Pasuruan, 20 Maret 2026 – Fajar di Pasuruan disambut dengan gema takbir yang memenuhi halaman Masjid Baiturrahman. Suasana penuh ketenangan menyelimuti para jamaah yang hadir untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Momen Idul Fitri 1447 H kali ini semakin bermakna dengan pesan spiritual yang disampaikan oleh Dr. H. Hery Kustanto dalam khutbahnya.
Khatib memulai khutbah dengan lantunan takbir, tahmid, dan tahlil yang menggema, mengajak jamaah merenungkan kepergian bulan suci Ramadhan. “Ramadhan telah melipat hamparan sajadahnya. Ia telah pamit dengan tenang meninggalkan jejak air mata di sudut-sudut mihrab. Tinggal tersisa haus dan lapar yang seharusnya melembutkan kerasnya batu di dalam hati kita semua,” ujar Dr. Hery di hadapan para jamaah,
Dalam khutbah bertema “Rekonstruksi Jiwa Menuju Fitrah” ini, khatib mengajak jamaah untuk bertanya pada diri sendiri apakah Ramadhan yang telah dilewati meninggalkan bekas atau sekadar berlalu seperti angin tanpa mengubah arah kehidupan.
Tiga Pesan Penting Idul Fitri
Mengawali pesan utamanya, Dr. Hery menjelaskan makna kemenangan Idul Fitri dari perspektif ilmiah. Ia menyebutkan bahwa puasa tidak hanya melatih kesabaran secara spiritual, tetapi juga memicu proses autofagi—mekanisme alami tubuh membersihkan sel-sel yang rusak—serta neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk tidak reaktif terhadap keinginan sesaat.
“Kita menang karena sejatinya kita telah berhasil membuktikan bahwa rohani kita lebih kuat daripada jasmani kita. Kita membuktikan bahwa kita adalah tuan di atas diri kita sendiri, bukan budak terhadap nafsu dan keinginan,” tegasnya.
Khatib kemudian memaparkan tiga hal penting yang dapat dipetik dari peristiwa Ramadhan dan Idul Fitri:
Pertama, kembali ke fitrah orisinal. Idul Fitri secara bahasa berarti kembali berbuka atau kembali ke fitrah. Dr. Hery menganalogikan fitrah sebagai “default system” atau sistem bawaan manusia. “Secara ilmiah, manusia telah terlahir dengan hardware ketuhanan. Kita punya kecenderungan alami untuk mencintai kebaikan, kebenaran, keadilan, kejujuran, dan kedamaian. Dosa-dosa adalah malware yang merusak sistem itu,” jelasnya.
Kedua, puasa dan kecerdasan emosional. Khatib mengaitkan ibadah puasa dengan konsep kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ). Ia menjelaskan bahwa kemampuan menunda kesenangan sesaat demi tujuan yang lebih besar merupakan indikator utama EQ.
“Ketika kita mampu menahan lisan saat diprovokasi, ketika kita mampu menahan jari yang sedang panas-panasnya tersindir di grup WA, sejatinya kita sedang mengaktifkan Prefrontal Cortex—bagian otak yang mengendalikan dorongan emosional. Inilah ciri manusia bertakwa yang memiliki kendali penuh atas emosinya,” paparnya.
Ketiga, bersegera dalam kebaikan. Ramadhan mengajarkan empati melalui rasa lapar yang dirasakan, sehingga umat Islam berlomba-lomba memberikan takjil, berinfak, dan bersedekah. Khatib mengingatkan untuk terus mempertahankan semangat berbagi ini meskipun Ramadhan telah berlalu.
Memaafkan Meningkatkan Kekebalan Tubuh
Dalam khutbahnya, Dr. Hery juga menyampaikan perspektif medis tentang pentingnya memaafkan. “Secara medis, dendam meningkatkan stres. Memaafkan adalah melepaskan beban sekaligus meningkatkan kekebalan tubuh. Orang yang mudah memaafkan, mampu mengendalikan emosi, dan gampang melupakan kesalahan orang lain cenderung memiliki kekebalan tubuh lebih baik,” ungkapnya mengutip firman Allah dalam Al Quran tentang menahan amarah.
Doa untuk Palestina dan Bangsa Indonesia
Di penghujung khutbah, khatib memimpin doa bersama yang khusyuk. Ia memohon kepada Allah agar menerima seluruh amalan Ramadhan, mengampuni dosa-dosa, dan merahmati kedua orang tua. Doa khusus juga dipanjatkan untuk saudara-saudara Muslim di Palestina, terutama Gaza, yang sedang menghadapi kezaliman.
“Lindungi dan selamatkan saudara-saudara kami di Gaza, Palestina. Mereka yang dizalimi, kepada siapa lagi kami mengadu ya Allah. Maafkan kami yang hanya bisa mendoakan dari jauh, menyaksikan kekejaman luar biasa yang dialami oleh saudara-saudara kami,” ucapnya dengan suara bergetar.
Khatib juga mendoakan keberkahan untuk bangsa Indonesia, memohon bimbingan bagi para pemimpin umat dan bangsa agar senantiasa menjunjung tinggi perintah Allah, sehingga negeri ini menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—negara yang baik dan penuh ampunan.
Sebelum mengakhiri khutbah dengan salam, Dr. Hery mengingatkan tiga bekal penting sebagai resolusi hidup mulia pasca-Ramadhan: mempertahankan fitrah orisinal dengan istiqomah dalam kebaikan meskipun kecil, mengembangkan kecerdasan emosional dengan pandai mengendalikan emosi, dan melibatkan diri dalam komunitas orang-orang baik.
Taqabbalallahu minna wa minkum, semoga Allah menerima amal ibadah kita selama Ramadhan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin.









