Pasuruan, 9 Februari 2026 – Suasana dingin pagi di Jalan KH. Wachid Hasyim, namum terasa lebih hangat di dalam Masjid Darul Arqom. Usai jamaah menunaikan salat Subuh, Ust. H. M. Yusuf Hasmy, SE. naik ke mimbar untuk membedah sebuah surat yang menjadi “obat penawar” bagi setiap jiwa yang sedang lelah: Surat Asy-Syarh.
Dalam ceramahnya, Ust. Yusuf menekankan bahwa surat ini bukan sekadar rangkaian ayat, melainkan janji konkret dari Allah SWT mengenai manajemen beban hidup dan optimisme.
1. Kelapangan Dada sebagai Kunci Utama
Membuka kajian dengan ayat pertama, “Alam nasyrah laka shadrak”, beliau menjelaskan bahwa langkah pertama dalam menghadapi ujian hidup bukanlah hilangnya masalah, melainkan kelapangan dada.
”Masalah yang sama akan terasa berbeda dampaknya bagi orang yang dadanya sempit dengan orang yang dadanya dilapangkan oleh Allah,” ujar Ust. Yusuf. Beliau mengingatkan bahwa kita sering meminta masalah ditiadakan, padahal yang kita butuhkan adalah hati yang lebih luas untuk menampungnya.
2. Janji Berulang:
Kemudahan Itu Berdampingan
Poin krusial dalam ceramah ini adalah bedah bahasa pada ayat 5 dan 6: “Fa inna ma’al ‘usri yusra, inna ma’al ‘usri yusra”. Secara teknis, Ust. Yusuf menyoroti penggunaan kata Ma’a (bersama/beserta).
Bukan “Setelah”, tapi “Bersama”: Kemudahan tidak datang setelah kesulitan selesai, melainkan hadir di dalam kesulitan itu sendiri.
Kepastian Mutlak: Pengulangan ayat ini adalah penegasan (taukid) bahwa bagi setiap satu kesulitan, Allah telah menyiapkan dua kemudahan yang mengiringinya.
3. Etos Kerja:
Jangan Berhenti di Satu Titik
Sebagai seorang yang berlatar belakang ekonomi (SE), Ust. Yusuf juga mengaitkan ayat ke-7, “Fa idza faraghta fanshab”, dengan etos kerja Islami. Pesannya jelas: Produktivitas tanpa henti.
Apabila satu urusan atau beban duniawi telah selesai, janganlah berpangku tangan. Segeralah bersiap untuk urusan berikutnya, baik itu urusan akhirat maupun produktivitas lainnya. Islam tidak mengenal kata “menganggur” dalam arti membuang waktu sia-sia.
Kesimpulan: Berharap Hanya pada Satu Muara
Kajian ditutup dengan pengingat tentang ayat terakhir, “Wa ila rabbika hanya kepada Allah. Inilah yang menjaga seorang mukmin dari kekecewaan saat ekspektasi dunia tidak terpenuhi.
Ceramah singkat namun padat ini meninggalkan pesan kuat bagi jamaah Masjid Darul Arqom untuk memulai pekan ini dengan kepala tegak dan hati yang lapang.











