Pasuruan, 9 Januari 2026 – Pondok Pesantren Speam Kota Pasuruan menggelar kegiatan Pembinaan dan Upgrading Ustadz/Ustadzah serta Karyawan sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pesantren. Kegiatan ini dilaksanakan pada Januari 2026 dan diikuti oleh seluruh tenaga pendidik serta tenaga kependidikan di bawah naungan Majelis Dikdasmen PDM Kota Pasuruan.
Dalam kegiatan tersebut, materi utama disampaikan oleh Drs. Fatoni, selaku Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Pasuruan, dengan tema “Pengembangan Profesionalisme GTK”. Materi ini menekankan pentingnya peningkatan kualitas dan karakter guru serta tenaga kependidikan dalam menghadapi dinamika pendidikan masa kini.
Mengawali paparannya, Drs. Fatoni mengutip pesan inspiratif dari KH Abdullah Syukri Zarkasyi yang menegaskan bahwa jiwa seorang guru lebih penting daripada metode dan materi pembelajaran. Menurutnya, profesionalisme sejati lahir dari integritas, keikhlasan, dan komitmen guru untuk terus belajar serta memperbaiki diri.
Dalam penjelasannya, Drs. Fatoni menguraikan makna profesionalisme sebagai sikap, perilaku, dan standar kualitas tinggi dalam menjalankan profesi secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Ia juga menegaskan bahwa guru merupakan pendidik profesional yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian peserta didik, sementara tenaga kependidikan memiliki peran penting dalam menunjang keberlangsungan layanan pendidikan di pesantren.
Lebih lanjut, ia memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi guru dalam mendidik generasi Alpha, di antaranya mudahnya peserta didik merasa bosan, tingginya distraksi akibat gawai, persoalan emosi dan mental, serta tuntutan orang tua yang semakin besar. Perkembangan teknologi dan perubahan kurikulum yang cepat juga menuntut guru untuk terus menyesuaikan diri dan meningkatkan kompetensi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Drs. Fatoni menjelaskan lima aspek utama pengembangan profesionalisme GTK, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, sosial, dan digital. Kelima aspek ini harus dimiliki secara seimbang agar guru mampu menjadi pendidik yang efektif, adaptif, dan berkarakter.
Ia juga menekankan pentingnya sikap penunjang profesionalisme, seperti disiplin waktu, komunikasi yang jelas, kerja sama tim, sikap positif, serta kesadaran terhadap kelebihan dan kekurangan diri. Sejumlah strategi pengembangan profesionalisme turut disampaikan, mulai dari pelatihan dan workshop, komunitas belajar, mentoring dan coaching, pemanfaatan teknologi, kolaborasi, hingga pengembangan mandiri seperti menulis karya ilmiah.
Dalam materinya, Drs. Fatoni menggambarkan sosok guru yang diidolakan oleh murid generasi Alpha, yakni guru yang humanis, ramah, kreatif, adil, melek teknologi, serta mampu menjadi teladan (role model) dalam sikap dan perilaku. Sebaliknya, ia juga mengingatkan agar guru dan karyawan menghindari sikap kurang empati terhadap sekolah yang dapat berdampak negatif terhadap iklim pendidikan dan citra lembaga.
Melalui kegiatan pembinaan dan upgrading ini, Pondok Pesantren Speam Kota Pasuruan berharap seluruh ustadz, ustadzah, dan karyawan semakin termotivasi untuk meningkatkan profesionalisme dan dedikasi. Dengan SDM yang berkualitas, pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Sebagaimana pesan penutup yang disampaikan oleh pemateri, “Guru profesional bukan yang paling tahu, tetapi yang terus mau belajar dan memperbaiki diri.”
Editor : Marjoko













