Pasuruan, 9 Januari 2026 – Upaya penguatan strategi penerimaan santri baru menjadi salah satu fokus utama dalam kegiatan Pembinaan dan Upgrading Ustadz–Ustadzah serta Karyawan yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren SPEAM Kota Pasuruan. Kegiatan ini diarahkan untuk menyatukan visi seluruh unsur pesantren dalam mengembangkan lembaga secara berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, M. Nuryasin, S.Pd. menekankan pentingnya memahami alasan mendasar (mengapa) sebuah lembaga pendidikan harus serius mengelola promosi dan publikasi. Beliau mengibaratkan kualitas dan kuantitas sebagai keseimbangan strategis, di mana kebaikan yang terorganisasi dan terarah akan menghasilkan dampak besar bagi citra serta keberlangsungan pesantren.
Dari sisi waktu pelaksanaan, Beliau menjelaskan bahwa promosi dan publikasi tidak boleh bersifat musiman semata, melainkan harus dilakukan sejak sekarang, berkelanjutan dari masa lalu, hingga terencana untuk masa mendatang. Konsistensi ini dinilai penting agar pesantren selalu hadir di tengah masyarakat sebagai lembaga yang terpercaya.
Pada bagian tengah pemaparan, Nuryasin menjelaskan bahwa kegiatan pembinaan ini juga menjadi bagian dari penguatan sumber daya manusia dan strategi pengembangan lembaga. Dalam forum tersebut, Beliau memaparkan konsep PPDB/SPMB melalui promosi, publikasi, dan tabligh yang harus dijalankan secara terstruktur, sistematis, dan masif oleh seluruh elemen Pondok Pesantren SPEAM Kota Pasuruan.
Terkait apa yang “dijual” oleh pesantren, Nuryasin menegaskan pentingnya menampilkan produk pendidikan yang khas dan unggul, baik dari sisi program, karakter, maupun nilai. Selain itu, lembaga harus mampu meninggalkan jejak bukti, yaitu kesesuaian antara janji dan realita layanan pendidikan yang diterima santri dan wali santri.
Nuryasin juga menguraikan segmentasi sasaran promosi yang mencakup kalangan internal, eksternal, hingga masyarakat moderat. Dalam aspek pembiayaan operasional, keberadaan santri baru, santri lama, serta dukungan donatur disebut sebagai pilar utama keberlangsungan pesantren.
Mengenai target capaian, peserta diajak untuk berpikir realistis namun progresif, mulai dari jumlah santri yang lulus, target santri baru tahun berjalan, hingga total santri yang ingin diraih. Selain itu, pemahaman terhadap mitra tanding, baik internal maupun eksternal di tingkat kota, provinsi, hingga nasional, dinilai sangat penting.
Sebagai penutup, Nuryasin menegaskan bahwa seluruh strategi tersebut harus dijalankan dengan prinsip TSM (Terstruktur, Sistematis, dan Masif). Semua unsur pesantren harus terlibat, perencanaan dilakukan secara matang dan berurutan, serta dilaksanakan dalam skala besar dan berkelanjutan. Prinsip ini, menurutnya, sejalan dengan spirit QS Al-Nashr tentang manusia yang berbondong-bondong masuk ke jalan Allah.
Editor: Marjoko











