Pasuruan, 23 Februari 2026 – Masjid Al-Kautsar memancarkan aura kehangatan dan kebersamaan pada pelaksanaan Kultum Sholat Terawih. Di tengah barisan saf yang rapat, para jamaah duduk bersimpuh dengan penuh antusiasme menyerap butiran ilmu dari Ustadz Heru Winarno. Mengawali rangkaian ceramah Ramadhan, beliau menyentuh hati para hadirin melalui renungan tentang hakikat keindahan serta tujuan akhir perjalanan hidup seorang muslim.
Dengan gaya bertutur yang komunikatif, Ustadz Heru memulai ceramahnya dengan sebuah analogi sederhana namun mengena. Beliau melontarkan pertanyaan, “Menurut panjenengan, kira-kira tempat yang indah itu di mana?” Pertanyaan ini, lanjutnya, akan dijawab berbeda oleh setiap orang, tergantung pada persepsi, pengalaman, dan referensi masing-masing.
“Orang yang tinggal di pantai mungkin akan menjawab tempat indah itu ada di pegunungan, karena jarang ia lihat. Sebaliknya, orang gunung akan menyebut pantai dengan pasir putih sebagai tempat terindah. Bahkan ada yang mengagungkan Bali, berbeda dengan di Natuna, melihat keindahan luar biasa di pulau-pulau terdepan Indonesia, yang konon pernah dikunjungi David Beckham,” tutur Ustadz Heru, membangkitkan senyum dan perhatian jamaah.
Namun, Ustadz Heru Winarno kemudian mengarahkan pertanyaan tersebut pada esensi yang lebih dalam. “Lalu, kira-kira bagi seorang muslim, bagi orang beriman, apa tempat yang paling indah?” Jamaah pun serempak menjawab, “Surga, Ustadz!”
“Benar sekali,” ujar Ustadz Heru. “Tempat yang paling indah adalah surga. Keindahannya belum mampu kita bayangkan seperti apa. Karena itu, sebagaimana kita rela menabung, bekerja keras, dan berkorban untuk bisa umroh atau naik haji menuju tempat indah di dunia, timbul pertanyaan: Apakah kita bisa ‘membeli’ surga? Apakah kita masuk surga karena amal-amal kita?”
Pertanyaan kritis ini menjadi inti dari tausiyah yang disampaikan. Ustadz Heru Winarno kemudian memaparkan dalil-dalil untuk menjawabnya. Ia mengutip hadits riwayat Abu Hurairah RA yang disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim. Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang pun yang amalnya memasukkan dia ke dalam surga.” Para sahabat pun bertanya, “Termasuk engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, juga tidak aku, kecuali apabila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku.”
Hadits ini, jelas Ustadz Heru, menunjukkan bahwa amal saleh seseorang tidak layak menjadi ‘harga’ untuk membeli surga. Sebesar apa pun amal seseorang, ia tetaplah kecil jika dibandingkan dengan nikmat dan kemuliaan surga yang tak terhingga.
Ia juga mencontohkan kisah seorang ahli ibadah yang berumur 600 tahun lebih, yang ketika dihisab, amalnya tetap tidak cukup untuk ‘membayar’ surga. Allah SWT memasukkannya ke surga semata-mata karena karunia dan rahmat-Nya.
Namun, Ustadz Heru Winarno juga menegaskan bahwa hal ini tidaklah bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa surga diperoleh karena amal. Beliau mengutip Surat An-Nahl ayat 21 dan Surat Al-A’raf ayat 32 yang menyatakan surga disediakan bagi orang-orang bertakwa dan mereka mewarisinya disebabkan amal yang mereka kerjakan.
“Jadi, tidak ada pertentangan,” tegas Ustadz Heru. “Kita tidak bisa masuk surga hanya bermodalkan amal. Namun, karena karunia dan rahmat Allah, kita diberi hidayah, taufik, dan kekuatan untuk beriman dan beramal saleh. Amal itulah yang kemudian, dengan rahmat Allah, menjadi sebab kita dimasukkan ke dalam surga. Semuanya bermula dan berakhir pada karunia Allah.”
Di penghujung kultum, Ustadz Heru Winarno mengajak jamaah untuk bersyukur bertemu dengan bulan Ramadhan, bulan penuh ampunan. “Mari kita manfaatkan Ramadhan ini, berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan iman dan ihtisab (mengharap pahala), agar kita diampuni dosa-dosanya. Semoga kita semua termasuk golongan yang mendapatkan karunia surga-Nya,” tutupnya.












