Pasuruan, 22 Januari 2026 – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, Ustadz Anang Abdul Malik kembali memberikan pencerahan dalam pengajian rutin Kamis malam di Masjid At-Taqwa, Jagalan. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan bahwa perintah Allah, terutama ibadah puasa, bukanlah beban, melainkan sebuah desain sempurna untuk kebahagiaan dan kesehatan manusia.
1. Puasa dan Mekanisme Autophagy: Pembersihan Sel Tubuh
Ustadz Anang menjelaskan bahwa perintah puasa memiliki dimensi medis yang sangat canggih. Beliau mengangkat fenomena Autophagy, sebuah penemuan ilmiah yang kini banyak dipraktikkan bahkan oleh masyarakat non-Muslim di dunia medis.
“Autophagy adalah kondisi di mana sel-sel tubuh yang sehat ‘memakan’ atau membersihkan sel-sel yang sudah mati dan sampah metabolisme dalam tubuh kita. Mekanisme ini berjalan paling efisien saat seseorang sedang berpuasa,” jelas Ustadz Anang.
Beliau menyayangkan jika ada umat Islam yang justru malas berpuasa, padahal secara sains, puasa adalah proses “detoksifikasi” alami yang menjaga fisik tetap bugar. “Allah mengatur manusia dengan sangat detail. Durasi satu bulan adalah waktu yang presisi untuk membersihkan residu penyakit dalam tubuh.”
2. Mengubah Mindset: Mengapa Harus Satu Bulan?
Selain kesehatan fisik, puasa berperan besar dalam transformasi mental atau psikis. Ustadz Anang mengutip prinsip-prinsip motivator dunia tentang perubahan karakter yang membutuhkan waktu konsisten antara 25 hingga 30 hari—durasi yang sama dengan bulan Ramadan.
Beliau mengilustrasikan hal ini dengan sebuah kisah inspiratif tentang seorang menantu dan mertua:
Konflik: Seorang menantu yang membenci mertuanya berniat meracuni sang mertua.
Syarat Perubahan: Seorang ahli psikologi (penjual obat) memberinya “obat” yang harus diberikan selama 30 hari, namun dengan syarat si menantu harus bersikap sangat baik dan lembut selama masa tersebut agar tidak dicurigai sebagai pembunuh.
Hasilnya: Di hari ke-30, kebencian sang menantu berubah menjadi cinta yang tulus karena ia terbiasa berbuat baik selama sebulan. Mertua pun berubah menjadi sangat sayang.
Pelajaran: Puasa Ramadan adalah “obat” dari Allah untuk mencuci karakter buruk manusia melalui pembiasaan selama 30 hari.
3. Al-Qur’an dan Eksaknya Ilmu Pengetahuan
Dalam penutupnya, Ustadz Anang mengajak jamaah untuk tidak memisahkan agama dengan ilmu pengetahuan (sains). Beliau mencontohkan bagaimana Al-Qur’an sudah menjelaskan tentang peredaran matahari dan bulan yang sangat presisi (eksak).
“Allah menciptakan matahari bersinar dan bulan bercahaya dengan garis edar yang pasti agar manusia bisa menghitung tahun dan waktu. Dari sinilah lahir ilmu astronomi dan fisika,” ungkap beliau. Beliau menegaskan bahwa Islam adalah agama yang sangat mendukung disiplin ilmu, baik kedokteran, psikologi, maupun sains, karena semuanya bersumber dari ayat-ayat Allah yang tercipta di alam semesta.








