Pasuruan, 23 Februari 2026 – Di tengah suasana khidmat malam Ramadhan, Masjid At-Taqwa Jagalan, Kota Pasuruan, menghadirkan renungan mendalam bagi para jamaah tarawih. Ustadz Anang Abdul Malik, dalam ceramah singkatnya (kultum), mengajak jamaah untuk mengubah perspektif dalam memandang ibadah: dari sekadar kewajiban yang memberatkan menjadi sebuah kebutuhan vital bagi diri sendiri.
Agama Bukan Beban, Melainkan Pembersih Jiwa
Mengawali ceramahnya, Ustadz Anang menekankan bahwa Allah SWT tidak pernah bermaksud menyulitkan hamba-Nya melalui syariat agama. Mengutip pesan dalam Al-Qur’an, beliau menjelaskan bahwa segala perintah, termasuk puasa Ramadhan, sejatinya berfungsi untuk menyucikan jiwa dan menyempurnakan nikmat yang telah diberikan.
“Allah tidak menjadikan agama ini sebagai kesulitan. Tujuannya adalah untuk membersihkan jiwa dan menyempurnakan nikmat agar kita bersyukur,” paparnya di hadapan jamaah.
Analogi Kesehatan: Puasa sebagai “Detoks” Sel
Secara menarik, Ustadz Anang mengaitkan perintah ibadah dengan fenomena kesehatan modern. Beliau mengibaratkan puasa sebagai proses self-intoxication (detoksifikasi) atau pembersihan sel-sel tubuh yang mati.
Beliau menyentil fenomena masyarakat saat ini yang seringkali baru bersemangat menjalankan pola hidup sehat atau “puasa kesehatan” demi raga, namun abai terhadap makna spiritual di balik perintah puasa itu sendiri. Ibadah, menurutnya, adalah “servis” rutin bagi mesin manusia yang seringkali tersandung oleh dosa dan kelalaian.
“Kekayaan” Tubuh yang Tak Terhitung
Salah satu poin paling menggugah dalam ceramah tersebut adalah saat Ustadz Anang membedah nilai ekonomi dari nikmat sehat yang diberikan Allah. Beliau memberikan ilustrasi nyata mengenai mahalnya biaya medis saat ini sebagai pengingat betapa kayanya manusia.
“Bayangkan, biaya untuk perbaikan 50 cm saluran pembuluh darah bisa mencapai 500 juta rupiah. Jika dalam tubuh kita ada sekitar 200 meter saluran, maka nilainya mencapai 200 miliar rupiah. Itu baru pembuluh darah, belum organ lainnya,” tegasnya.
Logika matematis ini digunakan untuk mengetuk kesadaran jamaah bahwa jika manusia mencoba menghitung nikmat Allah, bahkan dengan teknologi tercanggih pun, mereka tidak akan mampu.
Respons terhadap Panggilan Sang Pencipta
Sebagai penutup, Ustadz Anang mengajak jamaah untuk lebih responsif terhadap panggilan Allah, seperti azan dan perintah ibadah lainnya. Jika manusia bisa begitu patuh dan hati-hati saat dipanggil oleh pimpinan atau pejabat yang memberi hadiah materi, maka seharusnya manusia jauh lebih sigap saat dipanggil oleh Sang Pencipta yang telah memberikan fasilitas kehidupan yang tak ternilai harganya.
“Apapun aktivitas saleh yang kita lakukan, itu adalah linafsi—untuk kepentingan diri kita sendiri. Siapa yang berbuat baik, maka kebaikannya kembali kepada dirinya sendiri,” pungkasnya menutup kultum malam itu.












