Menghadapi dinamika kehidupan modern yang seringkali membuat manusia kehilangan arah, Ustadz Paidi Fauzi menyampaikan pesan mendalam mengenai hakikat penciptaan manusia dalam khutbah Jumat di Masjid At-Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, Jumat (16/1/2026).
Dalam penyampaiannya, beliau mengajak jemaah untuk merefleksikan kembali tujuan keberadaan manusia di muka bumi. Mengutip prinsip filosofis dan membandingkannya dengan konsep Islam, Ustadz Paidi menegaskan bahwa manusia bukanlah produk kebetulan, melainkan makhluk yang diciptakan dengan hikmah luar biasa oleh Sang Pencipta.
Hakikat Penciptaan dan Visi Ibadah
Merujuk pada Al-Qur’an Surat Az-Zariyat ayat 56-58, Ustadz Paidi menjelaskan bahwa misi utama penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Namun, beliau memberikan catatan penting bagi mereka yang masih mempertanyakan mengapa Tuhan memerintahkan manusia menyembah-Nya.
“Ibadah itu sejatinya merupakan kebutuhan mutlak bagi manusia, bukan sekadar kewajiban belaka,” tegasnya di hadapan jemaah. Beliau menjelaskan bahwa Allah Maha Kaya dan Maha Kuasa; Dia tidak membutuhkan rezeki, makanan, atau pengabdian dari makhluk-Nya untuk menambah kemuliaan-Nya. Sebaliknya, manusialah yang membutuhkan ibadah sebagai kompas agar tidak kehilangan visi dan arah hidup.
Dua Syarat Diterimanya Amal
Lebih lanjut, Ustadz Paidi menjabarkan bahwa agar ibadah tidak menjadi sia-sia, terdapat dua syarat utama yang harus dipenuhi:
1. Ikhlas karena Allah: Menjadikan seluruh aktivitas hidup semata-mata mencari rida Allah SWT, sebagaimana diperintahkan untuk memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.
2. Sesuai Tuntunan Rasulullah: Ibadah harus dijalankan mengikuti contoh dan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam perkara baru yang diada-adakan dalam urusan agama (bid’ah) yang tidak memiliki landasan.
Pesan Kasih Sayang Sang Pencipta
Khutbah ditutup dengan sebuah pengingat yang menyentuh tentang betapa luasnya rahmat Allah. Meski manusia sering kali lalai, melakukan kesalahan, dan bersikap berani dalam kemaksiatan, Allah tetap membuka pintu ampunan seluas-luasnya.
“Allah berfirman bahwa jika kita kembali, Dia akan menerima. Jika kita berdoa, Dia akan mengabulkan. Dan jika kita sakit, Dia yang menyembuhkan,” tambahnya.
Ustadz Paidi mengajak seluruh jemaah untuk segera mengisi sisa usia dengan kegiatan yang bermanfaat sebelum maut menjemput. Menurutnya, kesadaran akan tiga poin utama—tujuan hidup untuk ibadah, ibadah sebagai kebutuhan, dan syarat sahnya ibadah—adalah kunci menuju kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.











