• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Quiet Confidence: Mengapa Orang yang Tenang Justru Paling Kuat Secara Mental

Marjoko oleh Marjoko
1 menit yang lalu
in Opini
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Di era media sosial yang serba bising, kepercayaan diri sering kali disalahartikan sebagai keberanian untuk tampil, pamer pencapaian, dan mencari pengakuan publik. Linimasa dipenuhi unggahan tentang prestasi, kebahagiaan, dan citra hidup sempurna. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, ada tipe individu yang justru bergerak dalam diam, tenang, tidak banyak bicara, tidak haus validasi, namun kehadirannya terasa kuat. Fenomena ini dikenal sebagai quiet confidence.

Quiet confidence bukan tentang menjadi pendiam atau menarik diri dari lingkungan sosial. Ini adalah bentuk kepercayaan diri yang matang dan stabil, yang tidak bergantung pada pengakuan eksternal. Orang dengan quiet confidence tidak perlu mengumumkan siapa diri mereka atau apa yang telah mereka capai. Mereka tahu nilainya sendiri, dan itu sudah cukup.

Kepercayaan Diri yang Datang dari Dalam

Dalam psikologi, quiet confidence berkaitan erat dengan konsep self-esteem yang sehat dan internal locus of control. Individu dengan locus of control internal meyakini bahwa kebahagiaan, keberhasilan, dan makna hidup mereka terutama ditentukan oleh pilihan serta usaha pribadi, bukan oleh penilaian orang lain.

Berbagai studi yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa individu dengan sumber kepercayaan diri internal cenderung lebih stabil secara emosional, lebih tahan terhadap tekanan sosial, dan tidak mudah goyah oleh kritik. Sebaliknya, mereka yang terlalu bergantung pada validasi eksternal sering kali mengalami fluktuasi emosi yang ekstrem, merasa “bernilai” saat dipuji, dan runtuh ketika diabaikan.

Related Post

Belajar dari “Agak Laen”: Film tentang Kegagalan yang Sukses Merajai Layar Lebar

22 Januari 2026

Konsekuensi Waktu, Mengapa Perubahan Tidak Bisa Ditunda

13 Januari 2026

Bukan Sekadar Lucu! Rahasia Pandji Pragiwaksono Bikin “Mens Rea” Meledak di Netflix

7 Januari 2026

Gagal Capai Resolusi Bukan Masalah, Justru Ini Rahasia Bertumbuh

31 Desember 2025

Ketergantungan semacam ini berisiko tinggi, terutama di era digital. Ketika kebahagiaan diserahkan pada likes, komentar, dan respons publik, kendali atas kesejahteraan mental pun berpindah ke tangan orang lain.

Dampak Psikologis Validasi Eksternal

Menurut laporan dari American Psychological Association, ketergantungan pada validasi sosial, terutama melalui media sosial, berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan, depresi, dan burnout. Remaja dan dewasa muda yang terus-menerus mencari pengakuan digital cenderung memiliki self-esteem yang lebih rapuh dan kesulitan membangun identitas diri yang autentik.

Masalah lainnya adalah hilangnya jati diri. Ketika seseorang hidup untuk memenuhi ekspektasi publik, mereka perlahan menjauh dari nilai dan tujuan pribadi. Hidup pun menjadi melelahkan, karena standar sosial selalu berubah dan tidak pernah benar-benar bisa dipuaskan.

Ciri-Ciri Quiet Confidence

Orang dengan quiet confidence umumnya memiliki beberapa karakteristik yang konsisten. Mereka nyaman dengan diri sendiri, termasuk dengan kelemahan yang dimiliki. Mereka tetap tenang di bawah tekanan, bukan karena tidak merasa cemas, tetapi karena mampu mengelola emosi dengan jernih. Mereka lebih memilih membuktikan kualitas lewat tindakan daripada kata-kata, dan tetap termotivasi meski tanpa sorotan atau pujian.

Yang paling mencolok, mereka tidak menjadikan pengakuan orang lain sebagai bahan bakar utama. Apresiasi boleh datang atau tidak, mereka tetap bergerak.

