Pasuruan, 24 Februari 2026 – Pelaksanaan sholat tarawih di Masjid Al-Kautsar malam ini berlangsung antusias dari para jamaah. Jamaah tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga antusias menyimak wejangan rohani dari Narasumber, Bapak Moh. Isnaini Yulad, S.Ag., M.Si., yang mengupas tuntas hikmah di balik bulan suci Ramadhan.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Isnaini mengajak jamaah untuk merenungkan kembali esensi dan hikmah di balik ibadah puasa yang sedang dijalani. Mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa, beliau menegaskan bahwa tujuan utama dari ibadah ini adalah untuk mencetak insan yang bertakwa.
“Puasa itu bukan sekadar menahan lapar dan dahaga,” ujar Ustadz Isnaini di hadapan jamaah. “Ada banyak sekali manfaat yang bisa kita petik, mulai dari kesehatan jasmani, mempererat silaturahmi saat sahur dan tarawih, hingga kebersamaan keluarga. Saking banyaknya manfaat, Rasulullah SAW bersabda bahwa seandainya umat tahu semua keutamaan di bulan Ramadhan, niscaya mereka akan berharap agar seluruh bulan dalam setahun adalah Ramadhan.”
Lebih lanjut, penceramah juga ini memaparkan secara spesifik tiga nilai fundamental yang diajarkan oleh puasa Ramadhan kepada umat manusia:
- Mengajarkan Kejujuran
Ustadz Isnaini menjelaskan bahwa puasa adalah latihan praktik kejujuran yang paling nyata. Seorang yang berpuasa memiliki kesempatan untuk berbuka secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang lain, namun ia menahannya karena kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengawasi (murāqabah). “Ini selaras dengan firman Allah bahwa Dia bersama kita di mana pun kita berada. Kesadaran inilah yang akan membentuk pribadi yang jujur dan tulus, yang merupakan inti dari ketakwaan,” imbuhnya. - Melatih Kesabaran
Proses menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, adalah sebuah bentuk pendidikan kesabaran. Ustadz Isnaini mengutip surat Ali Imran yang memerintahkan umat Islam untuk menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong. “Dengan sabar, kita tidak tergesa-gesa mencari hasil instan yang kerap menyebabkan malapraktik atau kesalahan. Puasa melatih kita untuk melalui setiap proses dengan hati yang tenang, sehingga kita meraih dua kebahagiaan: bahagia saat berbuka dan bahagia saat bertemu dengan Allah kelak.” - Mengurangi Kemelekatan Duniawi
Hal ketiga yang menjadi sorotan adalah kemampuan puasa dalam memotong rutinitas kemelekatan (al Wahn) terhadap dunia. Selama berpuasa, umat Islam belajar untuk melepas sejenak kebutuhan dasar seperti makan, minum, dan hubungan biologis yang merupakan rutinitas harian. “Ini penyakit ‘cinta dunia dan takut mati’. Kita terlalu melekat pada harta, jabatan, bahkan ego. Ketika mobil kita tergores, hati kita ikut terluka. Puasa mengajarkan kita untuk mengambil jeda, tidak terlalu terikat pada hal-hal sementara, dan fokus pada tujuan akhirat,” tegasnya.
Mengakhiri kultumnya, Moh. Isnaini Yulad berharap agar ketiga pelajaran berharga ini dapat diimplementasikan oleh seluruh jamaah dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya di bulan Ramadhan. “Mudah-mudahan apa yang kita lakukan di bulan penuh berkah ini menjadikan kita pribadi yang jujur, sabar, dan tidak terlalu terikat pada dunia,” tutupnya.











