Pasuruan, 27 Februari 2026 – Cahaya spiritualitas berpendar di Masjid Al Ukhuwah saat memasuki malam kesepuluh di bulan Ramadan 1447 H. Di tengah kekhusyukan para jamaah qiyamul lail yang baru saja melabuhkan kening dalam sujud panjang, Ustadz Baidowi hadir memberikan untaian nasihat dalam sesi kultum yang sarat makna.
Membuka ceramahnya, beliau melantunkan ayat suci Al-Baqarah: 183 dan Ali Imran: 102. Beliau mengingatkan bahwa kesempatan menghirup udara Ramadan adalah anugerah premium yang belum tentu terulang.
“Napas kita malam ini adalah titipan. Maka, jadikanlah tiap detik di bulan agung ini sebagai ajang perlombaan menjemput ampunan, rahmat, dan rida Ilahi,” tutur beliau dengan nada yang menggetarkan sanubari,
Ustadz Baidowi membedah filosofi puasa melampaui sekadar menahan haus dan lapar. Beliau menegaskan bahwa Ramadan adalah sebuah “laboratorium jiwa” untuk mencapai derajat la’allakum tattaqun.
- Pendidikan Batin: Melatih kesadaran bahwa kita senantiasa berada dalam radar pengawasan Allah (muraqabah).
- Integritas Diri: Mengasah kejujuran, kesabaran, dan kedisiplinan dalam mengelola syahwat.
- Menjaga Panca Indra: Mengingatkan agar pahala puasa tidak “menguap” sia-sia akibat lisan yang tak terjaga atau pandangan yang liar.
Beliau turut menyisipkan fragmen kehidupan Imam Syafi’i muda sebagai cermin bagi jamaah. Kisah tersebut menekankan bahwa ketakwaan sejati (khauf) adalah tetap teguh di jalan Allah, baik saat berada di tengah keramaian maupun dalam kesunyian yang paling sunyi.
Salah satu poin paling krusial dalam tausiyah tersebut adalah peringatan tentang fenomena “Muflis” atau orang yang pailit di akhirat. Ustadz Baidowi menyitir sabda Rasulullah SAW mengenai sosok yang kaya akan pahala ritual (shalat dan puasa), namun jatuh miskin di hadapan Allah.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Pahala mereka ludes tergerus untuk menebus kezaliman, fitnah, dan luka yang pernah ditorehkan kepada sesama manusia.
“Hubungan dengan Allah bisa diselesaikan dengan taubat nasuha, namun urusan dengan sesama manusia memerlukan kebesaran hati untuk saling memaafkan,” tegasnya. Beliau mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum rekonsiliasi sosial dan pembersihan diri dari penyakit hati.











