Pasuruan, 21 Februari 2026 – Dunia dakwah Muhammadiyah Kota Pasuruan berduka. Seorang pejuang yang tak pernah mengenal lelah, H. Saiful Hadi, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pasuruan, telah berpulang ke rahmatullah. Kepergiannya yang tiba-tiba menyisakan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan seluruh jamaah yang mengenal langsung dedikasinya.
Di hari Rabu sore, tepat di awal bulan Ramadhan, saat umat Islam bersiap menyambut bulan suci, almarhum jatuh tak sadarkan diri di rumahnya. Padahal, beberapa saat sebelumnya, beliau masih sempat menghubungi sekretaris PDM Ustadz Nuryasin, untuk mengisi pengajian sore di Masjid Baitul Huda. Namun setelah itu tidak ada kontak lagi sampai diketemukan Mas Noval, putranya, di pagi hari Jumat di rumahnya yang tidak terkunci. Itulah potret dirinya: hingga detik-detik akhir hidup, tak pernah lelah memikirkan masjid dan dakwah, dan pikirannya masih tertuju pada kelancaran majelis ilmu.
Sejumlah rekan sejawat seperjuangan mengenang kepergiannya dan memberikan testimoni. H. Saiful Hadi bukanlah figur yang mencari popularitas. Rekan seperjuangannya, Dr. Hery Kustanto, mengabadikannya sebagai seorang “pejuang dalam sunyi” melalui sebuah puisi haru. Sepeninggal istrinya, ia menjalani hari dalam kesunyian, namun tak pernah mengurangi sedikit pun langkahnya dalam berdakwah. Rumah yang sepi tak membuat imannya surut; justru masjid dan majelis taklim menjadi saksi kegigihannya.
Kesaksian lain mengalir deras dari rekan-rekan seperjuangan PDPM periode 1990-2000 yang selalu kompak bersamanya. Kenangan akan sosoknya terukir dalam setiap kegiatan dakwah yang ia gagas dan ikuti. KH. Khobir, salah satu rekannya, mengenang suara lantang H. Saiful Hadi saat memimpin renungan malam dalam kegiatan Training Center Darul Arqom. “Suaranya masih bisa kita ingat, ‘kafiiir…’ sambil menunjuk dengan telunjuknya,” kenang KH. Khobir, menggambarkan bagaimana semangat beliau dalam menyampaikan pesan keagamaan membekas di hati setiap peserta.
Hingga dua minggu sebelum kepergiannya, beliau masih aktif hadir di Aula Muhammadiyah, mengumpulkan para ta’mir masjid dan dai untuk persiapan bulan Ramadhan 1447 H. Materi yang dibahas sangat detail, mulai dari persiapan kultum hingga susunan khatib untuk Shalat Idul Fitri. Ini menunjukkan bagaimana beliau berpikir jauh ke depan untuk kemaslahatan umat, tak pernah lelah mengawal dakwah Muhammadiyah melalui Majelis Tabligh.
Lebih dari sekadar jabatan, beliau adalah teladan dalam aksi nyata. Setiap hari pukul 10.00 WIB, H. Saiful Hadi tak pernah absen mengepel lantai Masjid Baitul Huda. Tindakan sederhana ini dilakukannya agar para jamaah nyaman beribadah. “Semoga amal beliau yang istiqomah ini menjadi saksi di akhirat dan menghapuskan dosa-dosanya,” ujar H.M. Baidowi penuh haru.
Di tengah kesibukannya, beliau juga seorang dai di era digital. Anang Susilo, sahabatnya, menyebutkan bahwa tidak ada hari tanpa kiriman artikel keagamaan dari H. Saiful Hadi. “Beliau mengajak jamaah untuk belajar agama, mengerti Islam, berjuang demi Islam, dan ikhlas demi Islam,” kenangnya. Pribadinya yang optimis, menyenangkan, dan pantang mengeluh membuat setiap orang betah berbincang dengannya.
Achmad Chobir dan beberapa sahabat lainnya masih membekas dengan senyum khas dan tawa beliau. Dalam pengajian Ahad Subuh di Masjid Al-Ukhwah, ia kerap datang agak terlambat dengan senyum khasnya lalu duduk di sisi barat. “Beberapa kali aku menoleh ke belakang saat menyampaikan hal yang agak lucu, dan kulihat Mas Saiful tertawa sambil menutup mulut karena ada pesan dariku untuk tidak tertawa keras. Namun, saat ngobrol santai setelahnya, tetap saja ada tawa lepasnya,” kenang Dr. Hery Kustanto.
Masih sangat banyak kisah dan kenangan bersama beliau yang tak bisa dituliskan, namun semuanya sepakat bahwa H. Saiful Hadi adalah pribadi yang tidak ada celah untuk disudzonkan. Segala amaliahnya adalah murni karena Allah. “Ya Allah, pertemukan dan kumpulkan kami semua kelak di surga-Mu yang paling indah bersama sahabat kami, H. Saiful Hadi,” doa salah seorang rekannya.
Dari HM Baidowi dan segenap sahabat, doa terus dipanjatkan, semoga Allah SWT memuliakan beliau, menggolongkannya ke dalam para syuhada pejuang agama Allah, dan memasukkannya ke dalam Surga Firdaus. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.
Selamat jalan, wahai pejuang gigih. Istirahatlah dari penatnya dunia yang penuh selisih. Engkau tidak lagi sendiri di sana. Ada jannah yang menanti, tempat segala lelah dan darmamu menjadi sirna, berbuah ridha Ilahi. Semoga muncul kader-kader penerus yang melanjutkan perjuanganmu.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un







