Masjid Al-Ukhuwah Sekarsono, Kota Pasuruan, kembali menggelar pengajian Ahad pagi (01/02/2026) yang diikuti oleh jamaah dengan penuh khidmat. Pada kajian kali ini, Ustaz H. Baidowi menyampaikan tafsir Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 30 yang membahas tentang penciptaan Nabi Adam AS sebagai khalifah di muka bumi.
Dalam pemaparannya, Ustaz Baidowi menjelaskan makna ayat “Inni ja’ilun fil ardhi khalifah” yang berarti bahwa Allah SWT menjadikan manusia sebagai pemimpin atau wakil-Nya di bumi. Ayat tersebut juga menggambarkan dialog antara Allah dan para malaikat, ketika malaikat mempertanyakan mengapa manusia dijadikan khalifah, sementara mereka khawatir manusia akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Allah SWT pun menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para malaikat.
Ustaz Baidowi menguraikan bahwa sebelum penciptaan Nabi Adam AS, telah ada makhluk lain yang mendiami bumi, di antaranya yang dikenal sebagai Al-Hin dan Al-Bin, yang kerap melakukan kerusakan dan peperangan. Setelah itu muncul generasi jin, yang juga mengalami konflik satu sama lain, kecuali Azazel. Azazel merupakan golongan jin yang sangat taat beribadah hingga derajatnya disetarakan dengan malaikat. Namun, kesombongan membuatnya menolak perintah Allah untuk menghormati Adam AS. Penolakan itulah yang menyebabkan Azazel berubah menjadi Iblis yang terlaknat.
Lebih lanjut, disampaikan bahwa Nabi Adam AS diciptakan dari tanah liat (salsalin min hama’in masnun), namun Allah menjadikannya makhluk yang paling mulia dibandingkan makhluk lainnya. Kesombongan Iblis yang merasa lebih baik karena diciptakan dari api menjadi pelajaran penting bagi manusia agar menjauhi sifat merasa paling benar, paling alim, dan paling mulia. Menurut Ustaz Baidowi, sifat tersebut merupakan karakter Iblis yang harus dihindari oleh setiap muslim.
Pada bagian selanjutnya, kajian beralih pada pentingnya menjaga hati. Ustaz Baidowi mengangkat kisah Lukmanul Hakim sebagai teladan. Lukmanul Hakim bukanlah nabi, rasul, maupun wali, melainkan seorang pencari kayu bakar yang dulunya adalah seorang budak. Namun, karena kesungguhannya menghadiri majelis ilmu, Allah SWT menganugerahkan hikmah kepadanya.
Dikisahkan bahwa ketika Allah memerintahkan Lukmanul Hakim untuk mengambil bagian terbaik dari seekor domba, ia memilih hati. Alasannya, hati merupakan inti dari diri manusia. Jika hati baik, maka ucapan dan perilaku akan baik pula. Sebaliknya, jika hati rusak, maka tutur kata dan perbuatan seseorang cenderung kepada keburukan. Pesan ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang menekankan pentingnya menjaga hati dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.
Selain menjaga hati, pemateri juga menekankan pentingnya menjaga hubungan antar sesama manusia. Hal ini dikaitkan dengan ajaran yang diberikan kepada Nabi Adam AS terkait pernikahan anak-anaknya secara silang sebagai upaya menghindari konflik dan permusuhan. Jamaah diajak untuk meneladani para ulama dan orang-orang yang mencintai Allah agar mendapatkan kasih sayang dan ridha-Nya.
Dalam pembahasan mengenai shalat, Ustaz Baidowi mengutip Surah Al-Mu’minun ayat 1 hingga 11 yang menjelaskan ciri-ciri orang mukmin yang beruntung. Salah satu ciri utama tersebut adalah menjaga shalat, khususnya shalat berjamaah. Ia menegaskan bahwa shalat berjamaah memiliki keutamaan yang jauh lebih besar dibandingkan shalat sendirian di rumah.
Bahkan, apabila imam melakukan kesalahan dalam bacaan atau gerakan shalat, makmum yang mengetahuinya dianjurkan untuk mengingatkan dengan cara yang baik dan penuh adab. Berdasarkan hadis shahih, para malaikat senantiasa mengawasi dan mencatat amalan manusia, khususnya pada shalat Subuh dan Asar berjamaah yang disaksikan oleh seluruh makhluk di bumi.
Keutamaan lain dari shalat berjamaah adalah tumbuhnya kebersamaan dan semangat saling mengajak dalam kebaikan. Ustaz Baidowi menggambarkan bahwa jika satu orang mengajak satu orang lain untuk shalat berjamaah, maka jumlah jamaah akan terus berkembang, dari dua menjadi empat, empat menjadi delapan, dan seterusnya.
Menutup kajiannya, Ustaz Baidowi berpesan agar setiap muslim senantiasa menyampaikan kebenaran, saling mengingatkan, dan menasihati dengan penuh kasih sayang. Hal tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi, sekaligus wujud nyata dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Reporter: Firnas Muttaqin dan Yogi Arfan
Editor: Yogi Arfan











