura ayat 40, orang yang memaafkan dan berbuat baik, pahalanya langsung dari Allah SWT.
- Ketiga, Puasa: Kembali ditegaskan sebagai amalan yang istimewa.
Di sela-sela kajian, Ustadz Abdul Basith juga berbagi pengalaman pribadi tentang pentingnya menuntut ilmu secara konsisten, layaknya mengecas handphone agar tidak mati. Beliau mendorong jamaah untuk melibatkan keluarga dalam kebaikan, mengajak istri dan anak-anak mengaji agar surga tidak dinikmati sendiri.
Kajian yang diselingi canda tawa dan kisah-kisah inspiratif ini ditutup dengan sesi tanya jawab, meninggalkan pesan mendalam bagi para jamaah yang beri’tikaf untuk mengisi malam-malam terakhir Ramadan dengan amalan-amalan terbaik.











