Musyawarah Cabang IMM Pasuruan Raya seharusnya menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi kolektif terhadap perjalanan satu periode kepemimpinan yang telah dilalui. Acara ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang untuk melakukan pergantian struktur organisasi, tetapi juga sebagai sarana untuk mengevaluasi sejauh mana organisasi ini telah mengalami pertumbuhan yang signifikan—baik dalam hal pengembangan gagasan, proses kaderisasi, maupun kedewasaan dalam berorganisasi.
Dalam satu periode terakhir, perubahan dalam organisasi menunjukkan bahwa perkembangan struktur tidak selalu sejalan dengan peningkatan kualitas di dalamnya. Meskipun agenda terus dilanjutkan dan struktur organisasi tetap terisi, sering kali terasa ada kekurangan dalam komunikasi yang berkelanjutan dan kedalaman proses yang seharusnya ada. Dalam banyak kesempatan, interaksi antara pemimpin dan anggota seringkali bersifat formal, tanpa adanya ruang yang memadai untuk berdiskusi dan memahami kegelisahan serta kebutuhan yang ada di tingkat komisariat.
Ketika dinamika internal dalam suatu organisasi mulai menunjukkan tanda-tanda ketidaksehatan, sering kali perhatian tertuju kepada kesiapan dan kedewasaan kader yang dianggap masih kurang. Namun, perlu dipahami bahwa ketidakmatangan kader bukanlah masalah utama—ia justru dapat dipandang sebagai titik awal yang penuh potensi. Yang menjadi penentu keberhasilan adalah bagaimana proses pendampingan, pembinaan, dan keteladanan yang dijalankan oleh pimpinan dalam organisasi tersebut. Tanpa adanya pendekatan yang tepat, kaderisasi dapat dengan mudah tergelincir menjadi sekadar rutinitas belaka, yang akan menghambat proses pendewasaan dan pembentukan karakter yang diharapkan.
Tidak bisa dipungkiri, dalam perjalanan organisasi, semangat kolektif membutuhkan kehadiran yang konsisten. Kepemimpinan tidak cukup hanya kuat di awal, tetapi diuji oleh keberlanjutan peran di tengah proses. Ketika ritme kerja melemah dan kehadiran struktural tidak lagi terasa utuh, organisasi berjalan, tetapi tanpa arah yang jelas. Dalam kondisi seperti ini, konflik internal mudah tumbuh, dan gagasan sulit berkembang.
Musycab seharusnya menjadi ruang untuk menakar hal-hal tersebut secara jujur:
Apakah komunikasi telah dibangun secara dua arah?
Apakah kader merasa didampingi, atau sekadar digerakkan?
Apakah kepemimpinan hadir sebagai penguat proses, atau hanya sebagai penanda struktur?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar Musycab tidak berhenti pada laporan normatif dan peralihan jabatan, tetapi mampu melahirkan kesadaran baru tentang arti kepemimpinan dan kaderisasi. Sebab organisasi yang sehat bukanlah yang bebas konflik, melainkan yang mampu mengelola konflik menjadi pembelajaran.
Sebagai kader komisariat, harapan terhadap Musyawarah Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Pasuruan Raya bukan sekadar harapan biasa; di dalamnya terkandung keyakinan akan terjadinya titik balik yang signifikan. Musycab seharusnya menjadi momentum strategis untuk merawat komunikasi yang telah pudar, menghidupkan kembali ruang-ruang gagasan yang inovatif, dan memastikan bahwa proses kaderisasi tidak berjalan semata-mata sebagai tuntutan struktural, melainkan dilandasi oleh kesadaran kolektif yang solid di antara para kader.
Jika Musycab hanya dimaknai sebagai agenda formal, maka organisasi memang akan tetap berjalan. Namun berjalan saja tidak cukup, IMM Pasuruan Raya harus tetap bertumbuh. Dan pertumbuhan hanya mungkin terjadi ketika refleksi lebih diutamakan daripada pembenaran.








