Pasuruan, 12 Desember 2025 – Di tengah gemuruh semangat di Hall SMK Muhammadiyah 1 (SMK Mutu) Kota Pasuruan, Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Pasuruan Raya, M. Arif Yanuar, menyampaikan sambutan yang menohok dalam pembukaan Pelatihan Darul Arqam Dasar (DAD) ke-8.
Bukan sekadar basa-basi seremonial, sambutan Arif menjadi semacam ‘manifesto perlawanan’ terhadap stagnasi perkaderan. Ia menegaskan bahwa DAD kali ini adalah “kawah candradimuka” bagi 10 kader baru hasil penjaringan ketat yang siap dicetak menjadi ideolog masa depan.
‘Provokasi’ Intelektual untuk Tamu Undangan IPM
Momen menarik terjadi ketika Arif mengarahkan pandangannya kepada barisan tamu undangan dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang turut hadir memeriahkan acara. Ia melontarkan “ultimatum intelektual” agar para pelajar ini tidak merasa cukup hanya dengan seragam sekolah.
Arif menantang kader IPM untuk berani melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, karena dialektika di dunia kampus menawarkan tantangan yang berbeda.
“Khusus kami pesan buat adik-adik IPM yang hari ini masih duduk di bangku sekolah… Teruslah untuk mencari ilmu, jangan sampai putus di bangku sekolah. Silakan untuk ke jenjang berikutnya yaitu di jenjang perkuliahan. Tentu nanti akan merasakan perubahan dan perbedaan antara duduk di bangku sekolah dan di perkuliahan,” pesannya dengan nada serius.
Pesan ini menyiratkan bahwa IPM adalah lumbung kader potensial yang haram hukumnya untuk berhenti tumbuh.
Gesekan Organisasi: IMM Siap ‘Bertarung’ di Luar Kandang
Dengan nada blak-blakan, Arif juga menyoroti realitas lapangan. Ia mengakui tantangan terbesar IMM Pasuruan Raya adalah penetrasi di kampus-kampus non-Muhammadiyah seperti Uniwara dan Universitas Yudharta. Di sana, gesekan antar-ormek (organisasi mahasiswa ekstra kampus) sangat terasa.
“Ketika kita perjuangan mencari kader ke kampus lain selain kampus Muhammadiyah… tentu gesekan antar-ormek sangat begitu kuat di bawah,” ungkapnya realistis.
Namun, ia menegaskan bahwa kehadiran IMM di kampus-kampus tersebut adalah bukti mentalitas petarung kader Muhammadiyah yang siap bersaing di medan terbuka, bukan hanya “jago kandang”.
Kampus Muhammadiyah: Episentrum yang Wajib Hidup
Lebih lanjut, Arif menyinggung peran vital Kampus Muhammadiyah sebagai jantung pergerakan. Ia menyebut kampus ini sebagai episentrum perkaderan yang harus terus disuplai oleh energi kritis mahasiswa.
“Salah satu episentrum perkaderan itu ya ada di Kampus Muhammadiyah. Jika kampus Muhammadiyah itu sendiri tidak bisa menghadirkan seorang mahasiswa yang sebenarnya, maka tentu perkaderan IMM pun juga akan merasakan hal yang sama,” tegasnya.
Penutup: Estafet Gerakan & Teriakan Mahasiswa
Arif menutup sambutannya dengan harapan besar agar kader-kader baru ini mampu menjadi penerus estafet kepemimpinan yang tangguh dan adaptif.
“Semoga para calon kader baru ini nanti bisa meneruskan estafet perkaderan dan estafet organisasi kita di Pasuruan ini,” pungkasnya.
Sesi ditutup dengan pekikan khas aktivis yang disambut gemuruh peserta, menandakan dimulainya era baru kaderisasi:
“IMM! Jaya! IMM! Jaya! IMM! Jaya! Jaya! Jaya! Hidup Mahasiswa!”.












