Pasuruan, 24 Februari 2026 – Aura jingga pagi hari yang indah memenuhi Masjid Darul Arqom, Pasuruan. Diterjang hawa dingin yang sejuk, Ustadz Anang Abdul Malik justru membakar nurani jamaah melalui refleksinya. Beliau membawa pesan yang menggetarkan tentang sebuah kepastian, bahwa kelak, kita semua akan bertemu dengan penyesalan.
Dalam tausiyahnya yang disampaikan dengan nada tenang namun penuh daya getar, Ustadz Anang menegaskan bahwa penyesalan bukanlah monopoli mereka yang selama hidupnya bergelimang dosa dan maksiat. Di akhirat kelak, penyesalan adalah emosi universal yang akan dirasakan oleh setiap manusia tanpa terkecuali. Beliau membedah fenomena ini ke dalam dua perspektif yang saling melengkapi.
Pertama, bagi mereka yang selama di dunia hidup dalam keburukan, penyesalan sudah jelas bentuknya. Mereka akan menyesali setiap detik waktu yang terbuang sia-sia tanpa diisi dengan keimanan. Mereka akan meratapi setiap kemaksiatan yang pernah dilakukan dan setiap kesempatan untuk bertaubat yang dengan sengaja diabaikan ketika masih diberi napas panjang di dunia. Namun, poin menarik yang ditekankan oleh Ustadz Anang adalah tentang mereka yang selama ini dikenal sebagai orang baik. Orang shaleh sekalipun, menurut beliau, akan merasakan penyesalan di akhirat. Mengapa demikian? Karena ketika mereka menyaksikan betapa besar dan tak terbayangkannya ganjaran yang disediakan Allah di surga, secara otomatis mereka akan menyesali mengapa dahulu tidak berusaha menambah kualitas dan kuantitas amal ibadahnya. Mereka akan bergumam dalam hati, “Mengapa dulu saya tidak bisa lebih khusyuk dalam setiap sujud? Mengapa sedekah yang saya keluarkan tidak lebih banyak? Mengapa ibadah malam saya tidak lebih lama?”
Dari situ, Ustadz Anang mengajak seluruh jamaah untuk melakukan refleksi diri. Beliau mendorong agar rasa sesal yang pasti akan datang di akhirat itu “dipindahkan” ke masa sekarang. Jika seseorang menyesali kekurangannya di dunia sekarang, dalam bentuk taubat nasuha dan evaluasi diri yang tulus, maka penyesalan itu justru menjadi rahmat. Sebaliknya, jika penyesalan itu baru muncul saat ajal sudah tiba atau saat manusia telah dibangkitkan di Padang Mahsyar, maka penyesalan itu tidak lagi berguna dan hanya menjadi kerugian yang abadi. Dunia ini, tegasnya, adalah ladang tempat kita menanam. Tak ada seorang petani pun yang saat panen merasa puas sepenuhnya. Mereka yang gagal akan menyesal karena tidak menanam, sementara mereka yang berhasil pun akan menyesal karena tidak menanam lebih banyak lagi. Analogi ini menggambarkan bahwa kesadaran akan kekurangan diri harus terus dipupuk, karena kesempurnaan mutlak hanyalah milik Allah semata.
Kuliah subuh yang berlangsung sekitar 30 menit itu diakhiri dengan pesan kuat agar setiap individu tidak terlena dengan status “sudah menjadi orang baik”. Kedalaman spiritualitas harus terus dipupuk, keimanan harus terus diasah, dan amal saleh harus terus ditingkatkan. Tujuannya tidak lain agar penyesalan di kemudian hari tidak menjadi beban yang menyakitkan, melainkan hanya menjadi sebuah pengakuan tulus atas keagungan Allah yang memang tak terbatas. Suasana hening menyelimuti masjid saat jamaah merenungkan pesan tersebut, seolah angin pagi ikut membisikkan nasihat untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang masih tersisa.