Membangun Quiet Confidence di Zaman Media Sosial

Kabar baiknya, quiet confidence bukan bakat bawaan. Ia dapat dipelajari dan dilatih. Prosesnya dimulai dari refleksi diri yang jujur: mengenali kelebihan, menerima kekurangan, serta memahami nilai dan tujuan pribadi. Penerimaan diri (self-acceptance) adalah fondasi utama dari kepercayaan diri yang tenang.

Langkah berikutnya adalah berhenti membandingkan diri dengan orang lain, terutama dengan realitas semu di media sosial. Apa yang ditampilkan di layar hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh. Membandingkan diri dengan ilusi hanya akan menggerus rasa cukup.

Self-validation juga menjadi kunci penting, belajar mengapresiasi diri sendiri tanpa menunggu pengakuan dari luar. Mengakui usaha, merayakan kemajuan kecil, dan memberi ruang untuk bangga pada diri sendiri adalah latihan sederhana yang berdampak besar.

Terakhir, membangun relasi yang autentik, hubungan yang tidak bergantung pada citra, status, atau popularitas, membantu seseorang tetap membumi dan jujur pada diri sendiri.

Tenang Bukan Berarti Lemah

Di tengah budaya pamer dan tekanan untuk selalu terlihat “berhasil”, quiet confidence hadir sebagai pengingat bahwa kekuatan sejati tidak selalu berisik. Kepercayaan diri yang paling kokoh justru lahir dari dalam, tidak perlu diumumkan, dan tidak mudah digoyahkan.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Apa yang orang lain pikirkan tentang saya?” dan mulai bertanya, “Apa yang saya pikirkan tentang diri saya sendiri?” Karena pada akhirnya, ketenangan batin dan rasa cukup tidak membutuhkan validasi siapa pun.

Quiet confidence bukan tentang menjadi sempurna. Ia tentang menjadi utuh, dan itu sudah lebih dari cukup.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: selfdevelopmentselfupdate
ShareTweetShare
Marjoko

Marjoko

Seorang pecinta tulisan, pengulik desain grafis, and Good Daddy in every universe.

Related Posts

Opini

Belajar dari “Agak Laen”: Film tentang Kegagalan yang Sukses Merajai Layar Lebar

oleh Marjoko
22 Januari 2026
Opini

Konsekuensi Waktu, Mengapa Perubahan Tidak Bisa Ditunda

oleh Marjoko
13 Januari 2026
Opini

Bukan Sekadar Lucu! Rahasia Pandji Pragiwaksono Bikin “Mens Rea” Meledak di Netflix

oleh Marjoko
7 Januari 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Peresmian dan Launching Gedung Baru SD MuCES: Takdir Baik yang Berikan Ruang Gerak Lebih Luas bagi Siswa

5 Januari 2026

Dua Siswa SD Al Kautsar Beserta Sekolah Yang Lain Terpilih Mewakili Kota Pasuruan dalam Tim Polisi Cilik

8 Januari 2026

TK ABA 6 Kota Pasuruan Sukses Gelar Kunjungan Transisi ke Sekolah Dasar Muhammadiyah

24 Januari 2026

Ketua PDM Kota Pasuruan Apresiasi, Berkah Fest 2025, Sebut Bukti Keberadaan Muhammadiyah Bisa Dirasakan Masyarakat

5 Januari 2026

Quiet Confidence: Mengapa Orang yang Tenang Justru Paling Kuat Secara Mental

3 Februari 2026
Kajian Ahad Pagi Masjid Al-Ukhuwah bersama Ustaz Baidowi

Kajian Ahad Pagi Ustaz Baidowi di Masjid Al-Ukhuwah: Tafsir Al-Baqarah Penciptaan Adam hingga Keutamaan Shalat Berjamaah

1 Februari 2026
Gebyar Al-Kautsar 2026

Gebyar Al Kautsar 2026, Panggung Kreativitas dan Prestasi Siswa SD Al Kautsar Kota Pasuruan

31 Januari 2026
Image IMM Pasuruan Raya

Menata dari Dalam: Babilas Dani Rahman Resmi Pimpin IMM Pasuruan Raya

29 Januari 2026

© 2025 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2025 PasMu - Media Pencerahan